Arsip Blog

Purifikasi Interpretasi Teror Vs Jihad

Purifikasi Interpretasi Teror Vs Jihad di Masyarakat Kita

*Erny Ratnawati

Lembaran sejarah kembali dibuka. Kata teror tengah bergaung kembali setelah ia muncul dan dikenal pertama kali di masa revolusi prancis, diakhir abad ke -19. Pada mulanya, kata terorisme sendiri yang bermuasal dari Prancis, adalah sebutan untuk kebrutalan rezim revolusi Prancis yang membabi buta, memenggal 40.000 orang yang dituduhkan anti pemerintah dan kemudian diwariskan juga untuk menyebut tindakan anarki anti pemerintahan di Rusia. Hal inilah yang melekat kemudian bahwa terorisme diidentikkan dengan kekerasan dan anarki perlawanan.

Namun, tiba tiba di awal millennium ketiga, kata terror itu dialamatkan kepada umat Muslim. Mengapa ? Tragedi black Tuesday 11 September 2001, menjadi awal tuduhan itu dilontarkan. Runtuh dan luluh lantaknya nya dua gedung kembar symbol kedigdayaan Amerika Serikat, yakni WTC dan pentagon, telah menghentakkankan dunia. Hal ini ternyata dijadikan momen kesempatan emas bagi Amerika Serikat untuk melaunchingkan senjata ampuhnya untuk menghancurkan salah satu agama terbesar dimuka bumi. Mereka memoncongkan tuduhan pelaku penghancuran terebut kepada ISLAM. Dengan arogan kemudian Amerika Serikat memberi gelar didada umat muslim dengan sebutan “TERORIS”.

Semenjak itulah aksi aksi selanjutnya semakin gencar dilakukan. Santernya stigma negatif terhadap muslim sebagai otak terror, telah menyebar seantero jagat bahkan hingga saat ini. Gembar gembor media di negeri paman sam itu telah menggiring opini dunia, bahwa muslim lah biang onar. Hal ini berbuntut aksi sweeping terhadap muslim beserta penindasan muslim dibeberapa negara menjadi kian marak. Tidak berhenti disitu, perang tersebut merambah di berbagai lini. Baik perang dalam urusan militer, invasi terhadap negara negara, dan Ghozwul fikri (perang pemikiran) yang menyeret umat muslim untuk menjauh dari agamany. Media AS semakin gencar menyebarkan informasi tentang gambaran dan stigma bahwa islam itu kejam, ajaran islam militant, radikal tidak toleran, mengajarkan kekerasan dan sebagainya.

Hal ini tak pelak pula, telah menyebabkan adanya gelombang phobia terhadap Islam semakin menjadi. Pun, terjadi di negeri ini. Rentetan kasus bom, aksi terror dan berbagai tindak radikal lainnya, tak henti hentinya dialamatkan kepada kaum muslimin. Seakan lekat kepada islam, sebagai agama pengusung terorisme. Kekhasan penampilan muslim kadang menjadi phobia tersendiri bagi masyarakat kita. Katakanlah sekelas jenggot, jubah panjang, sorban, dan performance yang sedikit menampilkan wujud “keekstriman” seakan mendapt justifikasi dari masyrakat luas bahwasanya tampilan tersebut adalah representative dari pelaku terror atau yang berkaitan dengannya. Pondok pesantren pun dianggap menjadi benih pesemaian teroris. Jihad dianggap sebuah makar dan teror. Padahal keduanya adalah dua kubu yang sungguh jauh berbeda.

Dengan kesalahan anggapan ini, tentu citra Islam semakin tersudutkan. Hal ini tentu menjadi fenomena yang memprihatinkan bagi umat Islam. Indahnya Jihad Kita yang Sebenarnya Adakah yang harusnya diluruskan? Ada jawabnya. Menurut Abdul Halim Mahmud, sebagaimana dikutip oleh KH Ali Yafie (1999), jihad bisa dikategorikan menjadi empat macam, yaitu jihad al-harb (jihad ke medan perang), jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu), jihad al-usrah (jihad dalam keluarga), dan jihad al-mujtama’ (jihad dalam masyarakat). Dari kategori ini, jihad bukanlah sekadar perang, bahkan lebih dari itu, jihad justru merupakan sebuah konsekuensi keimanan atau religiusitas. Namun, jihad ke medan perang dalam islam bukanlah hal yang sembarangan. Sang sahabat terdekat Rosulullah, Abu bakar as-Sidiq mengatakan bahwa diantara etika berperang dalam islam diantaranya, Islam hanya memerangi kebathilan kemunkaran dan kekufuran. Islam melarang membunuh wanita,anak anak, orang tua, hewan dan merusak pepohonan, tidak berlebihan dan lain lain. Begitu indahnya aturan Islam dibandingkan dengan tindakan brutal Amerika dan Israel di tanah Al-Quds palestina yang tanpa ampun membantai ribuan muslim palestina, memborbardir rumah sakit, melakukan pelecehan terhadap wanita menembaki anak anak dan orangtua, bahkan hingga petugas medis sekalipun. Daya rusaknya pun hingga meratakan tanah tanpa sisa. Lalu sebenarnya siapa yang lebih layak yang disebut biang teroris? Peperangan dalam islam pun juga memiliki kaidah sendiri. Perang dibenarkan hanya untuk 2 tujuan yaitu perlawanan terhadap agresi atau permusuhan dan membela dakwah dan kebebasan beragama (Muh,Jamaludin Ali Mahcfudz:1976). Hal ini diperkuat dengan salah satu firman Allah Telah diijinkan berperang bagi orang orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah diperangi karena sesunnguhnya mereka telah dianiaya.sesunnguhnya Allah benar benar benar maha kuasa menolong mereka itu.(Q.S. Al-Hajj :39) Lebih dari itu, Islam menetapkan aturan main untuk berjihad dalam arti perang berupa batasan untuk tidak memerangi anak-anak, wanita, dan orang jompo, sebab mereka adalah kaum lemah yang tidak pantas untuk menjadi korban, sehingga mereka harus dilindungi. Aturan yang sungguh mulia ini Allah tetapkan dalam (QS. Al-Baqarah/2: 190): “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas Kembali mengurai catatan sejarah peradaban islam yang dibangun dengan gemilang oleh generasi generasi terbaik yakni para sahabat rosul di awal awal hijrah akan mengingatkan kita pada betapa Islam adalah agama yang sangat santun dan islam adalah agama yang membawa perdamaian dan rahmat bagi semesta alam serta tidak pernah mengajarkan kebatilan dalam bentuk apapun Islam bahkan menggoreskan kisah spektakuler, lewat sahabat yang dijuluki gudang ilmu Ali bin Abi tholib, yang urung menghantamkan pedang bermata duanya keleher musuh hanya karena si musuh yang jatuh tersungkur meludah pada wajah Ali. Namun, Ali tidak membunuhnya karena takut niatnya melenceng bukan lagi karena Allah, tapi karena sekedar melampiaskan kemarahan sekejapnya saja. Kisah Muslim bin aqil pula patut disimak. Muslim bin aqil sebenarnya bisa saja membunuh ubaidillah bin ziyad, gubernur kuffah yang mengambil keputusan untuk membunuhi muslim, dan ketika sang gubernur zalim sedang terjebak di rumah pendukung imam husain, dan kesempatan untuk membunuh gubernur itu itu ada, tapi muslim bin aqil urung melakukannya karena ia teringat sabda nabi “Iman menghalangi pembunuhan yang licik dan mukmin tidak kan akan membunuh seseoorang dengan licik”.

Demikianlah gambaran begitu Islam sangat menjunjung nilai kemanusiaan dan perdamaian. Dan pada akhirnya mengembalikan lagi izzah umat islam, adalah sebuah amanah yang harus kita tunaikan. Menjadi tanggung jawab kita sebagai umat muslim yang mengakui akan mengikuti genderang cinta ini, cintanya para pejuang, cinta untuk Al-Islam, cinta yang telah dinisbatkan kepada Sang penggengam kehidupan. Cinta yang telah melahirkan ribuan jundi Palestina ber`intifadhoh` melempar batu di jalan jalan, yang mengobarkan semangat mujahidin afghan ditengah teriknya padang pasir dan bom bom berdentuman. Saatnya meluruskan kembali pemahaman rakyat negeri ini dengan sebenar benarnya, agar syak (prasangka) yang terjadi bahkan keraguan yang menggelayuti umat islam akan agamanya sendiri bisa ditepiskan jauh jauh. Menggaungkan kembali indahnya Islam yang begitu dan mulia menjadi salah satu carannya. Masyarakat kita terlanjur terset-up berfikiran buruk terhadap makna jihad dan Islam. Oleh karena itu, banyak yang perlu difahamkan akan kebenaran yang sesungguhnya. Dan itu adalah tanggung jawab kita bersama.

Dan katakanlah yang benar telah datang dan kebatilan telah lenyap, ”sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap”(Q.S Al-Israa`:81) Wawllahu `alam bisshowab

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.