Arsip Blog
Jihad ala Netter Intelektual Muda Muslim di Dunia Digital
Jihad ala Netter Intelektual Muda Muslim di Dunia Digital
* By Erny Ratnawati
Semarak millennium ketiga telah diramaikan manusia dengan hentakan hentakan menuju babak sebuah peradaban baru. Sebuah langkah maju bukti keberhasilan manusia menapak tangga kemajuan ilmu pengetahuan yang selalu dinamis di sepanjang sejarah peradaban. Salah satu yang terlihat kentara dan kasat mata adalah perkembangan pesat dunia teknologi informasi. Merunut data yang dilansir oleh majalah info computer, dicatat bahwa pertumbuhan dunia teknologi informasi berkisar sekitar 18,75 persen pertahun. Prosentasi yang mengejutkan mengingat bahwa dunia ini tergolong pendatang baru di beberapa dekade terakhir.
Dunia tersebut kian hari kian melesat berkembang seiring hausnya manusia akan asupan informasi disetiap waktu. Supporting tool teknologi informasi mengalami perkembangan mengiringi semakin dibutuhkannya media untuk mempermudah akses transfer informasi yang seolah bak aliran darah di tubuh manusia. Telepon genggam yang pada awalnya hanya digunakan untuk mengirim seraya menerima pesan, kini telah berkembang kian canggih. Di era ini, ponsel tak sekedar menjadi alat komunikasi. Handphone makin memanjakan penggunanya dengan aneka fitur dan media informasi dan komunikasi . Facebook dan Twitter sebagai media sosial juga telah diaplikasikan ke dalam telepon genggam. Selain itu kecanggihan gadget dunia informatika juga merasuk ke bilik bilik rumah tangga. Amazon Instant Video, Netflix serta Vudu sebagai televisi Internet dengan kecepatan koneksi Internet dengan teknologi Wi-MAX atau Long Term Evolution yang begitu membludak diminati publik seperti menambah sederet opini bahwa kian lama masyarakat kita kian terikat sebagai komunitas digital dimana media komunikasi dan informasi bak menjadi santapan tiap hari bahkan di tiap detiknya.
Perkawinan teknologi transmisi mutakhir dengan computer telah melahirkan new age di perjalanan peradaban manusia. Dunia informasi digital bak piranti layar sentuh ini membuat sedemikian mudah manusia dapat tersambung dengan mitranya di seluruh belahan dunia dengan sekali klik saja. Dunia teknologi informasi ini menawarkan segala kemudahan, tanpa tersulitkan dengan kendala jarak dan waktu.
Lingkaran Hitam Putih bagi Muslim di Era Informatika
Informasi menjadi kebutuhan di setiap jengkal manusia berada. Era informatika telah melingkupi seluruh belahan dunia. Salah satunya wahana informan raksasa sekarang adalah media internet. Media ini yang tengah menjadi teman familiar bagi manusia seantero dunia. Ketergantungan manusia dengan kemunculan produk ini memang mendarah daging. Internet telah dianggap menjadi sekian dari key password aktivitas manusia. Jaringan dunia maya seolah menjadi dunia kedua yang belum bisa terpisahkan dari kehidupan manusia. Begitupula dengan kaum muslimin. Sebagai salah satu komponen penduduk dunia, kaum muslimin mau tak mau juga akan terkena dampak dari melejitnya era informatika yang mendunia.
Meninjau dampaknya dari segi putih dan hitam bagi kaum muslim, keduannya tentulah pasti ada. Mencoba untuk mengurai benang putih kemanfaatan yang dapat diambil dari melesatnya media informasi dan komunikasi ini bagi kaum muslimin,yakni media ini dapat dimanfaatkan untuk mempermudah kaum muslim menyerap informasi dan memperoleh akses komunikasi di dunia yang luas. Namun disisi yang lain, dunia teknologi informasi ini juga menjadi tantangan dan ancaman yang cukup diperhitungkan bagi kaum muslimin. Dunia ‘klik ‘ ini terkadang menjadimedanyang sulit dan ujian yang tajam bagi kaum muslimin sekaligus juga berpotensi menjebak kaum muslim untuk terpeleset ke jalan yang tidak dibenarkan
Seperti yang diungkapkan pengamat dunia informasi, Chellin Cheeri, bahwa
perkembangan teknologi komunikasi yang cepat telah mengakibatkan adanya ledakan ( explosion) besar besaran. Arus lalu lintas informasi telah berlipat ganda secara geometrik, dan berkonsekuensi dengan jumlah kontak komunikasi global yang membludak menjadi salah satu pemicu lahirnya Globall village. Globall village sendiri adalah fenomena yang merupakan konsekuensi dari era informasi global yang semakin meluas, dimana negara negara akan masuk berada dalam lingkup satu lingkar dunia, dan tapal batas antar negara telah menembus dimensi ruang dan waktu sehingga tak ayal dikatakan bahwa sekat antar negara menjadi kabur.
Hal tersebut berdampak dengan ancaman adanya penetrasi budaya secara besar besaran. Ekspansi budaya, pemikiran, lifestyle dan produk pemikiran impor dari Barat yang sarat nuansa hedonisme, feodal dan liberal taksadar telah merasuk ke fitur fitur hiburan di layar layar kaca dan media digital kaum muslim. Selain itu pergeseran norma dan budaya yang berkembang. Standar etika dan norma sudah tak cukup diperhitungkan dalam ukuran untuk menakar pertimbangan sebuah tindakan. Belum lagi tentang sebaran virus model gayahidup yang ditawarkan yang mengkiblatkan diri pada life style kebarat baratan. Legalisasi hal hal terlarang juga begitu diumbar sembarangan di pojok pojok situs hitam yang bertebaran. Kondisi tersebut telah berpengaruh terhadap kontrol moral yang kian menipis. Dunia di balik bilik ini memang dunia tak kasat mata dan tersembunyi, namun sejatinya memiliki efek ledak yang bahkan jauh lebih menyeramkan daripada di dunia nyata.
Jihad ala Netter Intelektual Muda Muslim di Dunia Digital
Mahasiswa selalu identik dengan intelektualitas. Kemafhuman atas predikat “maha” yang bertengger di kata depan sebelum “siswa” tentu membuat stigma mahasiswa sebagai kaum intelektual, tak lagi menjadi diksi yang asing di telinga. Mahasiswa juga digadang gadang menjadi aktor perubahan. Mahasiswa dengan slogan klasiknya, agent of change dan iron stock menjadi tumpuan masyrakat untuk mampu berperan sebagai kontributor vital dalam menapak perjalanan bangsa.
Tidak sekedar huruf berjajajar, slogan slogan diatas ternyata telah mampu dibuktikan karya nyatanya oleh mahasiswa muslim. Merunut kembali layar sejarah, Mahasiswa muslim ternyata menjadi salah satu komponen inisiator perkembangan media teknologi informasi di Indonesia. Di awal perkembanganya, kemunculan Isnet (the Islamic Network), milis yang dibuat mahasiswa Muslim Indonesia yang berkuliah di Amerika Serikat, menjadi salah satu pioneer dialog agama di dunia maya. Adanya langkah inovatif mahasiswa ini, tentu akan lebih menguatkan sebuah stigma, bahwa sejak puluhan tahun lalu pun, meski tetaplah sosok mahasiswa dengan segudang pemikiran dan idealismennya, namun mereka mampu menginisiasi awal sebuah perkembangan dunia dibalik ‘jendela’, dunia global dan maha luas, yang masih begitu asing di telinga rakyat Indonesia kala itu. Mahasiswa muslim mampu membuka mata publik bahwa mereka bisa selangkah lebih maju
Oleh karena itu, dalam menanggapi adanya efek dari lingkaran hitam dan putih bagi umat muslim di era digital yang tersebut diatas, mahasiswa muslim selaku salah satu golongan dengan prosentasi besar, yakni masuk dalam kategori muda dan remaja dimana menempati sekitar 65% dari total sekian juta user wahana teknologi informasi, diharapkan di malang melintang dunia digital ini dengan berbagai cerita dan fenomenanya, mereka dapat mengambil langkah cerdas dan bijak dalam merumuskan strategi untuk mampu mengambil sari atas mutiara kebaikan –kebaikannya sekaligus menjadi pagar betis dari garis garis hitamnya. Kaum intelektual muslim muda ini, telah ditunggu tunggu untuk menjadi persemaian harapan bagi umat muslim. Mahasiswa muslim diharapkan mampu menjadi garda terdepan untuk mampu memanfaatkan peluang kebaikan di era digital ini.
Salah satu strategi ala mahasiswa muslim yang dapat dilakukan adalah melalui Jihad versi digital. Jihad bukan berarti selalu identik dengan peperangan. Dalam Islam, seperti yang ditulis oleh KH Ali Yafie (1999), jihad bisa dikategorikan menjadi empat macam, yaitu jihad al-harb (jihad ke medan perang), jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu), jihad al-usrah (jihad dalam keluarga), dan jihad al-mujtama’ (jihad dalam masyarakat). Dalam pemaknaan yang lebih implisit jihad adalah adalah bentuk dari sebuah konsekuensi keimanan atau religiositas.
Dalam kaitannya dengan mengais peluang kebaikan di dunia kabel kabel informasi, penulis berpendapat bahwa setidaknya ada dua macam jihad yang hendaknya para mahasiswa muslim lakukan. Yakni aksi bagian dari Jihad untuk masyarakat atau khalayak luas yang termaktub dalam kategori jihad al-mujtama’ dan aksi upaya pertahanan diri para netter (sebutan untuk para peselancar dunia maya) muslim untuk mengendalikan hawa nafsunya menghadapi terjangan godaan di dunia ketika berselancar maya yang termasuk dalam jihad al-nafs
Dalam upaya jihad al-mujtama’ untuk men’sholihkan’ masyarakat, seorang mahasiswa muslim sepantasnya mengoptimalkan aksi dakwah di sisi kebaikan untuk menjadi salah satu peluang. Karena lewat dakwahlah, pesan ajaran Islam mampu tersampaikan kepada objeknya. Adanya kemudahan dan fleksibilitas dari dunia teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam penyebaran dakwah islamiyah Dakwah di dunia digital melalui media internet dan jejaring komunikasi yang lainnya untuk menyebarkan kebenaran ajaran Islam keseluruh penjuru dunia, dianggap sebagai sebuah inovasi yang menguntungkan bagi perkembangan syiar islam. Seperti yang kita tahu bahwa era kemajuan infomasi telah menciptakan ribuan server yang dapat membreakdown informasi dalam tempo edar yang kian pendek dan cakupan yang luas. Hal ini dapat menjadi kans besar bagi dakwah islam, untuk lebih berkembang tidak sekedar berkutat di alam konvensional namun juga merasuk ke dunia yang lebih lebar lagi hingga syi’ar dakwah akan dapat tersasar pada objek yang lebih besar dengan cakupan area dakwah yang semakin mendunia. Dengan karunia berupa kekuatan, kreasi serta ide ide yang masih segar, tentu akan muncul banyak inisiasi kreatif yang bisa dimunculkan oleh netter mahasiswa muslim untuk mampu menggemilangkan peluang emas ini
Bertebarannya situs muslim dan berbagai macam bentuk media muslim yang menyajikan menu informasi berbasis keislaman yang positif baik kepada internal umat Islam sendiri maupun kalangan diluar islam menjadi suatu action yang seharusnya senantiasa diupayakan kaum muslim untuk tetap bisa eksis dan bertumbuhkembang setiap saat. Mahasiswa muslim dengan berbekal daya nalar tinggi dan intelektualitasnya bisa mengambil peluang untuk berperan aktif disana.
Keberhasilan salah satu situs Islam di sebuah tempat di luar negeri yang mampu mengislamkan ratusan para jamaah mayanya dari berbagai bangsa serta fenomena Moslem Booming di AS paska Black Tuesday 11 september yang menjadi efek dari semakin gencarnya muslim menyuarakan kebenaran di ranah media informasi menjadi salah satu bukti bahwa keberadaan media kaum muslim yang mendunia di era ini memang selayaknya dibutuhkan. Sediaan informasi yang bersumber dari pusat yang shohih ini akan mampu menjadi corong umat Islam untuk berbicara dari satu personal computer ke personel computer lainnya yang terhubung di seantero dunia. Kabel kabel informasi ini dapat mengalirkan pesan pesan kebaikan Islam secara utuh dan menyeluruh, bukan sekedar spekulasi atau syak (prasangka) belaka yang kerap menghinggapi kalangan di luar umat muslim.
Selain dakwah via digital tersebut, Netter muslim selayaknya juga sigap menangkis banyaknya flood information ( banjir informasi) yang menyerbu masyarakat, karena aroma provokasi memecah belah umat kerap kali berhembus di dunia maya dan dimana hal tersebut juga sering menimbulkan perselisihan. Mahasiswa muslim hendaknya tidak mudah terpengaruh dengan setiap informasi yang datang, sepantasnya mereka juga turut menjadi corong bagi umat untuk menyebarkan informasi yang benar dan melakukan tabayayyun serta checking pada informasi yang datang dan tersebar di wahana komunikasi dan informasi. Setiap informasi memang sudah seharusnya untuk diteliti asal muasal dan kebenaranyya.
Hal tersebut mengingat bahwa kaum muslim sekarang tengah dihantui media raksasa dunia yang dikuasai negara sekutu Barat yang bergentayangan dengan opini kebathilan. Dan yang sekarang dapat kita baca adalah upaya Barat untuk lebih jauh menguasai kabel kabel informasi dunia. Dunia informasi digital dan media menjadi lahan empuk yang dimanfaatkan Barat untuk menodai citra Islam dan menjatuhkannya lewat edaran informasi yang penuh intrik dan kedustaan. Untuk itu media Islam sangat diperlukan sebagai counter atau perlawanan terhadap opini bernuansa bathil yang dilancarkan. Hal ini juga menjadi salah satu upaya untuk mengangkat harga diri kaum muslimin.
Sedangkan yang terkait dengan jihad al nafs, penulis memaparkan beberapa gagasan dan pandangan yang sekiranya mampu untuk di kejawentahkan dalam nilai nilai moral di tataran aplikasi secara personal.
Pertama adalah memegang kendali niat. Mahasiswa Netter muslim seharusnya mengendalikan niat pada posisi utama. Sebagaimana para ulama mengatakan bahwa niatan adalah poros perbuatan. Memancang niat di awal, untuk beramal sholih dan meraih serta menebar kebaikan sebanyak banyaknya lewat media ini harus menjadi prioritas pertama sebelum niat yang lainnya. Apabila niatan kebaikan di awal sudah terlupakan, maka yang banyak terjadi adalah keterlenaan. Dunia maya begitu menggoda, hingga bahkan manusia tidak tersadar telah terperdaya. Oleh karena itu, hendaknya setiap diri harus menanamkan ini pada masing masing pribadi sebagai komitmen personal. Mahasiswa muslim sepantasnya untuk menepis niatan yang tidak sesuai atau justru menyimpang dari koridor syariat.
Hal kedua adalah mengatur batas waktu. Tanpa adanya komitmen untuk membatasi waktu sejak awal, waktu para netter akan mudah terbuang pada hal yang bersifat ghulluw ( kesia siaan ) dan ifrath (berlebihan) ketika berselancar di dunia maya. Aktivitas nongkrong di internet berlama lama hanya untuk sekedar ber facebook atau twitter ria atau aktivitas game online chatting, koprol, dan sebagainya secara berlebihan akan menurunkan daya produktivitas dan keterjagaan terhadap waktu waktu ibadah. Waktu hanya akan terbuang sia sia tanpa ada hasil produktif yang nyata dan progress ibadah yang gradual. Maka, dari itu Netter harus mampu cerdas mengatur interaksinya dengan dunia ini di batas kewajaran dan kebutuhan secara rasional dan mengendalikan hasratnya untuk berlama lama melanglang wahana online
Ketiga, Netter muslim sudah seharusnya tetap menjaga akhlak dan rasa malu ketika berselancar di dunia maya. Sebagaimana umat islam mengenal konsep ihsan sebagai salah satu pilar setelah islam dan iman, maka sudah seharusnya nilai nilai ihsan harus masing ditanamakan sebagai akhlak masing masing personal. Merasa bahwa betapa luasnya dunia yang dikunjungi dan apapun bentuk yang dilihat pasti takkan luput dari pengawasan Allah azza wa jalla. Sehingga hal ini menjadi filter di garda terdepan pertahanan untuk menghadapi dunia yang begitu luas ini. Bagaimanapun juga self controlling adalah kontrol paling efektif untuk memagari diri sekaligus sebagai imunitas jiwa dari hal-hal yang tidak benar sehingga hal yang tidak baik yang diperoleh tidak akan berpengaruh atau bahkan merubah akhlak dan kepribadian.
Pada akhirnya sebagai penutup, penulis menyimpulkan bahwa bagaimanapaun juga, tak bisa disangkal lagi, mahasiswa muslim mewakili komponen kaum muslim pada umumnya memang sudah selayaknya bersegera untuk dapat mengoptimalkan kemajuan media teknologi informasi dunia demi kebaikan dan kepentingan diinul haqq ini. Mengutup pernyataan Prof. Dr. Ichlasul Amal, Komite Dewan Pers Nasional bahwa segenap kaum muslim sejatinya memiliki kewajiban bersama untuk dapat mendukung perkembangan media informasi yang membawa misi keislaman. Dengan melakukan hal tersebut, setidaknya kita telah selangkah lebih maju berkontribusi menghadapi gempuran perang pemikiran yang mengancam umat.
Wawwlahu’alam bisshowab
Purifikasi Interpretasi Teror Vs Jihad
Purifikasi Interpretasi Teror Vs Jihad di Masyarakat Kita
*Erny Ratnawati
Lembaran sejarah kembali dibuka. Kata teror tengah bergaung kembali setelah ia muncul dan dikenal pertama kali di masa revolusi prancis, diakhir abad ke -19. Pada mulanya, kata terorisme sendiri yang bermuasal dari Prancis, adalah sebutan untuk kebrutalan rezim revolusi Prancis yang membabi buta, memenggal 40.000 orang yang dituduhkan anti pemerintah dan kemudian diwariskan juga untuk menyebut tindakan anarki anti pemerintahan di Rusia. Hal inilah yang melekat kemudian bahwa terorisme diidentikkan dengan kekerasan dan anarki perlawanan.
Namun, tiba tiba di awal millennium ketiga, kata terror itu dialamatkan kepada umat Muslim. Mengapa ? Tragedi black Tuesday 11 September 2001, menjadi awal tuduhan itu dilontarkan. Runtuh dan luluh lantaknya nya dua gedung kembar symbol kedigdayaan Amerika Serikat, yakni WTC dan pentagon, telah menghentakkankan dunia. Hal ini ternyata dijadikan momen kesempatan emas bagi Amerika Serikat untuk melaunchingkan senjata ampuhnya untuk menghancurkan salah satu agama terbesar dimuka bumi. Mereka memoncongkan tuduhan pelaku penghancuran terebut kepada ISLAM. Dengan arogan kemudian Amerika Serikat memberi gelar didada umat muslim dengan sebutan “TERORIS”.
Semenjak itulah aksi aksi selanjutnya semakin gencar dilakukan. Santernya stigma negatif terhadap muslim sebagai otak terror, telah menyebar seantero jagat bahkan hingga saat ini. Gembar gembor media di negeri paman sam itu telah menggiring opini dunia, bahwa muslim lah biang onar. Hal ini berbuntut aksi sweeping terhadap muslim beserta penindasan muslim dibeberapa negara menjadi kian marak. Tidak berhenti disitu, perang tersebut merambah di berbagai lini. Baik perang dalam urusan militer, invasi terhadap negara negara, dan Ghozwul fikri (perang pemikiran) yang menyeret umat muslim untuk menjauh dari agamany. Media AS semakin gencar menyebarkan informasi tentang gambaran dan stigma bahwa islam itu kejam, ajaran islam militant, radikal tidak toleran, mengajarkan kekerasan dan sebagainya.
Hal ini tak pelak pula, telah menyebabkan adanya gelombang phobia terhadap Islam semakin menjadi. Pun, terjadi di negeri ini. Rentetan kasus bom, aksi terror dan berbagai tindak radikal lainnya, tak henti hentinya dialamatkan kepada kaum muslimin. Seakan lekat kepada islam, sebagai agama pengusung terorisme. Kekhasan penampilan muslim kadang menjadi phobia tersendiri bagi masyarakat kita. Katakanlah sekelas jenggot, jubah panjang, sorban, dan performance yang sedikit menampilkan wujud “keekstriman” seakan mendapt justifikasi dari masyrakat luas bahwasanya tampilan tersebut adalah representative dari pelaku terror atau yang berkaitan dengannya. Pondok pesantren pun dianggap menjadi benih pesemaian teroris. Jihad dianggap sebuah makar dan teror. Padahal keduanya adalah dua kubu yang sungguh jauh berbeda.
Dengan kesalahan anggapan ini, tentu citra Islam semakin tersudutkan. Hal ini tentu menjadi fenomena yang memprihatinkan bagi umat Islam. Indahnya Jihad Kita yang Sebenarnya Adakah yang harusnya diluruskan? Ada jawabnya. Menurut Abdul Halim Mahmud, sebagaimana dikutip oleh KH Ali Yafie (1999), jihad bisa dikategorikan menjadi empat macam, yaitu jihad al-harb (jihad ke medan perang), jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu), jihad al-usrah (jihad dalam keluarga), dan jihad al-mujtama’ (jihad dalam masyarakat). Dari kategori ini, jihad bukanlah sekadar perang, bahkan lebih dari itu, jihad justru merupakan sebuah konsekuensi keimanan atau religiusitas. Namun, jihad ke medan perang dalam islam bukanlah hal yang sembarangan. Sang sahabat terdekat Rosulullah, Abu bakar as-Sidiq mengatakan bahwa diantara etika berperang dalam islam diantaranya, Islam hanya memerangi kebathilan kemunkaran dan kekufuran. Islam melarang membunuh wanita,anak anak, orang tua, hewan dan merusak pepohonan, tidak berlebihan dan lain lain. Begitu indahnya aturan Islam dibandingkan dengan tindakan brutal Amerika dan Israel di tanah Al-Quds palestina yang tanpa ampun membantai ribuan muslim palestina, memborbardir rumah sakit, melakukan pelecehan terhadap wanita menembaki anak anak dan orangtua, bahkan hingga petugas medis sekalipun. Daya rusaknya pun hingga meratakan tanah tanpa sisa. Lalu sebenarnya siapa yang lebih layak yang disebut biang teroris? Peperangan dalam islam pun juga memiliki kaidah sendiri. Perang dibenarkan hanya untuk 2 tujuan yaitu perlawanan terhadap agresi atau permusuhan dan membela dakwah dan kebebasan beragama (Muh,Jamaludin Ali Mahcfudz:1976). Hal ini diperkuat dengan salah satu firman Allah Telah diijinkan berperang bagi orang orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah diperangi karena sesunnguhnya mereka telah dianiaya.sesunnguhnya Allah benar benar benar maha kuasa menolong mereka itu.(Q.S. Al-Hajj :39) Lebih dari itu, Islam menetapkan aturan main untuk berjihad dalam arti perang berupa batasan untuk tidak memerangi anak-anak, wanita, dan orang jompo, sebab mereka adalah kaum lemah yang tidak pantas untuk menjadi korban, sehingga mereka harus dilindungi. Aturan yang sungguh mulia ini Allah tetapkan dalam (QS. Al-Baqarah/2: 190): “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas Kembali mengurai catatan sejarah peradaban islam yang dibangun dengan gemilang oleh generasi generasi terbaik yakni para sahabat rosul di awal awal hijrah akan mengingatkan kita pada betapa Islam adalah agama yang sangat santun dan islam adalah agama yang membawa perdamaian dan rahmat bagi semesta alam serta tidak pernah mengajarkan kebatilan dalam bentuk apapun Islam bahkan menggoreskan kisah spektakuler, lewat sahabat yang dijuluki gudang ilmu Ali bin Abi tholib, yang urung menghantamkan pedang bermata duanya keleher musuh hanya karena si musuh yang jatuh tersungkur meludah pada wajah Ali. Namun, Ali tidak membunuhnya karena takut niatnya melenceng bukan lagi karena Allah, tapi karena sekedar melampiaskan kemarahan sekejapnya saja. Kisah Muslim bin aqil pula patut disimak. Muslim bin aqil sebenarnya bisa saja membunuh ubaidillah bin ziyad, gubernur kuffah yang mengambil keputusan untuk membunuhi muslim, dan ketika sang gubernur zalim sedang terjebak di rumah pendukung imam husain, dan kesempatan untuk membunuh gubernur itu itu ada, tapi muslim bin aqil urung melakukannya karena ia teringat sabda nabi “Iman menghalangi pembunuhan yang licik dan mukmin tidak kan akan membunuh seseoorang dengan licik”.
Demikianlah gambaran begitu Islam sangat menjunjung nilai kemanusiaan dan perdamaian. Dan pada akhirnya mengembalikan lagi izzah umat islam, adalah sebuah amanah yang harus kita tunaikan. Menjadi tanggung jawab kita sebagai umat muslim yang mengakui akan mengikuti genderang cinta ini, cintanya para pejuang, cinta untuk Al-Islam, cinta yang telah dinisbatkan kepada Sang penggengam kehidupan. Cinta yang telah melahirkan ribuan jundi Palestina ber`intifadhoh` melempar batu di jalan jalan, yang mengobarkan semangat mujahidin afghan ditengah teriknya padang pasir dan bom bom berdentuman. Saatnya meluruskan kembali pemahaman rakyat negeri ini dengan sebenar benarnya, agar syak (prasangka) yang terjadi bahkan keraguan yang menggelayuti umat islam akan agamanya sendiri bisa ditepiskan jauh jauh. Menggaungkan kembali indahnya Islam yang begitu dan mulia menjadi salah satu carannya. Masyarakat kita terlanjur terset-up berfikiran buruk terhadap makna jihad dan Islam. Oleh karena itu, banyak yang perlu difahamkan akan kebenaran yang sesungguhnya. Dan itu adalah tanggung jawab kita bersama.
Dan katakanlah yang benar telah datang dan kebatilan telah lenyap, ”sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap”(Q.S Al-Israa`:81) Wawllahu `alam bisshowab



