Arsip Kategori: MOSLEM AREA
Detak semangat mereka tak kenal kata mati
#1.Catatan inspirasi
Bismillahirrohmanirrohim
Detak semangat mereka tak kenal kata mati
Setengah jam membaca beberapa biografi singkat para imam besar dan ulama yang luar biasa itu memang terasa sangat menggetarkan hati. Saya selalu berdecak kagum dengan mereka yang seolah detak semangatnya tak pernah kenal kata mati
Meski harus terkungkung dengan kehidupan di dalam penjara yang pengab nan sesak, tak pernah menyurutkan mereka untuk menorehkan tinta tinta kebaikan. Mereka tetap membaca dan menulis,dan terus melakukannya bahkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan sekalipun. Dari tangan tangan mulia itulah kemudian lahir karya karya fenomenal yang mengguncang dunia.
Imam Ibnu Taimiyah – seorang ulama besar pengusung panji kebenaran dan ketakwaan itu mampu menyelesaikan beberapa karyanya di dalam penjara. Ketika penguasa dzalim menyingkirkan penanya, beliau tetap menulis walaupun dengan menggunakan arang. Kitab Majmu Fatawa yang sangat tebal itu, ternyata sebagian besar ditulis ketika beliau berada dalam penjara.
Sayyid Quthb mampu menuliskan karya terbesarnya, Tafsir Fizhilalil Quran, ketika dalam keadaan terhimpit penderitaan. Di siksa dalam penjara lantas dihukum mati. Di dalam penjara itu juga, beliau menulis sebuah buku kecil yang saat itu disebut sebut sebagai buku the best of best seller di Timur Tengah dan paling ditakuti pemerintahan otoriter, yaitu Ma’allim fith Thariq.
Prof. HAMKA, sosok ulama Nusantara yang senantiasa konsisten di jalan Allah itu, mampu menyelesaikan kitab tafsirnya yang paling fenomenal dan berjilid-jilid tebalnya, Tafsir al-Azhar, juga ketika beliau berada di dalam penjara.
Dr. Yusuf al-Qaradhawi – ulama terkemuka saat ini – dengan terpaksa harus berhijrah dari Mesir keQatarkarena pemerintah otoriter Mesir saat itu memburu para aktivis Islam dan menjebloskannya ke dalam penjara. Namun, disanabeliau mampu menyusun kitab Fiqh Zakat, yang menurut Abul A’la Maududi merupakan kitab yang paling bagus pada abad ke-20.
Dr. Aidh al-Qarni pernah di penjara pula karena pernyataan-pernyataan politik yang ditulisnya dalam sebuah syair. Namun disanabeliau menghabiskan waktu untuk membaca, merenung dan menulis hingga mampu menelurkan karya fenomenal. Karyanya La Tahzan, telah memukau jiwa dan mengguncang dunia. Buku itu kini telah dicetak lebih dari dua juta eksemplar di seantero dunia. Beliau juga dianugerahi penghargaan pemerintah Arab Saudi sebagai penulis paling produktif di Arab Saudi.
Saya hanya bisa geleng geleng saja, api semangat seolah berkobar lagi. Tak sabar menanti esok untuk kembali melanjutkan membaca kisah kisah lain yang tak kalah luar biasa.
Alhamdulillahirobbil ‘alamin.
SawahKarang, Senin(25/7/011) pukul 23.13 WIB
Menginspirasi Dunia dari Ujung Pena
Menginspirasi Dunia dari Ujung Pena
Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Demikian sepotong kalimat di film Laskar Pelangi yang inspiratif itu, selalu menggugahku untuk tak lelah merajut mimpi mimpiku. Seperti tak lelahnya Ikal untuk melanglang hingga ke Sorbonne untuk menera impian besarnya, aku juga tak penat menyimpan impian besarku pula. Impian yang kunyalakan sejak beberapa tahun lalu dan menjadi tulisan setia di barisan depan dreambook ku. Impian menjadi seorang penulis
Menulis bagiku adalah menebar bulir kemanfaatan dan menera keabadian. Seperti yang selalu membekas di memoriku saat seorang Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, batinku mengamini. Manusia takada yang abadi, suatu saat ia pasti akan mati. Jika seekor harimau mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gadingnya, apakah manusia mati tak meninggalkan apa apa? Untuk itu, bagiku selayaknya manusia meninggalkan tak sekedar nama, namun juga jejaknya. jejak kebaikan tentunya. Jejak itulah yang akan diikuti banyak orang, sebanyak aliran doa yang akan mengucur atas tapak kebaikannya yang menjadi teladan.
Dan aku adalah salah seorang anak manusia yang ingin mengukir jejakku lewat tulisan. Sebab aku percaya ; yang hanya diucap akan hilang, yang hanya diiingat juga cepat pergi, tapi yang ditulis akan tetap ada jejaknya.
Dari tulisan, ku ingin menebarkan secercah cahaya kemanfataan. Sebaik baik manusia adalah mereka yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Itulah yang aku yakini. Dari tulisan tulisan itu pulalah ku yakin akan mengalir inspirasi. Inspirasi yang terus akan digali oleh para penerusku nanti. Lewat itu ku bisa menularkan torehan semangatku. Semangat adalah sumbu. Layaknya lampu teplok di desaku, kala aku tak punya sumbu, maka matilah lampuku. Reduplah sekelilingku. Dan tentu gelaplah duniaku. Maka, ku ingin menyalakan sumbu itu dengan goresan tulisanku. Mengalirkan semangat kebaikan yang tersuntikkan lewat deretan huruf di ujung penaku.Aku ingin tulisanku mencerahkan banyak orang.
Akan kunikmati proses ini. Biarlah apa yang terjadi, Tujuan utama tetaplah untuk ku bisa menjadikan tiap goresanya adalah ibadah. Dan dari ujung pena juga aku bisa berbagi kemanfaatan dan inspirasi untuk dunia,
Mahasiswa Turunlah Ke Koran
Diikutkan dalam LOMBA CONFESS 2011 STAN
Mahasiswa Turunlah Ke Koran
Menilik perkembangan koran sebagai produk media massa yang melesat pesat di beberapa dasawarsa terakhir , akan menggiring kita untuk berkesimpulan bahwa koran adalah salah satu corong media yang bertengger eksis dari masa ke masa. Koran telah berhasil memainkan peran sebagai connector atas aliran transfer informasi dan berita kepada khalayak luas dalam versi media cetak. Hal ini, dibuktikan dengan keterterimaan masyarakat akan koran semakin meluas, seiring kehausan masyarakat akan informasi. Merebaknya wahana online- pun ternyata tak cukup mengendurkan eksistensi media yang satu ini, untuk digantikan perannya sebagai corong informasi. Daya jangkau media ini menembus lapisan berbagai strata. Begitu mudah pula didapatkan dalam kemasan harga yang cukup terjangkau berbagai kalangan dan profesi. Tak ayal, koran menjadi mediamassa yang diapresiasi masyarakat sebagai media yang merakyat.
Seiring gaungnya yang tetap kentara dari masa ke masa, Koran semakin berkembang tak lagi menjadi sajian informasi yang monoton dan statis. Ragam isian koran pun kian hari semakin berona. Menelusur ke belantara multi tema. Bentuk tampilan, juga semakin cantik. Hingga menuntut para layouternya untuk memainkan grafis yang tak lagi biasa. Perkembangan yang lain yang perlu ditilik juga adalah tulisan koran sekarang tak melulu dari gulatan pena sang wartawan saja. Sekarang, hampir disemua surat kabar, akan ditemukan space tulisan teruntuk kontributor penulis dari luar. Gayung bersambut, kesediaan surat kabar untuk meluangkan space kepada pembacanya untuk dapat mengguratkan tulisan, ternyata cukup bersambut manis. Terbukti di sudut sudut meja redaksi , akan dapat ditemukan banyak tumpukan kiriman artikel yang siap untuk diseleksi .
Namun, yang menarik adalah dari sekian para kontributor tersebut, nampaknya nama mahasiswa belum begitu memberi warna. Entah factor keberanian , kemauan atau apa yang membuat hanya terhitung sekian persen dari mereka yang telah berani mengkoarkan opininya di lembaran lembaran halamansuratkabar. Menyandang status sebagai strata tertinggi golongan kaum pelajar yang sering disebut sebagai sosok intelek, tajam dan kritis, tentu hal ini patut dipertanyakan.
Mahasiswa dan Beropini di Koran
Ketika bicara mahasiswa, maka kemafhuman atas predikat `maha ` yang bertengger di kata depan sebelum “siswa” tentu memiliki implikasi makna tersendiri. Mahasiswa disebut sebut sebagai jenjang teratas dari siswa- (kaum terpelajar red). Stigma mahsiswa yang lekat dengan sebutan sebagai kaum intelektual pun sudah tak lagi menjadi sebuah diksi yang asing di telinga.
Namun, sayangnya euforia mahasiswa untuk menonjolkan sisi intelektualitas terkadang oleh sebagian masyarakat masih dianggap sebelah mata. Alih alih demi penajamanan kekritisan, aksi turun ke jalan yang kerap dilakukan mahasiswa justru sering dipandang masyarakat hanya sebagai simbolisasi mencuatnya idealisme belaka. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwasanya aksi aksi yang gencar dilakukan hendaknya diimbangi pula dengan adanya melakukan suatu bentuk kekritisan yang lain. Bentuk penajaman kekritisan ini dapat dituangkan lewat menggoreskan tulisan di media. Sebagai kaum yang bercover highly educated dan dianggap memiliki daya nalar kekritisan yang tinggi seharusnya mahasiswa memiliki kemampuan untuk mampu meramu gagasan dalam bentuk opini di media. Opini yang dibesut diharapkan menjadi suatu pemikiran yang rekonstruktif dan solutif terhadap permasalahan seputar bangsa. Sehingga goal nyata itu dapat dilihat didepan mata. Mahasiswa akan menjadi sosok yang dapat memberikan sumbangsih masyrakat baik dari segi pemikiran maupun actionnya
Lewat solusi- solusi yang ditawarkan, mahasiswa diharapkan mampu berkiprah menjadi agen perubahan yang sebenarnya. Tidak hanya sekedar symbol dan label belaka. Selain itu, dipundak mereka juga disematkan sebuah asa untuk menjadi agen solusi perbaikan. Secara moralitas, masyarakat memandang mahasiswa adalah sosok yang mampu bersikap dan bertindak lebih baik dari yang lainnya karena mereka mempunyai latar belakang sebagai kaum intelektual, dimana mereka mengatakan yang benar itu adalah benar dengan penuh kejujuran, keberanian, dan rendah hati. Sebuah kejujuran dan kejernihan itulah yang ditunggu bangsa ini untuk melahirkan gelora para Sukarno muda di jamannya. Berani menyuarakan kritis untuk perbaikan dan gagasan untuk perubahan.
Sekali lagi, mahasiswa sebagai generasi intelektual akan dihargai eksistensinya dengan kualitas intelektualnya pula. Bangsa ini tengah menanti solusi- solusi dan gagasan brilian dari anak bangsanya . Kalau turun kejalan, sudah seringkali dilakukan. Nampaknya turun ke koran menjadi salah satu pilihan disana untuk dilakukan pula.
Koran sebagai media yang tak lekang zaman, akan tetap memainkan peran sebagai motor yang lincah nan gesit untuk menyuarakan informasi dan melebarkan sayap wawasan masyarakat. Dan hendaknya mahasiswa dapat menelisik peluang ini untuk berkontribusi disana. Mengemas opini menjadi satu dari sekian caranya.
Dan sekarang, Mahasiswa turunlah ke Koran!
Enam Belas Murid di Kelas Istimewa
Enam Belas Murid di Kelas Istimewa
Sejenak dahi mengernyit, berderet tanya mengalir deras merasuki tiap inchi cerebrum otak, mencoba untuk mencari jawab kenapa. Apa gerangan yang membuat Kaisar Jepang menanyakan berapa jumlah guru yang masih tersisa, sesaat pasca jepang lumpuh total karena diluhlantakkan oleh bom atom. Apa pula yang membuat tokohIndonesia sebesar Syahrir dan Muhammad Hatta rela mengecap rasa bagaimana menjadi seorang guru. Ataukah seorang Butet Manurung ketika dia rela meninggalkan gemerlap kotanya, demi menjadi guru baca tulis suku Anak Dalam, di belantara pedalaman Jambi. Ataukah seorang tokoh Bu Muslimah Laskar Pelangi yang rela tetap mengajar siswa yang jumlahnya hanya kurang dari hitungan jari tangan manusia di bangunan lapuk SD Muhammadiyah Gantong.
Vocation begitulah seorang Jansen sinamo, mengatakan demikian. Memang nampaknya benar adanya. Bahwa menjadi guru adalah panggilan hati. Aliran deras Energi ‘panggilan hati’ itu tercipta karena timbulnya rasa peduli yang bergradasi. Demikian saya, seoarang yang tak sengaja berhasil kesetrum energy itu setelah sekian lama menyelam dalam kelas istimewa saya. Saya menemukan banyak cerita hidup disana.
Dan cerita itu bermula dari sini
Belum pernah saya bayangkan sebelumnya, jika dalam sepenggal episode hidup saya akan tercatatkan kisah mengharu biru ini. Menunggu waktu waktu untuk mengakhiri studi di sebuah PTN negeri dikotaBudaya Solo, saya terpanggil untuk bereksperimen menjadi seorang guru. Namun, bukan menjadi seorang guru yang mengajar di kelas. Saya harus menjadi guru yang berhadapan dengan sebuah ‘kelas istimewa’. Ya, tepatnya Ketika terdapat program pengabdian masyarakat mahasiswa kampus, yang saya ikuti dimana salah satu objeknya adalah para tukang becak di didaerah Kraton Surakarta yang sering berinteraksi dengan turis mancanegara. Karena kebetulan saya duduk di Jurusan bahasa Inggris, walhasil tertunjuklah saya menjadi salah satu pengajar bahasa inggris praktis bagi tukang becak tersebut.
Hari hari dilalui, dengan jerih payah. Bukan perkara mudah membujuk para tukang becak untuk belajar. Seringkali di hari hari pertama saya dan tim melakukan negosiasi, pulang dengan tangan kosong. Wajar memang, para tukang becak yang rata rata berpendidikan hanya sampai SD. Mungkin takkan berfikir lama untuk berkata tidak. Bagi mereka, kantong kantong di selembar baju yang mereka pakai itu harus terisi demi menghidupi anak istri. Pilihan untuk belajar, tampaknya tak menjadi sebuah pilihan brilian.
Hingga pada akhirnya, setelah bujukan yang kesekian kalinya. Saya dan TIM berhasil meyakinkan mereka dan membuat kesepakatan. Waktu belajar kita adakan di luar jam narik para abang becak, sepekan sekali tiap jum’at sore.
Hari hari pertama belajar, sempat terbersit kekhawatiran, bahwa murid murid kami hanya segelintir orang. Namun, sungguh mengejutkan.Paratukang becak itu ternyata datang bergerombol dengan semangat. Tercatat 16 orang yang akan melanjutkan kelas belajar selama tiga bulan ini. Saya meyeruak bahagia. Performance pertama, saya maksimalkan. Berharap mereka tak jera tuk datang lagi di pertemuan selanjutnya.
Pekan demi pekan pun mulai lamat lamat merayap, meninggalkan jejak jejak penuh kesan yang saya rasakan . Gejolak deras mengaliri urat syaraf ketika harus beradu pandang dengan para murid saya, bapak tukang becak yang otot otot tanganya tebal membiru. Di sudut hati saya, terbersit sebuah gumam, “memang benar bagian dari 8 pilar etos guru adalah menebarkan rahmat’. Dan Rahmat itu adalah kebaikan berupa ilmu yang disampaikan kepada siapa saja yang membutuhkanyya. Siapapun dia, tanpa memandang strata,usia, dan harta.
Ditengah-tengah perjalanan menyelesaikan kewajiban saya mengajar, saya
merasakan bahwa pompa semangat itu justru memancar kuat dari rona murid-murid yang penuh semangat dan warna. Memang terkadang tak harus datang dari bilik hati seorang guru sendiri. Begitu pula dengan kelas istimewa saya. Enam belas murid, yang selalu bersemangat. Ya, ingatan saya masih kuat dan lekat. Mereka datang setengah jam sebelum belajar dimulai di serambi Masjid Paramosono, Kraton Solo. Sembari menunggu Mereka beristirahat dan berbincang bincang bersama teman teman sesama tukang becak. Sesekali saya melihat ada beberapa diantaranya, membuka kertas materi yang kami berikan saat belajar minggu lalu. Hingga sejenak seakan mereka terlupa akan penatnya mengkayuh roda tiganya seharian demi asap dapur tetap mengepul. Adzan ashar masjid paramosono, seakan menjadi lonceng penanda bahwa ba’da ashar belajar akan dimulai. Saya pun bersiap, memohon dalam sholat dan doa saya sebelum mengajar agar apa yang saya lakukan bersama teman teman ini dapat benar benar bermakna bagi mereka. Agar ilmu yang saya sampaikan bukan bak buih terhempas gelombang. Saya ingin ilmu ini jadi amal yangkanterus dialirkan.
Dari bapak bapak itu, saya diajarkan bagaimana menjadi pengajar, harus mau diajar. Termasuk diajar arti kesabaran. Setiap pertemuan, saya memberikan kosa kata baru pada mereka. Bagaimana kesabaran saya diuji dengan saya harus memperhatikan satu demi satu bapak bapak renta yang harus mengulang puluhan kali hanya untuk mengucapkan satu vocabulary (kosakata) itu. Berulang kali pertanyaan lucu yang akan saya kenang. Kenapa “I” ( versi inggris ) dibaca “AI”. Kenapa pergi hari ini diucapkan “GO”, sedangkan kemarin diucapkan “WENT”dan sederet tanya sederhana lainnya. Seringkali mereka berseloroh bahwa Bahasa Inggris itu bahasa plin plan ”masak,la wong ganti waktu aja kok ganti bahasa, to mbak?” protes mereka. Dan sekian expressi yang sering membuat saya tersenyum sendiri.
Taklupa, saya juga menyelipkan kata kata motivasi kepada para bapak untuk tetap senang belajar, di tiap pertemuan. Demikian sebaliknya, para bapak becak itu seringkali memberikan petuah dan nasihat kepada saya dan teman teman. Nasihat menghadapi riak kehidupan, tentu saja karena mereka telah mengecap asam garam dan segala pahit nan getir gelombang kehidupan. Kombinasi barter pengalaman yang seru dan berkesan dalam.
Ah, indah rasanya kelak jika mengingat ini. Saya lebih senang menyebutnya adalah real teaching. Mengajar yang sebenarnya. Siapa bilang mengajar itu melulu harus berkutat pada sekedar Kelas, bangku, kapur dan papan tulis?
Dan pada akhirnya, saya tutup cerita ni dengan kembali mengenangi mereka , guru guru yang luar biasa. Beberapa sosok guru hebat itu mengingatkan saya pada empat baris wiseword William Arthur .
Guru yang biasa, berbicara
Guru yang bagus, menerangkan
Guru yang hebat, mendemonstrasikan
Guru yang agung, memberi inspirasi
Demikian cerminnya. Seorang sosok Bu Muslimah ternyata mampu mengawal mimpi mimpi anak didiknya hingga para Boy Belitong itu mampu membesut impiannya menuju Sorbone, Prancis. Demikian pula Butet harus tangguh bertahan di rimba nan luas, demi mendobrak pemikiran konservatis suku pedalaman yang buta akan huruf dan angka.
Sebagai penutup, kembali mengingati 16 Murid saya, para tukang becak yang hebat nan bersemangat itu bak menyuntikkan morphin spirit ketubuh saya. Stamina ini perlu dijaga, hingga kelak saya akan sampai pada waktunya akan melihat mereka lulus dari kelas ini dengan rona berbunga-bunga. Inilah mimpi mimpi saya pada mereka. Mereka Enam Belas Murid di Kelas Istimewa. Kelak mereka akan jadi tukang becak yang cerdas berbahasa dunia.
2 april 2011
Alhamdulillah, karya ini dibukukan dalam antologi pemenang lomba inspiring teacher
Erny Ratnawati
Jangan takut dan jangan bersedih!!!
sebuah renungan kecil untuk engkau yang merasa lelah
Ketika terengah engah aku berjalan,menggengam nafas lelah satu demi satu, berpeluh , berairmata? terbersit bisik kata”apakah ini sia sia?”…..maka aku pun berkata ijinkan aku untuk beristirahat, menyandarkan punggung ini ke pohon, biarkan dulu aku bersembunyi…aku masih takut untuk bermimpi, dan bahkan aku `ingin berlari……. Dan jika beginilah memamg kiranya suratannya, bahwa disini tak ada hingar bingar yang menggempitkan telinga, lorong lorong sunyi ,sepi,keluar dari lingkaran kenyamanan, terkadang menyesakkan dan terkadang dalam kesendirian…
sepotong azzam harus dihujamkan untuk membantu memahamai arti bahwa ”aku harus kuat melebihi kekuatanku sendiri ….” Dan ketika kulihat, bersama saudara saudaraku tengah beriringan mengusap peluh yang mengucur, kami pun menengadahkan tangan, wahai Allah , bila benar ini jalan menuju surga MU , maka tunjukilah kami arah jalanMU,biarkan kami jadi bagian yang menegakkan seletih apapun itu,jangan biarkan gerak gerak kecewa hembusan syetan meluluh lantakkan keyakinan.Kuatkan kami untuk terus berjalan meski dengan telapak berdarah, namun dengan mata terbuka,agar selalu kulihat keindahan kasih sayang MU dari arah mana saja kami berjalan melangkahkan tapak tapak ini…… Wahai Robb, sungguh pada tiap teetes duka,sayat rindu,lara sendu,tiap perih sepi , kami tahu engkau punya segala jawabnya…
Maka ajarilah kami,untuk mengerti bahasa MU…….. Dan Sampaikan kepada musafir musafir agamaMu yang bergerak dengan sunyi, yang beramal dengan sepi, yang terus berusaha memberi tanpa henti……,Engkau Allah paasti takkan pernah membiarkan mereka sendiri, teringat titahmu dalam kitabmu yang suci”La takhof,wala tahzan. Jangan takut dan jangan bersedih!!! Sungguh saat kita tertatih di jalanNYA.
Dia sedang berlari menjemput kita…..
Erny Ratna Waazfa,31 januari 2011
Menilik Potret Pendidikan Indonesia
Menilik Potret Pendidikan Indonesia
Dalam panggung sejarah manusia, pendidikan telah ikut mewarnai catatan peradaban. Mesir kuno dan Yunani kuno memiliki peradaban yang tinggi, karena pendidikannya yang maju. Bangsa di dunia yang pendidikannya berkembang, menjadi negara yang maju pesat antara lain AS, Jepang dan Korea. Begitu pula Jerman dan Prancis yang basis pendidikan mereka kuat sehingga menjadi negara dengan tingkat kemajuan yang luar biasa. Jepang yang hancur setelah perang Dunia II memulai bangkit dengan melakukan pembenahan sistem pendidikan karena mereka sadar pendidikan adalah investasi jangka panjang, dan hasilnya jepang pun menjadi negara maju terdepan dalam percaturan ekonomi dunia. Tak terelakkan lagi pendidikan adalah salah satu instrumen penting untuk membangun sebuah bangsa.
Berkaca dalam potret pendidikan kita, data statistik menunjukkan mayoritas penduduk Indonesia berusia 15- 64 tahun berpendidikan dasar sebesar 36,02%, SD dan SMP 55,6 %, SD+SMP+SMA sebanyak 78,2 %, Perguruan Tinggi adalah 5,1 % dan tidak berijazah sebanyak 16,8 %. Angka yang tinggi juga tercatatkan dalam kasus buta huruf dan putus sekolah di Indonesia .
Menurut data UNESCO 2009 peringkat pendidikan Indonesia turun dari 58 menjadi 62 di antara 130 negara di dunia. Education Development Index (EDI) Indonesia adalah 0.935, di bawah Malaysia (0.945) dan Brunei Darussalam (0.965). Demikianlah cukup data yang memaparkan sekaligus menggambarkan kenyataan bahwasanya daya saing pendidikan Indonesia sekarang masih jauh panggang dari api.
Pendidikan gratis yang sempat digulirkan pemerintah sebenarnya cukup memberi angin segar, sebagai usaha dalam pemerataan pendidikan, terutama ditingkat sekolah dasar dan menengah pertama. Walaupun juga belum semua dapat terealisasikan sepenuhnya. Akan tetapi, permasalahan timbul lagi ketika siswa akan melanjutkan ke jenjang sekolah atas. Wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan dianggap sudah tak lagi relevan. Wajar 12 tahun mulai diwacanakan karena bagaimanapun tingkat sekolah atas akan memberikan lebih banyak wawasan dan kecakapan . Adanya pilihan penjurusan, seperti sekolah vokasi atau kejuruan (SMK) dengan berbagai macam jurusan semisal, pariwisata, tata boga, tata busana ataupun sejenis STM yang memiki jurusan seperti jurusan teknik mesin, bangunan, dan lain lain, akan menunjang bekal softskill untuk siap menghadapi dunia kerja pasca lulus. Begitu juga setingkat Sekolah Menengah Atas yang dijuruskan untuk dapat melanjutkan ke jenjang perguruan Tinggi dan selanjutnya menempuh spesialisasi ilmu yang akan digeluti. Namun pada realitanya, biaya sekolah di sekolah lanjutan tingkat atas belum terjangkau di kalangan rakyat bawah. Mereka masih harus membayar pendidikan dengan harga yang sangat tinggi , dan itu adalah suatu pilihan yang cukup menyesakkan dada. Karena apabila orang tua tidak memiliki cukup biaya maka anaknya pun takpunya pilihan lain kecuali tidak dapat melanjutkan sekolah. Rencana pemerintah lainnya dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan diIndonesia ini yaitu dengan adanya otonomi pendidikan yang mengalokasikan APBD sebesar 20% diperuntukkan bagi penyelenggaraan pendidikan, hal itupun masih terlihat sulit dan tersendat-sendat untuk dilakukan. Tak jarang alasan yang dilontarkan pemerintah daerah masih seputar kebimbangan dalam kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pusat mengenai pengalokasian anggaran tersebut.
Permasalahan Ujian Nasional turut mewarnai potret pendidikan kita. Meski gugatan UN telah dimenangkan di meja hijau mahkamah agung, akan tetapi pemerintah bersikukuh tetap menjalankan ujian nasional, dengan pertimbangan UN bukanlah satu satunya faktor penentu kelulusan. Hal ini seakan akan menjadi obat penawar bagi sekian ribu anak bangsa yang tengah menanti ujian nasional, kebijakan yang membuat pada akhirnya proses sekian tahun mereka belajar tak lagi harus digantungkan dengan ujian yang hanya dilaksanakan dalam hitungan hari. Catatan kelam kisah kisah anak bangsa yang seakan terenggut masa depannya hingga terjadi kasus bunuh diri di beberapa daerah hanya karena gagal di UN tahun tahun lalu serta terjadinya banyak manipulasi dan kecurangan dalam ujian nasional cukup menjadi alasan mahkamah agung mengetok palu keputusan untuk meninjau kembali pelaksanaan ujian nasional. Sebuah pelajaran berharga untuk melakukan pengawasan dan perbaikan pelaksanaan UN lebih profesional dan transparan. Demi tercetaknya lulusan calon penerus bangsa yang berkualitas dan terwujudnya sebuah sistem pendidikan yang lebih baik lagi sekarang dan masa yang akan datang.
Kurikulum dalam pendidikan Indonesia yang telah mengalami beberapa kali pergantian dirasa masih cukup merumitkan bagi pelaku sistem, baik guru, siswa dan sekolah. Walaupun pada dasarnya pergantian tersebut ditujukan sebagai bentuk penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya. KTSP yang tengah dijadikan kurikulum resmi sekarang turut mengembangkan kompetensi lokal daerah sebagai salah satu objek yang diintegrasikan dalam pengajaran pendidikan dengan memberi kewenangan sekolah atau guru untuk menyusun silabus pembelajaran dan memasukkan muatan lokal berbasis kearifan daerah kedalamnya. Kurikulum yang terus diperbaharui ini semoga benar benar dimaksudkan bukanlah sebagai sebuah bentuk inkonsistensi kebijakan pemerintah tapi sebuah langkah strategis berasas fleksibilitas yang bertujuan untuk mendapatkan capaian tujuan pendidikan yang lebih berkualitas.
Satu lagi yang mewarnai rangkaian perjalanan nasib pendidikan kita yakni dipenghujung tahun 2008, yang dirasakan terutama oleh insan akademisi di Perguruan Tinggi. Gonjang ganjing pendidikan kembali terjadi. Rabu tertanggal 17 Desember 2008 BHP (Badan Hukum Pendidikan ) yang semula hanya berupa RUU pada akhirnya, telah sah menjadi Undang undang. BHP yang sudah lama menuai kontroversi itu pun kembali mengundang berbagai tanggapan dan aksi. Mulai yang hanya geram sampai yang turun ke jalan. Kekhawatiran akan terjadinya beberapa implikasi dari penerapan BHP adalah kemungkinan adanya celah untuk mempailitkan institusi pendidikan (layaknya badan usaha), serta kemungkinan perguruan tinggi untuk melakukan bisnis pendidikan atau bahasa kerennya “investasi dalam portofolio” (ini tercantum jelas dalam UU BHP). Namun disi lain kajian mengenai UU BHP, juga menyebutkan ada pula beberapa point yang dianggap cukup menguntungkan baik bagi mahasiswa maupun institusi pendidikan. Semuanya akan berjalan dengan baik bila keputusan ini dijalankan dengan bijak. Pada hakikatnya, pendidikan adalah nilai luhur pembangunan kepribadian bangsa, oleh karena itu meskipun pendidikan tak bisa dilepaskan dari segi pendanaan, namun kita semua berharap pendidikan tidak juga dimanfaatkan oleh segelintir orang ataupun institusi untuk mengeruk keuntungan ataupun sekedar profit oriented belaka, apalagi untuk tujuan dikomersialkan. Karena bagaimanapun esensi mulia sebuah nilai pendidikan memang takkkan terbeli dengan hitungan materi.
Menilik dari kaca potret pendidikan kita, kita perlu merenungkan kembali salah satu aspek mendasar dari sistem pendidikan kita yakni tentang tujuan pendidikan kita. Dalam undang undang tentang sistem pendidikan nasional telah ditetapkan tujuan pendidikan nasional kita yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertakqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini yang seharusnya mewarnai orientasi pendidikan kedepan dengan berbagai turunananya, termasuk penerapan kebijakan atau model integrasinya dalam material proses pendidikan. Output pendidikan yang beriman dan bertaqwa diharapkan memberi pengaruh secara nyata baik secara etika, hukum serta moral dan agama dalam ranah kerja yang dilaksanakan di setiap lini kehidupan. Manusia yang memiliki `ruh` dan mampu mengembangkan nilai nilai bijak dan mengarahkan pada kecerdasan intelektual/akademik atau Intelegence Quotient(IQ), kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) dan kecerdasan spiritual atau Spiritual Quotient (SQ). Ketiganya menjadi komponent yang semestinya seimbang (balance) , tidak hanya dari segi intelektual saja tapi juga dari sisi emosional dan spiritual. Seperti yang dituturkan oleh Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro ”Pendidikan yang hanya menekankan pada aspek intelektual saja akan menjauhkan anak dari masyarakatnya”. Sehingga, pendidikan karakter berbasis moral menjadi wacana yang dapat diaplikasikan untuk dapat mengintegrasikan nilai nilai moral pada lini pendidikan. Sehingga output pendidikan yang sebenarnya tidaklah hanya lulusan yang bertitelkan sekedar formalitas gelar atau deretan angka di lembaran ijazah, akan tetapi lulusan proses pendidikan yang dapat menjadi manusia seutuhnya. Insan Sejati berkarakter kuat dan Cerdas, cakap serta bermoral.
Diharapkan pendidikan Indonesia akan mulai menggeliat menunjukkan perubahan yang lebih baik, baik dari pembenahan segi infrastruktur maupun dari kualitas pendidikan itu sendiri. Karena pendidikan adalah dasar fondasi pembentukan Sumber Daya Manusia di suatu bangsa. Totalitas dari setiap elemen bangsa sangatlah diharapkan karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama, sekali lagi pendidikan tidak cukup hanya satu dua tangan saja yang bergerak, namun yang diperlukan adalah komitmen yang disinergikan dengan langkah gerak pemerintah bersama segenap elemen 210 juta jiwa rakyat bangsa indonesia untuk membangun pendidikan Indonesia menuju bangsa Indonesia yang berkualitas mandiri dan bermartabat.
It’s about Time and Moslem!
Moslem and TIME. TIME. TIME…….!!!
( Telaah berdasar Al-Quran dan sunah)
Betapa pentingnya. bahkan Allahpun bersumpah dengan waktu
Allah berfirman dalam QS. Al-Lail ayat 1 dan 2.
Yang artinya: Demi malam apabila menutupi(cahaya siang). Dan siang apabila terang benderang.
Allah berfirman dalam QS. Al-Fajr ayat1dan 2.
Yang artinya: Demi fajar. Dan malam yang sepuluh
Allah berfiman dalam QS. Adh-Dhuha ayat 1 dan 2.
Yang artinya: Dan siang apabila terang benderang. Dan demi malam apabila telah sunyi.
Allah berfirman dalam QS. Al-Ashr ayat 1dan 2.
Yang artinya: Demi masa, sesungguh nya manusia benar-benar dalam kerugian.
Dari sini telah nampak dengan dengan jelas bahwasanya: Allah bersumpah dengan waktu-waktu. Itu berarti menandakan kepada kita bahwasanya: sedetik dari waktu dan umur kita akan dimintakan pertanggung jawabannyan kelak di hari akhirat.
Oleh karena itu jangan lah kita menunda-nunda taubat karena kita tidak tahu seberapa panjangkah umur kita, maka mulai dari sekarang kita perbaharui kembali niat-niat kita. Karena amal itu bergantung pada niatnya. Kalau niat kita semata-mata hanya mengharapkan Ridha Allah, Insya Allah syurga menanti kita kelak.
Sebagaimana Allah swt telah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat: 15-18.
Yang artinya: sesungguhnya orang-orang bertaqwa berada di dalam taman-taman syurga, dan di mata air-mata air sambil mengambil apa yang diberikan Tuhan mereka kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia ialah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit tidur di waktu malam. Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun keapada Allah
Sebagaimana Rasulullah saw bersabda yang artinya:
Kedua kaki seorang hamba tidak bisa bergerak pada Hari Kiamat hingga ia ditanya tentang empat hal: tentang Umurnya untuk apa ia gunakan, tentang Ilmunya apa saja yang telah ia amalkan, tentang Hartanya dari mana ia mendapatkannya dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang Tubuhnya untuk apa ia habiskan.
Jadi dari sini kita bisa mengambil kesimpulan dan pelajaran Bahwasanya manusia itu diberikan nikmat yang begitu banyak, kelak juga akan diminta pertanggung jawabannya, apalagi semakin banyak harta kita akan semakin banyak lagi pertanyaan –pertanyaan yang akan ditanyakan kepada kita sebelum kita kekal disyurga –Nya.
Rasulullah saw bersabda yang artinya: ada dua nikmat dan banyak orang rugi di dalamnya yaitu:nikmat Sehat dan nikmat Waktu luang.
Oleh karena itu, hendaklah kita patut bersyukur atas nikmat umur yang masih kita rasakan sampai detik ini. Dan hendaklah kita membuat konsep atau jadwal agar waktu kita benar-benar terisi buat bekal ke akhirat kelak. Karena hanya amal shalihlah yang hanya bisa mengantarkan kita masuk ke syurga-Nya.
Dalam ajaran Islam, disampaikan bahwa ciri-ciri seorang Muslim yang diharapkan adalah pribadi yang menghargai waktu. Seorang Muslim tidak patut menunggu dimotivasi oleh orang lain untuk mengelola waktunya, sebab sudah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Ajaran Islam menganggap pemahaman terhadap hakikat menghargai waktu sebagai salah satu indikasi keimanan dan bukti ketaqwaan, sebagaimana tersirat dalam surah Al-Furqan/25 ayat 62 yang berbunyi “Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.”
Syiar Islam menempatkan ibadah ritual pada bagian-bagian waktu dalam sehari dari siang hingga malam dan pada waktu-waktu tertentu dalam setahun. Sholat lima waktu diwajibkan dari memulai hingga mengakhiri aktivitas dalam sehari, dan waktu-waktunya selaras dengan perjalanan hari. Dalam syariat Islam dinyatakan, bahwa malaikat Jibril diutus oleh Allah untuk menetapkan waktu-waktu awal dan akhir pelaksanaan sholat lima waktu, agar menjadi panduan dan sistem yang baku dan cermat dalam menata kehidupan islami. Di samping itu, juga berfungsi untuk mengukur detik-detik sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.
Menurut Yusuf Qardhawi, mengapa begitu pentingnya umat Islam mempelajari manajemen waktu, adalah karena hal-hal sebagai berikut:
Ajaran Islam begitu besar perhatiannya terhadap waktu, baik yang diamanatkan dalam Al Qur’an maupun As Sunnah;
Dalam sejarah orang-orang Muslim generasi pertama, terungkap, bahwa mereka sangat memperhatikan waktu dibandingkan generasi berikutnya, sehingga mereka mampu menghasilkan sejumlah ilmu yang bermanfaat dan sebuah peradaban yang mengakar kokoh dengan panji yang menjulang tinggi;
Kondisi real, kaum Muslimin, belakangan ini justru berbalikan dengan generasi pertama dahulu, yakni cenderung lebih senang membuang-buang waktu, sehingga kita tidak mampu berbuat banyak dalam menyejahterakan dunia sebagaimana mestinya, dan tidak pula berbuat untuk akhirat sebagaimana harusnya, dan yang terjadi adalah sebaliknya, kita meracuni kehidupan dunia dan akhirat sehingga tidak memperoleh kebaikan dari keduanya.
Jika kita sadar bahwa pentingya manajemen waktu, maka tentu kita akan berbuat untuk dunia ini seolah-olah akan hidup abadi, dan berbuat untuk akhirat seolah-olah akan mati esok hari, dan tentunya doa ini akan menjadi semboyan dalam hidup kita:
“… Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan perliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Al-Baqarah/2: 201)
Di samping itu perlu kita sadari, bahwa Allah SWT telah bersumpah dengan menggunakan waktu untuk menegaskan pentingnya waktu dan keagungan nilainya, seperti yang tersurat dan tersirat dalam Al Qur’an Surah Al-Lail/92:1- 2, Al-Fajr/89:1- 2, Adh-Dhuha/93: 1-2, dan Al-‘Ashr/103: 1-2.
Oleh karena itu, harus kita sadari betapa pentingnya mempelajari manajemen waktu bagi seorang Muslim. Namun sebelum kita mempelajari manajemen waktu, maka perlu kita sadari terlebih dahulu beberapa tabiat waktu agar kita benar-benar dapat memahami esensi dari waktu tersebut, yakni: Cepat berlalu; Tidak Mungkin kembali; Harta termahal. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa waktu adalah modal yang paling unik yang tidak mungkin dapat diganti dan tidak mungkin dapat disimpan tanpa digunakan, serta tidak mungkin mendapatkan waktu yang dibutuhkan meskipun dengan mengeluarkan biaya.
Mengelola waktu berarti menata diri dan merupakan salah satu tanda keunggulan dan kesuksesan. Oleh karena itu, bimbingan untuk mendalami masalah ini adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita semua, apapun jabatan dan profesi kita serta tidak memandang tinggi rendahnya kedudukan seseorang.
Surat Sayang Dari ALLAH SWT
Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan
Berharap engkau akan berbicara kepada KU, walaupun
hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur
kepada KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi
dalam hidupmu hari ini atau kemarin ……
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan
diri untuk pergi bekerja …….
AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap,
AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti
dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk ………
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama
Lima belas menit tanpa melakukan apapun.
Kemudian AKU Melihat engkau menggerakkan kakimu.
AKU berfikir engkau akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari
ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan
kabar terbaru.
AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan
AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu
AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling,
mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKU,
itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan
melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU
dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan,
tetapi engkau tidak melakukannya …….
masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara kepadaKU, meskipun saat engkau pulang kerumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang
harus kau kerjakan.Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV,
engkau menghabiskan banyak waktu setiap hari didepannya,
tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yg ditampilkan.
Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak berbicara kepadaKU ………
Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah.
setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu,
kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa patahpun namaKU,
kau sebut. Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu.
AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari.
AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar
terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu, setiap
hari AKU menantikan sepatah kata, do’a, pikiran atau syukur dari hatimu.
Keesokan harinya …… engkau bangun kembali dan
kembali AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari
ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaKU
……..Tapi yang KU tunggu …….. tak kunjung tiba …… tak juga kau menyapaKU.
Subuh …….. Dzuhur ……… Ashyar ……….Magrib……… Isya dan Subuh kembali, kau masih mengacuhkan AKU ….. tak ada sepatah kata, tak ada seucap do’a, dan tak ada
rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU ……….
Apa salahKU padamu …… wahai UmmatKU? ?
Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU berikan,
harta yang KU relakan, makanan yang KU hidangkan, anak-anak yang
KUrahmatkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadaKU ………… !!!!!!!
Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap
berharap suatu saat engkau akan menyapa KU, memohon
perlindungan KU, bersujud menghadap KU …… Yang
selalu menyertaimu setiap saat ……..
ketika saya teringat dengan Umar.R.A
ketika saya teringat dengan sahabat Umar radiyallahu anhu, maka mengalirlah puisi ini……
Berkisah Tentang Umar
Berkisah tentang Umar
Kau tentu kan ingat
Di pekat malam pekat nan gelap
Dua pikulan
Karung makanan nan berat
Dipundak seseorang
Pemegang tampuk kepemimpinan
Dengan jalan mengendap endap
Menjelajaah negeri
Mencari dimanakah gerangan Rakyatnya
Adakah kiranya yang masih kelaparan???
Umar Tak berharap puji sanjung singgah padanya
Karena Baginya….
Cukup Allahlah saja yang melihatnya
Ingatkah engkau
Saat itu
Di malam dingin menggigil
Menusuk tulang setiap insan
Tak surut kan langakh Umar
Untuk terus berjalan
Seketika tibalah padanya…
Suara cakap cakap dua manusia
Sayup anak mungil dan sang bunda
Ternyata Si mungil tak lagi kuat menahan laparnya
Alah sebab takada yang bisa dimakanya
Batu batu pun dididihkan
Untuk menghibur sang putra
Demikian kiranya …
Sang kholifah menitikkan airmata
Melihat sang rakyat dirundung derita
Maka akan kau lihat….
Sang kholifah segera memanggul karungnya
Ia letakkan didepan pintu bunda papa
Hanya 2 ketuk jarinya
Tanpa isyarat apa apa
Berlalulah Ia……
Sekali lagi baginya
Cukup Allahlah saja yang melihatnya
Berkisah tentang Umar
Ku akan menelusur jejak sejarah
Bagaimana kafir nan keras perangainya
Namun nian lembutnya Ia
Dalam meneguk cahanyaNya
Luluh dalam alunan surat TOHA
Jadilah Ia diantara 2 manusia
Yang Rosul pintakan dalam doanya
Untuk menguatkan Dinul islam
Merangkak membangun perdaban
Berkisah tentang Umar
Mengingatkan kita
Akan luasnya Rohmat Allahu Robbi
Bagi siapapun yang DIA kehendaki
Umar yang jahili
Bahkan mengubur hidup putrinya sendiri
Umar yang jahili
Yang mencaci dan memusuhi Sang Nabi
Dengan Cahaya Illahi
Menjadi kholifah pengganti Sang Nabi
Umar ibnu Alkhottob……….
Umar ibnu Alkhottob……..
Umar ibnu Alkhottob…..
Berkisah tentangmu adalah mengurai sejarah
Membaca memor, Mereguk hikmah
Mengais puing puing peradaban
Hinngga dunia diakhir zaman
Sosok sepertimu kan selalu kami nantikan
………………………………….
Erny Ratna Waazfa
Saat kaki lelah melangkah
Diwaktu engkau merasa sendiri
Saat Jenuh Sulit Diakhiri
Ketika kaki seperti tak mampu berdiri
Jika semua penolong seakan lari
Saat tiada teman untuk berbagi
Ingatlah Allah yang tidak pernah membiarkan kita melangkah sendiri
Allah memuji keikhlasan dalam kesendirian
Memberi kedewasaan ketika masalah berdatangan
Dan melatih ketegaran dalam kesakitan
Hidup ini indah jika Allah ada di hati
Jika engkau Terlelah
Ketika wajah ini penat memikirkan dunia,maka berwudhulah
Ketika tangan ini ini letih menggapai cita cita maka bertakbirlah
Ketika pundak ini tak kuasa memikul amanah maka bersujudlah
Ikhlaskan semua dan mendekatlah kepadaNYa
Agar tunduk disaat yang lain angkuh
Agar teguh disaat yang lain runtuh
Agar tegar disaat yang lain terpuruk dan terlempar……..
Bergeraklah
Bergeraklah karena diam tanpa arti adalah mati
Beribadahlah karena kau taktahu apakah kau besok masih hidup
Bergeraklah raih kemenangan dengan produktivitas
Bergeraklah,temui dan kembangkan potensimu
Bergeraklah dari diri sendiri,dari yang kecil dan dari saat ini
Bergeraklah karena semua kesuksesan diawali dari langkah pertama…..
Ribuan mil langkah kesuksesan selalu diawali langkah yang pertama………

