Arsip Blog
Meniti Proses di Jalan Sukses
Meniti Proses di Jalan Sukses
*Erny Ratnawati
Kebanyakan orang akan jenuh dengan kegagalan yang menimpanya. Gagal lagi, gagal lagi, kilahnya. Banyak mereka yang cenderung mengakhiri actionnya karena beranggapan ia telah gagal untuk selama selamanya. Demikian pula yang sering menimpa umumnya pada kita.
Tentang hal itu, marilah sejenak membuka lembaran sejarah. Merenung sejenak, ketika memutar putaran waktu berapa abad lalu dan kita berdiri di depan seorang Ilmuwan gigih bernama Thomas A Edison. Ketika pemuda tuli ini, memutuskan untuk tetap melanjutkan penelitiannya, dia tak hirau tentang apa celoteh kanan kirinya. Ratusan project nya gagal. Idenya pun dianggap gila. Berhentikah ia? Bisa kita bayangkan jika ia memutuskan berhenti dari percobaanya yang ke 999 sekian ratus tahun lalu itu, tentu penemuan dahsyat nya tentang bola lampu mungkin tak jadi tercipta. Karena ternyata percobaanya yang Ke 1000 lah yang menghantarkan temuan revolusioner sepanjang sejarah tersebut berhasil dicoba. Hal ini akan mengingatkan kita pula pada kisah sang pemecah batu. Sang pemecah batu, ternyata harus cukup memilin kesabaran ketika pukulan pukulannya diawal tak membuat batu yang sekeras baja itu terlihat bergeming. Pukulan demi pukulan tetap juga tak bergeming. Namun, ternyata dipukulan ke 100, batu itu akhirnya bisa pecah berkeping keping. Kekuatan dari pukulan pertama itu ternyata terakumulasi hingga pukulan ke 100, dan ternyata membuat batu akhirnya hancur lebur.
Demikian dari sanakita belajar. Bahwasanya memang kesuksesan berbanding linier dengan tingkat kegigihan dalam beproses hingga ke titik akhir. Sehingga dalam prose situ, kegagalan bukanlah lagi sebuah ancaman yang mengerikan. Karena kegagalan adalah bagian dari berproses. Kegigihan usahalah yang akan menjadi kunci pembuka menaiki tangga sukses berikutnya. Mereka yang gigih bertahan, bisa jadi sudah tak terasa ketika satu persatu impiannya terwujud. Peluhnya terbayar lunas dengan hasil yang terkadang unpredictable. Tak disangka, tak dikira. Begitulah Maha adil Allah telah menggoreskan sunatullahnya. Sebuah ketentuan bahwa mereka yang menanam mereka pula akan menuai. Usaha manusia tahap demi tahap yang berkesinambungan dengan penuh semangat tanpa patah arang tentu takkan tersiakan.
Mengecap ranum kesuksesan yang beroleh dari dari proses panjang nan berletih letih tentu akan sangat manis dirasa. Jalan sejati kesuksesan memang butuh itu nampaknya. Betapa banyak kita disadarkan, para pemburu kesuksesan versi shortcut ( jalan pintas-red) akan dibuat gigit jari karena masanya di puncak sukses terkadang hanya berkisar umur jagung. Ya, pendek sekali. Se pendek jangkauanya untuk merasai perjalanan menuju kesuksesan.
Betapa banyak pula mereka yang rajin mengikuti seminar menuju sukses, namun karena sibuk ingin bercepat cepat mendapat hasil, justru tersibukkan dengan panjangnya angan angan. Proses yang begitu tertera indah seringkali terlupakan. Seringkali pula langkah ke 99 ditinggalkan karena tak sabar mencapai tujuan. Padahal gerbang sukses kian mendekat rapat. Bukannya bayi yang baru lahir, tak langsung bisa berdiri? tapi ia harus belajar terlentang, tengkurap, merangkak dulu baru bisa berdiri? Demikian analogi yang akan mengingatkan kita bahwasanya di jejak jejak gemilang itu ada jalan panjang yang harus dilalui setapak demi setapak, sedepa semi sedepa dan sehasta demi sehasta.
Hingga saya mampu sedikit menyimpulkan bahwasanya sukses adalah formula yang diramu dari keyakinan dan ikhtiar yang pasti, kesabaran diri dan kesungguhan langkah tak kenal henti. Sukses adalah bonus dari proses rangkaian kegigihan nan kentara, peluhnya raga dan kuatnya doa yang terkolerasi secara maksimal.
Selain itu, bagi saya bagaimanapun juga kesuksesan adalah langkah yang disengaja. Ia bermula dari keinginan yang tercipta berkombinasi dengan ikhtiar yang nyata. Redup remang semangat memang kadangkala menghampiri. Namun, pancangan komitmen ’menyengaja untuk sukses ’ di awal akan membuat kita tetap terjaga. Hidup kita terlalu indah, jika kita tak menyengaja menjadi apa apa. Usaha manusia untuk mencapainya adalah sabar melalui tahap demi tahap yang berkesinambungan dengan penuh semangat tanpa patah arang. Mempercayai bawah kesuksesan adalah takdir yang dituliskan memang sah sah saja. Namun, bukankah Allah tidak mengubah nasib seseorang kecuali ia sendiri yang mengubahnya?
Adapun ketika cercahan kesuksesan sudah ditangan, hendaknya manusia sadar diri. Kesuksesan adalah ujian bagi penerimanya. Sebagian mereka yang merasa di ambang sukses, terkadang alfa dan terlupa. Bahwa setitik sukses yang diterima tak sadar sering memunculkan ego diri. Merasa bahwa rentetan kesuksesan adalah sekedar hasil payah dirinya sendiri. Melupakan tangan yang menakdirkan segala ketentuan. Tuhan. Begitu tabiat manusia, mengingati Tuhan ketika terdesak, namun melupakannya ketika senang.
Oleh karena itu, sepantasnya selaksa rasa syukur yang mendalam atas nikmatNya senantiasa kita gaungkan. Bukan justru kufur setelah limpahan nikmat sukses deras mengucur. Hendaknya setiap dari kita selalu mengingati diri akan limpahan nikmat dan karunia Nya.
Dan pada akhirnya, kesukesan adalah setera kata dalam catatan kehidupan manusia. Seperti layaknya manusia akan menera fitahnya ketika ia harus digilirkan pada dua roda kehidupan. Siklus senang dan sukar akan senantiasa istiqomah berjalan. Mereka datang untuk menguji tingkat keimanan seseorang. Kelak hingga sampai dimana ia mampu untuk bertahan berjalan. Demikian juga sukses pun adalah riak ujian itu. Kita akan diuji tentang sejauh mana kita mampu mensyukuri tiap kepingan kenikmatan yang telah Allah azza wa jalla anugrahkan.
Wawwlahu ‘alam bi sshowab

