Arsip Blog
Sekelumit Kisah Sang Nabi
Pemuda Bernama Muhammad
dan Kejayaan yang Mengagumkan
sejarah mencatatkan tinta emas Sang Muhammad dan kemuliaan risalahnya yang tiada bandingnya.
Muhammad dikenal sebagai seorang nabi dan rosul, negarawan, pemimpin spiritual, guru dan pribadi yang luar biasa. Di awal kiprahnya, Muhammad muda telah menyandang gelar `Al-Amin` yang artinya terpercaya. Gelar itu adalah gelar yang belum pernah diberikan kepada orang sebelum muhammad dan bahkan tak diberikan lagi sesudah Muhammad di kalangan bangsa arab Mekkah. Sebuah gelar prestige yang tinggi akan sebuah inside value seorang pemuda yang sungguh langka pada zamannya. Kepribadiannya yang sangat jujur, tidak pernah berbohong dan sangat memelihara amanat yg diberikan kepadanya cukup membuatnya memiliki ruang nama sebagai seorang pemuda yang sangat membanggakan dari segi akhlaq di jajaran bangsa Mekkah kala itu. Sungguh sebuah ironi melihat pemuda ini ternyata besar di tengah hiruk pikuk kehidupan jahiliyah yang teramat pekat dan seakan-akan jauh dari nilai luhur peradaban. Muhammad muda melenggang tampil di tengah kaum arab yang masih buta bukan dengan sorot mata keangkuhan akan nasabnya dari garis Bani Muthalib yang dipandang mulia, tapi Muhammad membawa kemuliannya akhlaknya. Menarik memang , Muhammad untuk pertama kali menaklukan hati bangsa Arab Mekkah atas kejayaannya sebagai seorang pribadi.
Meski demikian, sejatinya seorang Muhammad merasa gelisah dengan kondisi bangsa Arab saat itu yang carut marut. Mereka lebih memperhatikan tentang kegemaran mereka menyembah berhala yang terbuat dari benda mati yg mereka buat sendiri atau dari bahan makanan lalu mereka sembah seakan-akan berhala atau patung itu sangat kuat atau berpengaruh bagi mereka. Betapa jauh mereka dari sifat manusia yang seharusnya. Mereka adalah kaum yang tidak menggunakan akal pikiran dalam kehidupan mereka, Hidup sekedar makan, minum, berdagang, kawin, dan menyembah berhala. Begitu gelap dan purbanya kehidupan mereka pada masa itu .
Menjadi seorang Rosul pilihan sekaligus nabi akhiruzamaan, tentu tak terfikirkan oleh seorang Muhammad, sebelum Allah menurunkan wahyunya lewat malaikat Jibril di Gua Hiro. Meski semasa kecilnya pendeta Nashoro, Waroqoh Bin Naufal sudah dapat melihat tanda tanda kenabian itu pada diri Muhammad. Sang pendeta percaya pada berita dari Injil bahwa akan datang seorang nabi setelah Isa yang bernama “Ahmad” nabi inilah yang menjadi pamungkas dari para nabi sebelumnya, sekaligus penyempurna misi ketauhidan.
Muhammad diusianya yang ke 4O tahun menerima risalah kenabian. Diakui memang, bukan pekerjaan yang ringan di pundak seorang Muhammad. Sebuah misi besar untuk menjadi jalan terang bagi kaum yang bergelimang dengan kebodohan itu menuju jalan kerahmatan. Tidak hanya itu Bahkan risalahnya juga untuk seluruh alam. Islam datang sebagai dinul rahmata lil `alamiin (agama rahmat bagi seluruh alam).
Bercerita tentang bagiamana pemuda ini mengawal kejayaan misi tauhidnya. Prinsip uswah (keteladanan) menjadi iconnya. Menelusuri kisahnya di Shiroh nabawiyah akan membuat kita terkesima. Bagaimana pemuda tangguh ini bukanlah sekedar teori yang berjalan. Ia mengimplementasikan konsep-konsep akhlak mulia dari diin-nya yang mungkin sebagian orang akan mengatakannya sebagai teoritis belaka. Muhammad menjadi figur yang konkret yang dapat disentuh dengan tangan, dan dapat dilihat dengan mata kepala. Seorang Muhammad adalah orang yang pertama kali melakukan hal yang disampaikannya kepada umatnya. Muhammad berhasil menginternalisasikan pemikiran – pemikiran Islam dalam kepribadian manusia, mentransformasikan iman mereka kepada Allah dalam wujud sikap, tingkah laku, dan aksi nyata.
Kejayaan Rosululullah tak lepas dari kemuliaan akhlaknya. Rasullulah saw menempati posisi tertinggi sebagai penata akhlak. Bahkan Allah Swt memberikan sebutan ini secara langsung kepada beliau,
“Sesungguhnya engkau benar –benar memiliki akhlak yang agung,” (QS- al Qalam: 4) Dalam hadits Baihaqi, dijelaskan bahwa Rasullulah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Aisyah pun memberikan kesaksian bahwa akhlak beliau adalah Al’Quran, sehingga disebut sebagai The Living Qur’an.
Kejayaan Muhammad tak berhenti pada dirinya sendiri. Muhammmad sukses untuk membimbing `sekolah` nya. Ya, dari rahim sekolah Muhammad telah lahir sosok manusia yang terasa sulit dicari lagi setelahnya. Muhammad berhasil membangun sebuah kecerdasan emosional yang menurut para pakar intelegence adalah kemampun urgen seorang tipe pemimpin sejati. Beliau mewariskan nilai nilai luhur nya bukan diatas lembaran kertas, melainkan dengan cahaya dalam kepingan hati sehingga mungkin saja nilai itu kasat mata, tapi sejatinya benar benar merasuk ke relung jiwa.
Lihat saja seorang Abu Bakar yang membenarkan perintah sholat pasca isro mi`roj ketika orang lain mendustakan dan bahkan menganggap Muhammad seorang yang kurang waras. Bahkan kesetiaan seorang Abubakar menemani sang Rosul di Gua Tsur, saat dikejar kaum kuffar untuk dibunuh diabadikan dalam Al-Qur`anul Karim. Kisah menarik yang lain ditorehkan oleh sahabat Umar Ibnu Al-Khottob. Amirul Mukminin ini memikul karung gandum dipundaknya dan diantarknnya ke rumah- rumah rakyatnya yang papa dengan mengendap endap di tengah kegelapan malam agar tak seorangpun tahu aksinya. Sang dermawan, Ustman Bin Affan, rela mendermakan bahkan hampir seluruh hartanya demi bekal kemajuan Islam. Bahkan sejarah mencatatkan cerita seorang budak belian hitam legam hasil didikan Muhammad bernama Bilal Bin Robbah sebagai sosok gigih yang kuat meregang nyawa bertahan di bawah tindihan batu nan besar dan ditengah teriknya padang pasir, demi mempertahanakan ketauhidannya.Selain itu, keluarga dan sahabat sahabatnya yang lain menjadi hasil didikan nyata seorang guru bernama Muhammad.
23 tahun dalam periode Mekkah dan Madinah dalam mengemban misi ketauhidan tentu bukan hal yang mudah bagi seorang Muhammad. Berdamai dengan bangsa jahiliyah dengan ajaran tauhid yang dibawanya saat itu bak menapak diatas duri. Berbagai reaksi perlawanan, intimidasi bahkan menuai siksaan kerap kali terjadi. Hingga pada akhirnya kemenangan di tangan kaum muslimin dengan detik kemenangan yang mendebarkan dan mengagumkan.
Simaklah bagaimana kemenangan kaum muslimin 14 abad lalu yang menjadi saksi sebuah kisah revolusioner kejayaan umat Islam dibawah bendera Muhammad dengan ajaran tauhidnya. Sebuah penaklukan yang sungguh belum ada yang menyamainya bahkan sampai sekarang. Fathul Makkah, kisah monumental ini membuat decak kagum yang luar biasa sepanjang zaman.Tentu saja sebuah penaklukan akbar kita Mekkah. Bisa dibayangakan bagaimana ekspresi Abu Sufyan, dedengkot kaum kuffar Mekkah beserta pengikutnya yang menggigil ketakutan atas gelombang pasukan muslimin yang menduduki kota Mekkah. Mereka sangat khawatir Muhammad dan pasukannnya akan melakukan aksi balas dendam terhadap kekejian yang pernah mereka lakukan terhadap Muhammad dan kaum muslimin selama hampir 23 tahun. Para kaum kufffar bersembunyi di balik bilik rumahnya, sembari menahan ketakutan yang luar biasa. Dalam suasana yang mencekam itu suara lantang seorang Muhammad Bin Abdullah menggema
“ Tidak ada dendam dan kebencian di hati kita semua. Kalian musuh musuh Islam silakan pergi dan bebas kemanapun kalian mau, karena kalian sudah kami maafkan. Hari ini barangsiapa yang masuk kerumah Abu Sufyan. Maka akan aman,…..”
Penaklukan tersebut dilakukan dengan penuh kedamaian, tanpa sedikitpun mengangkat senjata dan bahkan dengan tanpa kekerasan sama sekali. Subhanallah…sekali lagi inilah kemenangan dan kejayaan sejati.
Michael Hart seorang penulis non muslim dengan bukunya “The Most Influence People In The World” dengan sangat objektif menuliskan nama Muhammad SAW di urutan pertama tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah dunia. Demikian kutipan Michael Hart
“ Muhamad adalah satu satunya pemimpin dunia yang sukses sebagai personal, negarawan sekaligus pemimpin spiritual yang agung. Hal itu yang membuat pilihan pertama sangat layak jatuh kepadanya”
Sebuah kutipan Bernard Shaw , filsuf inggris dan seorang orientalis yang jatuh berlutut mengakui Muhammad dan ajaran yang dibawanya
“ Agama yang dibawa Muhammad sungguh merupakan tolak ukur mulia bagi perekembangan sejarah selanjutnya.Islam lah satu satunya agama yang memiliki kekuasaan terhadap fase fase kehidupan yang berbeda. Sepatutnya Muhamad disebut juru penyelamat nilai nilai kemanusiaan. Sekiranya orang seperti dirinya ditetapkan sebagai pemimpin pada kurun ini, jelas akan mampu memecahkan segala persoalannya”
Sesungguhnya, Allah amat berkuasa menghadirkan sejuta Muhamad untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia. Namun, cukuplah kehadiran Muhamad al-Amin dari suku Quraisy sebagai titik celah masuknya cahaya kebenaran mutlak Allah azza wajalla ke dalam sanubari kehidupan umat manusia seluruhnya dan untuk selamanya.
Meski telah berlalu 1400 tahun yang lalu. Muhammad sosoknya serasa masih begitu dekat dan lekat. Seperti kata Bimbo dalam salah satu bait lirik lagunya
Rindu kami padamu ya Rosul
Rindu tiada terperi
Berabad jarak darimu ya Rosul
Seakan engkau disini
Cinta ikhlasmu pada manusia
Bagai cahaya suarga
Akankah kami mampu membalas cintamu….
ALLAHUMA SHOLLI ‘ALAA MUHAMMAD….
