Arsip Blog
Mahasiswa Turunlah Ke Koran
Diikutkan dalam LOMBA CONFESS 2011 STAN
Mahasiswa Turunlah Ke Koran
Menilik perkembangan koran sebagai produk media massa yang melesat pesat di beberapa dasawarsa terakhir , akan menggiring kita untuk berkesimpulan bahwa koran adalah salah satu corong media yang bertengger eksis dari masa ke masa. Koran telah berhasil memainkan peran sebagai connector atas aliran transfer informasi dan berita kepada khalayak luas dalam versi media cetak. Hal ini, dibuktikan dengan keterterimaan masyarakat akan koran semakin meluas, seiring kehausan masyarakat akan informasi. Merebaknya wahana online- pun ternyata tak cukup mengendurkan eksistensi media yang satu ini, untuk digantikan perannya sebagai corong informasi. Daya jangkau media ini menembus lapisan berbagai strata. Begitu mudah pula didapatkan dalam kemasan harga yang cukup terjangkau berbagai kalangan dan profesi. Tak ayal, koran menjadi mediamassa yang diapresiasi masyarakat sebagai media yang merakyat.
Seiring gaungnya yang tetap kentara dari masa ke masa, Koran semakin berkembang tak lagi menjadi sajian informasi yang monoton dan statis. Ragam isian koran pun kian hari semakin berona. Menelusur ke belantara multi tema. Bentuk tampilan, juga semakin cantik. Hingga menuntut para layouternya untuk memainkan grafis yang tak lagi biasa. Perkembangan yang lain yang perlu ditilik juga adalah tulisan koran sekarang tak melulu dari gulatan pena sang wartawan saja. Sekarang, hampir disemua surat kabar, akan ditemukan space tulisan teruntuk kontributor penulis dari luar. Gayung bersambut, kesediaan surat kabar untuk meluangkan space kepada pembacanya untuk dapat mengguratkan tulisan, ternyata cukup bersambut manis. Terbukti di sudut sudut meja redaksi , akan dapat ditemukan banyak tumpukan kiriman artikel yang siap untuk diseleksi .
Namun, yang menarik adalah dari sekian para kontributor tersebut, nampaknya nama mahasiswa belum begitu memberi warna. Entah factor keberanian , kemauan atau apa yang membuat hanya terhitung sekian persen dari mereka yang telah berani mengkoarkan opininya di lembaran lembaran halamansuratkabar. Menyandang status sebagai strata tertinggi golongan kaum pelajar yang sering disebut sebagai sosok intelek, tajam dan kritis, tentu hal ini patut dipertanyakan.
Mahasiswa dan Beropini di Koran
Ketika bicara mahasiswa, maka kemafhuman atas predikat `maha ` yang bertengger di kata depan sebelum “siswa” tentu memiliki implikasi makna tersendiri. Mahasiswa disebut sebut sebagai jenjang teratas dari siswa- (kaum terpelajar red). Stigma mahsiswa yang lekat dengan sebutan sebagai kaum intelektual pun sudah tak lagi menjadi sebuah diksi yang asing di telinga.
Namun, sayangnya euforia mahasiswa untuk menonjolkan sisi intelektualitas terkadang oleh sebagian masyarakat masih dianggap sebelah mata. Alih alih demi penajamanan kekritisan, aksi turun ke jalan yang kerap dilakukan mahasiswa justru sering dipandang masyarakat hanya sebagai simbolisasi mencuatnya idealisme belaka. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwasanya aksi aksi yang gencar dilakukan hendaknya diimbangi pula dengan adanya melakukan suatu bentuk kekritisan yang lain. Bentuk penajaman kekritisan ini dapat dituangkan lewat menggoreskan tulisan di media. Sebagai kaum yang bercover highly educated dan dianggap memiliki daya nalar kekritisan yang tinggi seharusnya mahasiswa memiliki kemampuan untuk mampu meramu gagasan dalam bentuk opini di media. Opini yang dibesut diharapkan menjadi suatu pemikiran yang rekonstruktif dan solutif terhadap permasalahan seputar bangsa. Sehingga goal nyata itu dapat dilihat didepan mata. Mahasiswa akan menjadi sosok yang dapat memberikan sumbangsih masyrakat baik dari segi pemikiran maupun actionnya
Lewat solusi- solusi yang ditawarkan, mahasiswa diharapkan mampu berkiprah menjadi agen perubahan yang sebenarnya. Tidak hanya sekedar symbol dan label belaka. Selain itu, dipundak mereka juga disematkan sebuah asa untuk menjadi agen solusi perbaikan. Secara moralitas, masyarakat memandang mahasiswa adalah sosok yang mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka mempunyai latar belakang sebagai kaum intelektual, dimana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah hati. Sebuah kejujuran dan kejernihan itulah yang ditunggu bangsa ini untuk melahirkan gelora para Sukarno muda di jamannya. Berani menyuarakan kritis untuk perbaikan dan gagasan untuk perubahan.
Sekali lagi, mahasiswa sebagai generasi intelektual akan dihargai eksistensinya dengan kualitas intelektualnya pula. Bangsa ini tengah menanti solusi- solusi dan gagasan brilian dari anak bangsanya . Kalau turun kejalan, sudah seringkali dilakukan. Nampaknya turun ke koran menjadi salah satu pilihan disana untuk dilakukan pula.
Koran sebagai media yang tak lekang zaman, akan tetap memainkan peran sebagai motor yang lincah nan gesit untuk menyuarakan informasi dan melebarkan sayap wawasan masyarakat. Dan hendaknya mahasiswa dapat menelisik peluang ini untuk berkontribusi disana. Mengemas opini menjadi satu dari sekian caranya.
Dan sekarang, Mahasiswa turunlah ke Koran!
