Arsip Blog
Enam Belas Murid di Kelas Istimewa
Enam Belas Murid di Kelas Istimewa
Sejenak dahi mengernyit, berderet tanya mengalir deras merasuki tiap inchi cerebrum otak, mencoba untuk mencari jawab kenapa. Apa gerangan yang membuat Kaisar Jepang menanyakan berapa jumlah guru yang masih tersisa, sesaat pasca jepang lumpuh total karena diluhlantakkan oleh bom atom. Apa pula yang membuat tokohIndonesia sebesar Syahrir dan Muhammad Hatta rela mengecap rasa bagaimana menjadi seorang guru. Ataukah seorang Butet Manurung ketika dia rela meninggalkan gemerlap kotanya, demi menjadi guru baca tulis suku Anak Dalam, di belantara pedalaman Jambi. Ataukah seorang tokoh Bu Muslimah Laskar Pelangi yang rela tetap mengajar siswa yang jumlahnya hanya kurang dari hitungan jari tangan manusia di bangunan lapuk SD Muhammadiyah Gantong.
Vocation begitulah seorang Jansen sinamo, mengatakan demikian. Memang nampaknya benar adanya. Bahwa menjadi guru adalah panggilan hati. Aliran deras Energi ‘panggilan hati’ itu tercipta karena timbulnya rasa peduli yang bergradasi. Demikian saya, seoarang yang tak sengaja berhasil kesetrum energy itu setelah sekian lama menyelam dalam kelas istimewa saya. Saya menemukan banyak cerita hidup disana.
Dan cerita itu bermula dari sini
Belum pernah saya bayangkan sebelumnya, jika dalam sepenggal episode hidup saya akan tercatatkan kisah mengharu biru ini. Menunggu waktu waktu untuk mengakhiri studi di sebuah PTN negeri dikotaBudaya Solo, saya terpanggil untuk bereksperimen menjadi seorang guru. Namun, bukan menjadi seorang guru yang mengajar di kelas. Saya harus menjadi guru yang berhadapan dengan sebuah ‘kelas istimewa’. Ya, tepatnya Ketika terdapat program pengabdian masyarakat mahasiswa kampus, yang saya ikuti dimana salah satu objeknya adalah para tukang becak di didaerah Kraton Surakarta yang sering berinteraksi dengan turis mancanegara. Karena kebetulan saya duduk di Jurusan bahasa Inggris, walhasil tertunjuklah saya menjadi salah satu pengajar bahasa inggris praktis bagi tukang becak tersebut.
Hari hari dilalui, dengan jerih payah. Bukan perkara mudah membujuk para tukang becak untuk belajar. Seringkali di hari hari pertama saya dan tim melakukan negosiasi, pulang dengan tangan kosong. Wajar memang, para tukang becak yang rata rata berpendidikan hanya sampai SD. Mungkin takkan berfikir lama untuk berkata tidak. Bagi mereka, kantong kantong di selembar baju yang mereka pakai itu harus terisi demi menghidupi anak istri. Pilihan untuk belajar, tampaknya tak menjadi sebuah pilihan brilian.
Hingga pada akhirnya, setelah bujukan yang kesekian kalinya. Saya dan TIM berhasil meyakinkan mereka dan membuat kesepakatan. Waktu belajar kita adakan di luar jam narik para abang becak, sepekan sekali tiap jum’at sore.
Hari hari pertama belajar, sempat terbersit kekhawatiran, bahwa murid murid kami hanya segelintir orang. Namun, sungguh mengejutkan.Paratukang becak itu ternyata datang bergerombol dengan semangat. Tercatat 16 orang yang akan melanjutkan kelas belajar selama tiga bulan ini. Saya meyeruak bahagia. Performance pertama, saya maksimalkan. Berharap mereka tak jera tuk datang lagi di pertemuan selanjutnya.
Pekan demi pekan pun mulai lamat lamat merayap, meninggalkan jejak jejak penuh kesan yang saya rasakan . Gejolak deras mengaliri urat syaraf ketika harus beradu pandang dengan para murid saya, bapak tukang becak yang otot otot tanganya tebal membiru. Di sudut hati saya, terbersit sebuah gumam, “memang benar bagian dari 8 pilar etos guru adalah menebarkan rahmat’. Dan Rahmat itu adalah kebaikan berupa ilmu yang disampaikan kepada siapa saja yang membutuhkanyya. Siapapun dia, tanpa memandang strata,usia, dan harta.
Ditengah-tengah perjalanan menyelesaikan kewajiban saya mengajar, saya
merasakan bahwa pompa semangat itu justru memancar kuat dari rona murid-murid yang penuh semangat dan warna. Memang terkadang tak harus datang dari bilik hati seorang guru sendiri. Begitu pula dengan kelas istimewa saya. Enam belas murid, yang selalu bersemangat. Ya, ingatan saya masih kuat dan lekat. Mereka datang setengah jam sebelum belajar dimulai di serambi Masjid Paramosono, Kraton Solo. Sembari menunggu Mereka beristirahat dan berbincang bincang bersama teman teman sesama tukang becak. Sesekali saya melihat ada beberapa diantaranya, membuka kertas materi yang kami berikan saat belajar minggu lalu. Hingga sejenak seakan mereka terlupa akan penatnya mengkayuh roda tiganya seharian demi asap dapur tetap mengepul. Adzan ashar masjid paramosono, seakan menjadi lonceng penanda bahwa ba’da ashar belajar akan dimulai. Saya pun bersiap, memohon dalam sholat dan doa saya sebelum mengajar agar apa yang saya lakukan bersama teman teman ini dapat benar benar bermakna bagi mereka. Agar ilmu yang saya sampaikan bukan bak buih terhempas gelombang. Saya ingin ilmu ini jadi amal yangkanterus dialirkan.
Dari bapak bapak itu, saya diajarkan bagaimana menjadi pengajar, harus mau diajar. Termasuk diajar arti kesabaran. Setiap pertemuan, saya memberikan kosa kata baru pada mereka. Bagaimana kesabaran saya diuji dengan saya harus memperhatikan satu demi satu bapak bapak renta yang harus mengulang puluhan kali hanya untuk mengucapkan satu vocabulary (kosakata) itu. Berulang kali pertanyaan lucu yang akan saya kenang. Kenapa “I” ( versi inggris ) dibaca “AI”. Kenapa pergi hari ini diucapkan “GO”, sedangkan kemarin diucapkan “WENT”dan sederet tanya sederhana lainnya. Seringkali mereka berseloroh bahwa Bahasa Inggris itu bahasa plin plan ”masak,la wong ganti waktu aja kok ganti bahasa, to mbak?” protes mereka. Dan sekian expressi yang sering membuat saya tersenyum sendiri.
Taklupa, saya juga menyelipkan kata kata motivasi kepada para bapak untuk tetap senang belajar, di tiap pertemuan. Demikian sebaliknya, para bapak becak itu seringkali memberikan petuah dan nasihat kepada saya dan teman teman. Nasihat menghadapi riak kehidupan, tentu saja karena mereka telah mengecap asam garam dan segala pahit nan getir gelombang kehidupan. Kombinasi barter pengalaman yang seru dan berkesan dalam.
Ah, indah rasanya kelak jika mengingat ini. Saya lebih senang menyebutnya adalah real teaching. Mengajar yang sebenarnya. Siapa bilang mengajar itu melulu harus berkutat pada sekedar Kelas, bangku, kapur dan papan tulis?
Dan pada akhirnya, saya tutup cerita ni dengan kembali mengenangi mereka , guru guru yang luar biasa. Beberapa sosok guru hebat itu mengingatkan saya pada empat baris wiseword William Arthur .
Guru yang biasa, berbicara
Guru yang bagus, menerangkan
Guru yang hebat, mendemonstrasikan
Guru yang agung, memberi inspirasi
Demikian cerminnya. Seorang sosok Bu Muslimah ternyata mampu mengawal mimpi mimpi anak didiknya hingga para Boy Belitong itu mampu membesut impiannya menuju Sorbone, Prancis. Demikian pula Butet harus tangguh bertahan di rimba nan luas, demi mendobrak pemikiran konservatis suku pedalaman yang buta akan huruf dan angka.
Sebagai penutup, kembali mengingati 16 Murid saya, para tukang becak yang hebat nan bersemangat itu bak menyuntikkan morphin spirit ketubuh saya. Stamina ini perlu dijaga, hingga kelak saya akan sampai pada waktunya akan melihat mereka lulus dari kelas ini dengan rona berbunga-bunga. Inilah mimpi mimpi saya pada mereka. Mereka Enam Belas Murid di Kelas Istimewa. Kelak mereka akan jadi tukang becak yang cerdas berbahasa dunia.
2 april 2011
Alhamdulillah, karya ini dibukukan dalam antologi pemenang lomba inspiring teacher
Erny Ratnawati
