Arsip Blog
Istimewanya Shadaqah
Istimewanya Shadaqah
*Erny Ratnawati
Di dalam Al- Qur;an kata shadaqah setidaknya diulang sebanyak 43 kali dengan beberapa istilah berbeda yang menunjukkan makna serupa. Hal ini dapat diartikan bahwa perintah shadaqah bukanlah sekedar perintah beramal biasa. Bahkan, Allah menaruh perhatian yang besar pada perintah ini dalam kitab sucinya dengan berbagai macam penekanan. Mulai dari perintah bershadaqah (QS At-Taubah{9}:60), janji Allah (QS Al-Baqoroh{2}:274), hingga orang orang yang berhak menerima shadaqah (QS Al-Baqoroh{2}:215). Hal tersebut diatas menunjukkan bahwa shadaqah menempati posisi yang utama dan istimewa.
Disamping itu, Allah juga menggambarkan keutamaan pahala sedekah dengan perhitungan yang cerdas luar biasa. Dan termaktub dalam (QS Al-Baqoroh{2}:261). Dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa pahala shadaqah itu akan dilipatgandakan menjadi 700 kali. Hitungan itu tenyata tak sekedar berhitung ala matematis dunia. Menurut kebiasaan dari penggunaan kata tujuh yang terdapat dalam Alquran, kata 700 pada ayat tersebut bukanlah sekedar menunjukkan makna sebuah bilangan antara 699 dan 701. Melainkan menunjukkan ungkapan atas banyaknya balasan yang akan diperoleh bagi siapa saja yang gemar shadaqah.
Begitu dahsyatnya shadaqah, hingga Allah juga menggambarkan didalam Al-Qur’an bahwasanya kelak diyaumul hisab, akan muncul golongan orang orang yang merasakan penyesalan, dan memohon agar ditangguhkan ajalnya demi untuk bisa mengulurkan shadaqah di dunia (QS Al-Munafiqun{63}:10) .
Selain daripada itu, shadaqah ternyata menjadi salah satu sarana Allah menyelamatkan seorang hamba dari bencana, dan dari perihnya meregang nyawa. Seperti hadist nabi yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin malik.r.a, Rosulullah SAW bersabda ”Sesunngguhnya shadaqah itu meredam murka Allah dan menghindarkan mati dalam keadaaan buruk (su`ul khotimah )”
Sehingga tak mengherankan jika generasi generasi terbaik semasa Rosulullah, sangat bersemangat menggoreskan kisah kisah kedermawanan yang luar biasa. Rosululullah Muhammad SAW sendiripun menjadi teladan sosok paling dermawan sepanjang sejarah. Beliau selalu mendahulukan orang yang membutuhkan. Tidak ada seorangpun yang meminta kepada beliau, melainkan beliau pasti akan memberinya baik sedikit atau banyak. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya , suatu saat beliau bersegera beranjak dari tempat sholatnya, karena teringat sebatang emas yang masih tersimpan dirumahnya, dan belum dishadaqahkan. Sejarah juga mencatat kedermawanan para sahabat. Abu bakar As-sidiq rela menginfakkan seluruh hartanya tanpa sisa, Utsman membeli sebuah sumur untuk keperluan ratusan kaum muslimin, Ibnu Umar tidak bersedia makan, kecuali bersamanya ada anak anak yatim, Fatimah dan Ali terbiasa meninggalkan sesuatu yang disukainya untuk dishadaqahkan kepada orang lain dan juga sederet kedermawanan para sahabat agung yang lain. Mereka menjadikan tangannya begitu ringan terulur untuk berderma. Kisah mereka semoga menjadi inspirasi bagi kita untuk menjadi insan yang ringan untuk menyedekahkan harta kita di jalan-Nya.
