Arsip Blog

Nyalakan Kembali Semangat Membaca.

Nyalakan Kembali Semangat Membaca

*Erny Ratnawati

Membaca adalah gerbang ilmu pengetahuan. Budaya membaca adalah salah satu elemen terpenting dalam peradaban keilmuan. Sejarah mencatat tinta emas masa kegemilangan Islam berabad silam, tak lepas dari budaya membaca pada saat itu. Pada masa tersebut, Kaum muslim begitu bersemangat untuk membaca dan menelaah ilmu pengetahuan. Kumpulan kitab kitab yang berderet di perpustakaan juga begitu digandrungi untuk dipelajari.Kotakotakaum muslimin seakan menjadikotametropolitan dalam ilmu pengetahuan di segala bidang.

Tak mengherankan, dari sanalah kemudian peradaban Islam mulai merangkak menuju puncak kejayaan. Rahim peradaban cemerlang yang melahirkan para ilmuwan muslim terbaik dunia. Tidak hanya bersinar dilingkup kaum muslimin, namun prestasi para ilmuwan itu telah diakui di tingkat dunia, bahkan mendapat predikat terbaik. Seperti yang telah dikatakan oleh George Sarton bahwasanya sesungguhnya kaum Muslim telah mencapai tugas utama kemanusiaan yang sebenarnya.Yakni menjadi obor pengetahuan di segala bidang.Umat muslim telah mencatatkan goresan sejarah sebagai kontributor terbaik di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Lihat saja, Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang Muslim. Matematikawan terbaik, Abul Kamil dan Al-Khawarismi adalah Muslim. Bapak kedokteran dunia yaitu Ibnu Sina adalah seorang ulama Muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik, Al-Masudi adalah seorang Muslim. Dan Al-Tabari, ahli sejarah terbaik juga seorang Muslim. Sungguh prestasi yang membanggakan. Bahkan di  masa kejayaan itu, bangsa Eropa banyak berbondong bondong  belajar pada kaum muslimin hingga berabad lamanya.

Namun, jika kita menarik garis lurus dengan kondisi sekarang, kita seolah merasa tertampar dengan kenyataan yang ada. Gaung kejayaan Islam berabad silam kian hari kian memudar, seiring menurunnya kualitas dan daya saing kaum muslim di kancah dunia dari waktu ke waktu. Salah satu indikator yang dijadikan acuan untuk mengukur tingkat daya saing tersebut, adalah kemajuan bidang ilmu pengetahuan. Harus kita akui memang saat ini peradaban keilmuan umat Islam jauh tertinggal dari peradaban barat. Kita mungkin tidak ingat kapan terakhir kalinya mendengar nama seorang muslim disebut sebagai pemenang nobel dalam bidang ilmu pengetahuan atau kedokteran, ataupun berapa banyak jumlah publikasi ilmiah dan paten teknologi yang ditelurkan dari tangan seorang muslim. Mungkin ada, namun yang pasti tidak banyak jumlahnya.

Kondisi ini tentu memprihatinkan, apalagi jika kita menilik bahwa Islam sendiri adalah agama yang sangat mendorong pemeluknya untuk belajar ilmu pengetahuan. Al- Qur’an sebagai kitab sakral umat Islam bahkan dikatakan sebagai ensikopledi ilmu pengetahuan yang luar biasa. Ayat ayat kauliyah Allah didalam Al- Qur’an banyak terbuktikan kebenarannya secara ilmiah. Al- Qur’an juga bahkan disebut sebut sebagai sumber inspirasi penemuan penemuan manusia di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Disamping itu, kaum muslim sebenarnya juga memilki harta karun berharga, yakni kitab kitab para ilmuwan besar muslim sebagai rujukan dan sumber ilmiah pengetahuan. Semisal kitab Qanun fi Thib, salah satu dari karya Ibnu Sina yang ditulis dalam bentuk ensiklopedis menyangkut pengobatan dan obat-obatan. Kitab ini dijadikan rujukan di dunia kedokteran selama berabad lamanya, atau karya Aljabar paling monumental berjudul al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah buah pikiran Al- Khawarizmi dan sederet karya luar biasa lainnya.

Namun sayangnya, hal hal tersebut nampaknya kurang begitu tergali dan termanfaatkan oleh kaum muslim. Yang lebih disayangkan lagi justru orang orang non-muslim (baca: barat) lah yang gencar untuk mengambil ilmu dari para ilmuwan tersebut. Walhasil, tak mengherankan jika dunia mungkin lebih banyak mengenal para ilmuwan Eropa dan Amerika sebagai tokoh ilmu pengetahuan yang mumpuni dibandingkan dengan deretan nama tokoh muslim. Kondisi ini terjadi, tidak lain tidak bukan, karena memang kaum muslim belum banyak mengambil peran disana. Kita seakan masih saja menjadi penonton di papan percaturan ilmu pengetahuan dunia. Hal ini membuat kredibilitas dan bargaining position kaum muslim di bidang ilmu pengetahuan kurang cukup diperhitungkan.

Kaum Muslim ‘Lupa’ Membaca

Jika mau untuk kembali merefleksi diri, Salah satu hal yang ditengarai menjadi titik kunci terjadinya degradasi tersebut diatas adalah fenomena Kaum Muslim‘Lupa’Membaca.

Fakta berbicara bahwa budaya baca bangsa-bangsa muslim ternyata berada jauh di bawah bangsa bangsa barat. Hal ini dapat dilihat dari budaya literasi bangsa muslim yang masih timpang. Sebuah publikasi yang baru saja diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengemukakan bahwa dunia Arab yang terdiri dari 22 negara muslim hanya mampu menerjemahkan sekitar 330 buku per tahun. Angka itu sangat menyedihkan karena hanya seperlima dari jumlah buku-buku yang mampu diterjemahkan oleh sebuah negara kecil seperti Yunani dalam setahunnya. Bahkan Spanyol mampu menerjemahkan rata-rata 100.000 buku setiap tahunnya(Mashudi Antoro,2010). Di Negara muslim lain seperti Indonesia yang berpredikat Negara berpenduduk muslim terbesar, jumlah buku baru yang terbit di negeri ini  hanya berkisar 8000 judul/tahun, jumlah yang sangat minim jika dibandingkan dengan Vietnam dengan jumlah 45.000 judul/tahun dan Inggris yang menerbitkan 100.000 judul/tahun. Jumlah judul buku baru yang ditulis, dan diterbitkan, kemudian dibaca oleh sebuah masyarakat menunjukkan kapasitas mayoritas rakyat bangsa tersebut untuk melahirkan gagasan-gagasan baru yang didapat dari aktivitas membaca (Sudarwoto, 2009). Cukup memprihatinkan realita tersebut, apalagi jika mengingat perintah yang Allah pertama kali justru adalah perintah untuk membaca. Hal ini patut menjadi introspeksi bersama.

Jika ditelisik kembali dari urgensinya, membaca adalah aktivitas yang sangat bermanfaat karena membaca adalah pintu pertama dibukakannya ilmu pengetahuan. Tak heran,budaya membaca dikatakan selalu berbanding linier dengan kualitas kecerdasan dan peradaban suatu bangsa. Demikian juga salah satu faktor suatu bangsa dikatakan maju juga tak lepas diukur dari tingginya minat baca masyarakatnya.

Sedangkan ditinjau dari segi kebermanfaatan, dalam buku Mustika Ilmu dan Pengobatan Jiwa karya Mashudi Antoro disebutkan bahwa membaca dapat mendorong seseorang terstimulus untuk berinovasi dan produktif dengan banyak ide segar dan gagasan yang baru, selain juga dapat mematangkan mematangkan kemampuan seseorang dalam mencari atau memproses ilmu pengetahuan. Mengetahui apa saja yang belum ia ketahui secara detail, dan mampu digunakan untuk mempelajari bidang-bidang pengetahuan yang berbeda secara bersamaan. Bagi kaum muslim sendiri, membaca dapat digunakan sebagai  salah satu upaya untuk kembali menggali dan menemukan warisan ilmu ulama yang merupakan tambang emas yang begitu berharga.

Akan tetapi sayang sekali, menilik data tentang realita budaya baca kaum muslim yang penulis paparkan di awal, kita memang patut untuk prihatin. Namun, jika berhenti di batas keprihatinan belaka, maka kondisi ini nampaknya akan terus berlarut saja. Oleh karena itu, penulis  berpendapat bahwa semangat membaca bagi kaum muslimin sudah seharusnya kembali dinyalakan. Semangat itu tentu pada awalnya harus tersematkan terlebih dahulu di masing masing muslim secara pribadi, karena inti perubahan sejati adalah dimulai dari diri sendiri. Dari kesadaran personal tersebut diharapkan akan tumbuh menuju kepada kesadaran kolektif. Ketika telah tercipta kesadaran secara berjamaah,kesadaran ini akan menggerakkan sebuah kebiasaan menjadi jamak dilakukan. Dari kebiasaan masyarakat yang sering dan berulang ulang dilakukan tersebut yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah budaya.

Budaya membaca bagi kaum muslim memang sudah selayaknya segera kembali digalakkan. Karena darisanalah produktivitas karya akan banyak dilahirkan. Dari produktivitas itulah, kaum muslim dapat membuktikan di mata dunia, bahwa mereka mampu kembali membawa gemilang  nama  Islam melalui torehan karya dan prestasi yang luar biasa. Mengulang kembali sejarah, bukan hal yang mustahil kiranya jika umat muslim mau bangkit dari keterpurukan dan keterbelakangan. Dan semuanya itu dapat diawali dari satu langkah sederhana. Nyalakan kembali semangat membaca kaum muslim dunia.

Wawwllahu ‘alam bisshowab

 

Ngobrol Asyik Bareng Penulis Muda FLP SOLO

Setelah sekian lama , saya sadar sekeping perjalanan iti terlalu asyik jika tidak didokumentasikan. Check it Out!

Ngobrol Asyik Bareng Penulis Muda FLP SOLO

 Ahad,10 Juli 2011 hari yang begitu menggugah. Alhamdulillah saya didaulat menjadi salah satu pembicara di acara Ngobrol  Asyik dan Santai (NGOBRAS) bareng penulis muda FLP solo raya di Islamic Book Fair Goro Assalam. Ngobras kali ini saya taksendiri,  saya ditemani tiga orang pembicara lain (mb.tiko, mb.nungma dan mbak dity) dipandu mbak ham ham dari FLP IAIN. Worskhop interaktif ini berjalan begitu seru. Suport teman teman FLP Solo yang datang menambah spirit kita untuk saling berbagi ilmu. Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh mbak ham ham yang gaul abiss, diantaranya tentang motivasi mengapa menulis, cara memanajemen waktu untuk menulis dan karya yang telah dihasilkan. Alhamdulillah tsumma alhamdullillah semua berjalan lancar hingga akhir acara. Saya sendiri merangkum beberapa catatan penting di note saya, memang saya telah berazzam untuk tak menyiakan setiap keping belajar entah darimana saja dan kapan saja. Sembari duduk didepan, saya mencatat berbagai macam inspirasi dan ilmu yang sungguh luar biasa yang saya dapatkan entah dari teman teman saya atau dari pertanyaan peserta. Diantaranya seperti menulis itu dapat dimotivasi dengan niatan ibadah. Karena itu visi terbesar hidup manusia. Selain itu menulis adalah meninggalkan jejak kebaikan, dan juga menjadikan tiap hurufnya menjadi dzarroh kebaikan, mendokumentasikan hidup serta bonusnya menulis itu membuat cerdas, sehat sekaligus kaya  dan awet muda ( He He He)

Di akhir sessi, tiap pembicara mencoba memaparkan karya-karyanya dan manfaat yang telah dirasakan selama berproses gigih dari penulis pemula hingga tlah menghasilkan karya. Dari ada yang menyerahkan royalty buku pertama ke orang tua, sederetan buku yang dihasilkan, duet nulis bareng penulis ternama, karyanya yang sering nongol di media , bayar kuliah sendiri dengan honor menulis dan sebagainya.

Di acara itu, saya juga dipaksa untuk baca puisi. Puisi saya yang bertema ramadhan yang berjumlah tiga lembar setengah, tapi hanya satu lembar yang saya bacakan. Sebuah puisi berjudul “bisik Malaikat mengejakan ramdhan’ berisi  sindiran tentang protes malaikat atas aktivitas di bulan ramadhn yang melenakan, justru disenangi banyak orang. Missal  bangun bada subuh atau terlalu panjang tidur siang dan lain-lain. Itu menjadi pengingat bagi diri saya sendiri untuk kelak lebih produktif mengisi ramadhan.

Acara dilanjutkan Tanya jawab. peserta yang bertanya masing masing bertanya tentang proses kreatif non fiksi,  dan menggairahkan minat menulis sejak dini. Jawabanya  antara lain  secara singkat; proses kreatif dimulai dari melihat sikon dan sasaran. Sedangkan untuk minat menulis dapat ditumbuhkan  dengan fun activity dan motivasi .

Kemudian acara ini ditutup dan dilanjutkan foto foto bersama teman teman flp solo.

Saya melanjutkan keliling stand buku, seusai sholat magrib. Ada Kejadian unik; saat saya berputar stan. Tiba di indiva, seorang mbak mbak berjilbab dengan senyum manis plus merayu meminta kertas puisi saya. Sudah dech, kertas yang telah lecek terlipat lipat itu akhirnya saya kasihkan dengan senyuman juga. Semoga bermanfaat ya mbak.. he he

Sekian . thanks for Allah for this chance. Semoga akan bermanfaat

Menderet huruf huruf, mengukir jejak hidup, mendokumentasikan kepingan mozaik journey of my life

TERUS SEMANGAT BERPROSES MENGGORES KEPINGAN KEBAIKAN

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.