Arsip Kategori: dakwah tulisan
Jalan Cinta Pejuang Pena Kebaikan
Jalan Cinta Pejuang Pena Kebaikan
–A Drop of Ink can Move a million people to think–
By : Erny Ratnawati
Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Demikian sepotong kalimat di film Laskar Pelangi yang inspiratif itu, selalu menggugahku
untuk tak lelah merajut mimpi mimpiku. Seperti tak lelahnya Ikal untuk melanglang hingga ke Sorbonne untuk menera impian besarnya, aku juga tak penat menyimpan impian besarku pula. Impian yang kunyalakan sejak beberapa tahun lalu dan menjadi tulisan setia di barisan depan dreambook ku. Impian menjadi seorang penulis. Demikian kiranya kata optongan wise word A Drop of Ink can Move a million people to think diatas mengatakan bahwa tinta dapat merubah fikiran jutaan orang. Selaras dengan imbalan dan harga tinggi yang dijanjikan dalam hadist masyhur yang disabdakan oleh titah nabiku. “setetes tinta para ulama lebih berat dibanding setetes darah para syuhada”. Demikian lebih menggebukan mimpiku untuk menjadi para pejuang pena kebaikan.
Menulis bagiku adalah menebar bulir kemanfaatan dan menera keabadian. Seperti yang selalu membekas di memoriku saat seorang Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, batinku mengamini. Manusia takada yang abadi, suatu saat ia pasti akan mati. Jika seekor harimau mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gadingnya, apakah manusia mati tak meninggalkan apa apa? Untuk itu, bagiku selayaknya manusia meninggalkan tak sekedar nama, namun juga jejaknya. jejak kebaikan tentunya. Jejak itulah yang akan diikuti banyak orang, sebanyak aliran doa yang akan mengucur atas tapak kebaikannya yang menjadi teladan.
Dan aku adalah salah seorang anak manusia yang ingin mengukir jejakku lewat tulisan. Sebab aku percaya ; yang hanya diucap akan hilang, yang hanya diiingat juga cepat pergi, tapi yang ditulis akan tetap ada jejaknya.
Dari tulisan, aku ingin menebarkan secercah cahaya kemanfataan. Sebaik baik manusia adalah mereka yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Itulah yang aku yakini. Dari tulisan tulisan itu pulalah aku yakin akan mengalir inspirasi. Inspirasi yang terus akan digali oleh para penerusku nanti. Lewat itu aku bisa menularkan torehan semangatku. Semangat adalah sumbu. Layaknya lampu teplok di desaku, kala aku tak punya sumbu, maka matilah lampuku. Reduplah sekelilingku. Dan tentu gelaplah duniaku. Maka, ku ingin menyalakan sumbu itu dengan goresan tulisanku. Mengalirkan semangat kebaikan yang tersuntikkan lewat deretan huruf di ujung penaku. Aku ingin tulisanku mencerahkan banyak orang.
Dan tentang belajar menulis aku yakin dan percaya bahwa Allah tak pernah ingkar akan janji-Nya. Bukankah DIA telah menjanjikan perubahan hanya akan datang kepada mereka yang yang
mau merubah diri mereka sendiri. Demikian aku memahami dengan menulis sekarang ini dan itu menjadi komporku untuk tidak berhenti menyalakan api semangat. Empat buah kata berakhiran – at yakni SEMANGAT, KERINGAT, TEKAT dan BAKAT adalah kata kuat yang memiliki persen sendiri sendiri.
Aku menyebut semangat adalah tali sumbu. Sumbu yang dibakar untuk menyalakan kobaran api di sebatang lilin tegak. Demikian, aku menyebut semangat belajar begitu kuat perannya menggebukan diri untuk menulis layaknya tali sumbu lilin itu. Aku, yang dulunya adalah jamaah peserta workshop kepenulisan, yang jarang absent. Dimana ada training menulis, disitu pula aku ada. Berlari dari sana kesini, mencoba mencari setitik inspirasi dari para penulis yang tenar namanya. Namun apa yang kudapat. Ilmu tentu. Semangat? Iya tentu aku dapat. Namun lambat laun, kurasa semangat hanya sekejap , hanya bertahan maksimal sekitar 2x 24 jam pasca kakiku melangkahkan keluar dari acara itu. Selebihnya, semangat itu mulai luntur. Dan akhirnya kutersadar bahwa semangat terbesar itu akan datang dari diriku sendiri. Kapankah pena ku akan tergerak, jika semangatku dalam hati tak menyala. Jika aku sibuk mememolototi para penulis di seminar seminar kepenulisan, namun aku tak segera menulis. Ah, omong besar saja kukira. Layaknya sebaik apapun resep makanan tak bermanfaat jika aku tak mau memprosesnnya menjadi masakan. Materi itu hanya akan jadi penghias notes ku saja jika aku tak segera mengaplikasikannya. Pun segera ku bergegas, menulis apa saja. Ikut lomba menulis dimana mana. Sampai ku pada titik jenuh. Ketika taksatupun lomba kumenangi, tak satupun tulisanku diterima redaksi, dan ketika tulisanku jadi bahan tertawaan karena begitu anehnya. Hingga aku pernah ingin mengundurkan diri saja dari dunia kepenulisan. Aku resah dan gelisah. Aku seolah tak berjodoh dengan dunia tulis menulis. Aku mencari jawab. Keeistiqomahan sebenarnyalah jawabannya. Berbagai macam cerita pada akhirnya menyadarkanku bahwa belajar itu bertahap dan bukan serba instan. Bukannya bayi yang baru lahir, tak langsung bisa berdiri? tapi ia harus belajar terlentang, tengkurap, merangkak dulu baru bisa berdiri?. Demikian analogi yang akan mengingatkan kita bahwasanya di jejak jejak gemilang itu ada jalan panjang yang harus dilalui setapak demi setapak, sedepa semi sedepa dan sehasta demi sehasta.
mataku kian terbuka tentang cerita dari kawan kawan yang luar biasa gigihnya. Layaknya inspirasi seorang Tukang becak yang telah menulis hampir 500 karya, dan akhirnya karya ke lima ratuslah yang berhasil menghias media. Itulah Bang Joni Ariadinata. dan saya pun juga menemukan sosok sosok inspiratif nan gigih itu juga. Seorang sahabat yang gigih menulis tulisannya dengan tangan, bukan dengan mesin ketik atau laptop ternyata tak kenal henti pula untuk berusaha. Tentang teman yang meminjam satu laptop dari satu teman ke teman lain bergantian, dari satu rental ke rental lain, demi dia bisa menulis. Sungguh aku malu kawan, dengan mereka yang tak pantang menyerah menera kata itu. Bahkan ketika fasilitas pun takada. Kufikir, adakah lagi alasan yang membuatku tak menulis sekarang juga dan memanfaatkan segala fasilitas dan kemudahan sebagai karunia Allah untukku. Ah kukira memang terkadang aku pintar mencari sejuta alasan untuk tidak menulis. Hingga akhirnya,aku membuat azzam, menulislah apapun juga, sekarang juga. Dan temapt temapt saya belajar seperti komunitas kepenulisan seperti FLP, SIM dan lain lainya menjadi jalanku menuju kesana. Kawan kawan gigih saya seolah menjadi bara pembakar semangat saya untuk terus berkarya di jalan kebaikan. Teringat slogan Fastabiqul khoirot. Nah disanalah saya menemukan teman teman hebat untuk berlomba lomba itu.
Bahagia menjalani proses
Kedua. Ini tentang proses. Begitulah kiranya , yang ingin aku berbagi cerita luar biasanya pelajaran tentang proses yang tealh kuecap Kita tak sedang menabikkan hasil akhir. Kita hanya akan mencoba bicara mengecap rasa tentang indahnya proses di jalan ini. Agar tiap jejak kita akan selalu bermakna indah nanti saatnya tiba.
Menjalani proses menjadi penulis Berat?Bisa iya, bisa tidak. Bisa jadi di awal memang berat terasa proses itu bermula. Layaknya menarik tali timba yang penuh dengan air , uluran timba itu bisa membuat kita terkapar kelelahan. Namun perhatikan apa yang terjadi kemudian ketika air telah ditumpahkan di bejana. Kita ulurkan timba ke bawah lagi, ringan bukan? Demikianlah ketika sekarang. namun, aku percaya, aku tengah mengumpulkan puzzle puzzle ilmu yang terserak dimana mana. Belajar dari sang timba, kita akan belajar bersabar dalam menjalani prosesnya menaikkan dirinya sendiri keatas. Mengingati tentang kegigihan dalam berproses, kita layaknya perlu kembali memberikan empat jempol untuk Bang Joni ariadinata dengan gebu kegigihannya. Demikian para penulis lainnya. Tanyakan kepada mereka, kegigihan macam apa yang membuat mereka berhasil menjadikan tulisannnya kini punya harga. Dengarakn cerita jungkir balik mereka. Dan temukan jawabanya.
Kian hari, saya terlatih menjadi orang orang yang diasah untuk memiliki kegigihan atas puluhan kegagalan. Kebanyakan orang akan jenuh dengan kegagalan yang menimpanya. Gagal lagi, gagal lagi, kilahnya. Banyak mereka yang cenderung mengakhiri actionnya karena beranggapan ia telah gagal untuk selama selamanya.Tentang hal itu, marilah sejenak membuka lembaran sejarah. Merenung sejenak, ketika memutar putaran waktu berapa abad lalu dan kita berdiri di depan seorang Ilmuwan gigih bernama Thomas A Edison. Ketika pemuda tuli ini, memutuskan untuk tetap melanjutkan penelitiannya, dia tak hirau tentang apa celoteh kanan kirinya. Ratusan project nya gagal. Idenya pun dianggap gila. Berhentikah ia? Bisa kita bayangkan jika ia memutuskan berhenti dari percobaanya yang ke 999 sekian ratus tahun lalu itu, tentu penemuan dahsyat nya tentang bola lampu mungkin tak jadi tercipta. Karena ternyata percobaanya yang Ke 1000 lah yang menghantarkan temuan revolusioner sepanjang sejarah tersebut berhasil dicoba. Hal ini akan mengingatkan kita pula pada kisah sang pemecah batu. Sang pemecah batu, ternyata harus cukup memilin kesabaran ketika pukulan pukulannya diawal tak membuat batu yang sekeras baja itu terlihat bergeming. Pukulan demi pukulan tetap juga tak bergeming. Namun, ternyata dipukulan ke 100, batu itu akhirnya bisa pecah berkeping keping. Kekuatan dari pukulan pertama itu ternyata tersayamulasi hingga pukulan ke 100, dan ternyata membuat batu akhirnya hancur lebur.
Demikian dari kisah inspirasi itu kita belajar. Bahwasanya memang kesuksesan berbanding linier dengan tingkat kegigihan dalam beproses
hingga ke titik akhir. Sehingga dalam proses itu, kegagalan bukanlah lagi sebuah ancaman yang mengerikan. Karena kegagalan adalah bagian dari berproses. Kegigihan usahalah yang akan menjadi kunci pembuka menaiki tangga sukses berikutnya. Mereka yang gigih bertahan, bisa jadi sudah tak terasa ketika satu persatu impiannya terwujud. Peluhnya terbayar lunas dengan hasil yang terkadang unpredictable. Tak disangka, tak dikira. Begitulah Maha adil Allah telah menggoreskan sunatullahnya. Sebuah ketentuan bahwa mereka yang menanam mereka pula akan menuai. Usaha manusia tahap demi tahap yang berkesinambungan dengan penuh semangat tanpa patah arang tentu takkan tersiakan. Mengecap ranum kesuksesan yang beroleh dari dari proses panjang nan berletih letih tentu akan sangat manis dirasa. Jalan sejati kesuksesan memang butuh itu nampaknya. Betapa banyak kita disadarkan, para pemburu kesuksesan versi shortcut ( jalan pintas-red) akan dibuat gigit jari karena masanya di puncak sukses terkadang hanya berkisar umur jagung. Ya, pendek sekali. Se pendek jangkauanya untuk merasai perjalanan menuju kesuksesan. Dan sekolah kehidupan telah membuka mata saya tentang itu semua. Menjadi penulis yang gigih berproses, demikianlah kiranya aku menyimpulkan. Dan kesuksesan kelak adalah hak dari setiap mereka yang mau berusaha. Saya menuliskan 1 deret untaian kata tentang proses ini. Happy Ending is reward from a long and winding Journey.
Saya juga kian sadar, menulis ternyata memang bisa dipelajari. Siapapaun dia. Gugatlah teori bahwa menjadi penulis adalah engkau harus bersimbah ilmu di fakultas sastra, di jurusan jurnalistik dan sebagainaya. Taufik Ismail, yang seorang dokter hewan, Mark Twain yang juru kemudi kapal, Bang Joni tukang becak akan membalikkan fakta itu. Jadi tak usah risau. Karena menulis diawal hanya butuh kemauan hingga akhirnya kemampuan lah yang akan datang sendiri menghampiri. Tentu bukan dengan berdiam, namun dengan selaksa kegigihan pasti. azzam kuat dan semangat menjadi kompor yang selalu menjaga nyala api.
Dan sekarang aku sedang menimang diriku, mengukur sejauh apa kegigihanku. Aku tak ingin berangan menjadi seorang Habiburahman, Helvi tiana Rosa, Gola Gong, afifah afra dan penulis tenar namanya. Karena popularitas hanyalah bonus dari Allah belaka. Itu bukan tujuanku menulis Aku ingin berproses. Berproses di jalan cinta para pejuang pena kebaikan.
Aku akan menikmati prosesnya sekarang. Aku ingin menera kata kata dengan rela dan bahagia bukan sejumput paksa. Biarlah Allah yang akan mengatur kemana kereta ku kan menuju. Aku yakin kelak aku akan sampai di penghujung sana. Aku berikhtiar untuk mempertemukan lingakran mimpi mimpiku dengan takdir Allah yang telah Allah gariskan di lauhul mahfudz. Tugasku hanya berdoa dan berusaha. Hasil akhir adalah hak prerogatif Tuhanku.
Dan aku ingin menjadikan jalan pena ini adalah jalan juang dan jihadku untuk menyampaikan agama Allah, serta mengangkat izzzah dan kemuliaan Diin-ku. Karena aku begitu meyakini bahwa mengembalikan lagi izzah umat islam, adalah sebuah amanah yang harus kita tunaikan sekarang ini dan selamanya nanti. Menjadi tanggung jawab kita sebagai umat muslim yang mengakui akan mengikuti genderang cinta ini, cintanya para pejuang, cinta untuk Al-Islam, cinta yang telah dinisbatkan kepada Sang penggengam Kehidupan. Cinta yang telah melahirkan ribuan jundi mungil Palestina dengan pekikan dan dentuman takbirnya ber`intifadhoh` melempar batu di jalan jalan, yang mengobarkan semangat mujahidin afghan ditengah teriknya padang pasir dan bom bom berdentuman ataukah para muslim Chechnya dengan gelora jihadnya.
Dan kini bersama pena aku berjihad layaknya mereka. Biar kelak jihad bil qolam ini akan menjadi saksi yang memberatkan timbangan di mizan nanti.
“Nuun. Demi Pena dan apa-apa yang mereka tuliskan”
Jihad ala Netter Intelektual Muda Muslim di Dunia Digital
Jihad ala Netter Intelektual Muda Muslim di Dunia Digital
* By Erny Ratnawati
Semarak millennium ketiga telah diramaikan manusia dengan hentakan hentakan menuju babak sebuah peradaban baru. Sebuah langkah maju bukti keberhasilan manusia menapak tangga kemajuan ilmu pengetahuan yang selalu dinamis di sepanjang sejarah peradaban. Salah satu yang terlihat kentara dan kasat mata adalah perkembangan pesat dunia teknologi informasi. Merunut data yang dilansir oleh majalah info computer, dicatat bahwa pertumbuhan dunia teknologi informasi berkisar sekitar 18,75 persen pertahun. Prosentasi yang mengejutkan mengingat bahwa dunia ini tergolong pendatang baru di beberapa dekade terakhir.
Dunia tersebut kian hari kian melesat berkembang seiring hausnya manusia akan asupan informasi disetiap waktu. Supporting tool teknologi informasi mengalami perkembangan mengiringi semakin dibutuhkannya media untuk mempermudah akses transfer informasi yang seolah bak aliran darah di tubuh manusia. Telepon genggam yang pada awalnya hanya digunakan untuk mengirim seraya menerima pesan, kini telah berkembang kian canggih. Di era ini, ponsel tak sekedar menjadi alat komunikasi. Handphone makin memanjakan penggunanya dengan aneka fitur dan media informasi dan komunikasi . Facebook dan Twitter sebagai media sosial juga telah diaplikasikan ke dalam telepon genggam. Selain itu kecanggihan gadget dunia informatika juga merasuk ke bilik bilik rumah tangga. Amazon Instant Video, Netflix serta Vudu sebagai televisi Internet dengan kecepatan koneksi Internet dengan teknologi Wi-MAX atau Long Term Evolution yang begitu membludak diminati publik seperti menambah sederet opini bahwa kian lama masyarakat kita kian terikat sebagai komunitas digital dimana media komunikasi dan informasi bak menjadi santapan tiap hari bahkan di tiap detiknya.
Perkawinan teknologi transmisi mutakhir dengan computer telah melahirkan new age di perjalanan peradaban manusia. Dunia informasi digital bak piranti layar sentuh ini membuat sedemikian mudah manusia dapat tersambung dengan mitranya di seluruh belahan dunia dengan sekali klik saja. Dunia teknologi informasi ini menawarkan segala kemudahan, tanpa tersulitkan dengan kendala jarak dan waktu.
Lingkaran Hitam Putih bagi Muslim di Era Informatika
Informasi menjadi kebutuhan di setiap jengkal manusia berada. Era informatika telah melingkupi seluruh belahan dunia. Salah satunya wahana informan raksasa sekarang adalah media internet. Media ini yang tengah menjadi teman familiar bagi manusia seantero dunia. Ketergantungan manusia dengan kemunculan produk ini memang mendarah daging. Internet telah dianggap menjadi sekian dari key password aktivitas manusia. Jaringan dunia maya seolah menjadi dunia kedua yang belum bisa terpisahkan dari kehidupan manusia. Begitupula dengan kaum muslimin. Sebagai salah satu komponen penduduk dunia, kaum muslimin mau tak mau juga akan terkena dampak dari melejitnya era informatika yang mendunia.
Meninjau dampaknya dari segi putih dan hitam bagi kaum muslim, keduannya tentulah pasti ada. Mencoba untuk mengurai benang putih kemanfaatan yang dapat diambil dari melesatnya media informasi dan komunikasi ini bagi kaum muslimin,yakni media ini dapat dimanfaatkan untuk mempermudah kaum muslim menyerap informasi dan memperoleh akses komunikasi di dunia yang luas. Namun disisi yang lain, dunia teknologi informasi ini juga menjadi tantangan dan ancaman yang cukup diperhitungkan bagi kaum muslimin. Dunia ‘klik ‘ ini terkadang menjadimedanyang sulit dan ujian yang tajam bagi kaum muslimin sekaligus juga berpotensi menjebak kaum muslim untuk terpeleset ke jalan yang tidak dibenarkan
Seperti yang diungkapkan pengamat dunia informasi, Chellin Cheeri, bahwa
perkembangan teknologi komunikasi yang cepat telah mengakibatkan adanya ledakan ( explosion) besar besaran. Arus lalu lintas informasi telah berlipat ganda secara geometrik, dan berkonsekuensi dengan jumlah kontak komunikasi global yang membludak menjadi salah satu pemicu lahirnya Globall village. Globall village sendiri adalah fenomena yang merupakan konsekuensi dari era informasi global yang semakin meluas, dimana negara negara akan masuk berada dalam lingkup satu lingkar dunia, dan tapal batas antar negara telah menembus dimensi ruang dan waktu sehingga tak ayal dikatakan bahwa sekat antar negara menjadi kabur.
Hal tersebut berdampak dengan ancaman adanya penetrasi budaya secara besar besaran. Ekspansi budaya, pemikiran, lifestyle dan produk pemikiran impor dari Barat yang sarat nuansa hedonisme, feodal dan liberal taksadar telah merasuk ke fitur fitur hiburan di layar layar kaca dan media digital kaum muslim. Selain itu pergeseran norma dan budaya yang berkembang. Standar etika dan norma sudah tak cukup diperhitungkan dalam ukuran untuk menakar pertimbangan sebuah tindakan. Belum lagi tentang sebaran virus model gayahidup yang ditawarkan yang mengkiblatkan diri pada life style kebarat baratan. Legalisasi hal hal terlarang juga begitu diumbar sembarangan di pojok pojok situs hitam yang bertebaran. Kondisi tersebut telah berpengaruh terhadap kontrol moral yang kian menipis. Dunia di balik bilik ini memang dunia tak kasat mata dan tersembunyi, namun sejatinya memiliki efek ledak yang bahkan jauh lebih menyeramkan daripada di dunia nyata.
Jihad ala Netter Intelektual Muda Muslim di Dunia Digital
Mahasiswa selalu identik dengan intelektualitas. Kemafhuman atas predikat “maha” yang bertengger di kata depan sebelum “siswa” tentu membuat stigma mahasiswa sebagai kaum intelektual, tak lagi menjadi diksi yang asing di telinga. Mahasiswa juga digadang gadang menjadi aktor perubahan. Mahasiswa dengan slogan klasiknya, agent of change dan iron stock menjadi tumpuan masyrakat untuk mampu berperan sebagai kontributor vital dalam menapak perjalanan bangsa.
Tidak sekedar huruf berjajajar, slogan slogan diatas ternyata telah mampu dibuktikan karya nyatanya oleh mahasiswa muslim. Merunut kembali layar sejarah, Mahasiswa muslim ternyata menjadi salah satu komponen inisiator perkembangan media teknologi informasi di Indonesia. Di awal perkembanganya, kemunculan Isnet (the Islamic Network), milis yang dibuat mahasiswa Muslim Indonesia yang berkuliah di Amerika Serikat, menjadi salah satu pioneer dialog agama di dunia maya. Adanya langkah inovatif mahasiswa ini, tentu akan lebih menguatkan sebuah stigma, bahwa sejak puluhan tahun lalu pun, meski tetaplah sosok mahasiswa dengan segudang pemikiran dan idealismennya, namun mereka mampu menginisiasi awal sebuah perkembangan dunia dibalik ‘jendela’, dunia global dan maha luas, yang masih begitu asing di telinga rakyat Indonesia kala itu. Mahasiswa muslim mampu membuka mata publik bahwa mereka bisa selangkah lebih maju
Oleh karena itu, dalam menanggapi adanya efek dari lingkaran hitam dan putih bagi umat muslim di era digital yang tersebut diatas, mahasiswa muslim selaku salah satu golongan dengan prosentasi besar, yakni masuk dalam kategori muda dan remaja dimana menempati sekitar 65% dari total sekian juta user wahana teknologi informasi, diharapkan di malang melintang dunia digital ini dengan berbagai cerita dan fenomenanya, mereka dapat mengambil langkah cerdas dan bijak dalam merumuskan strategi untuk mampu mengambil sari atas mutiara kebaikan –kebaikannya sekaligus menjadi pagar betis dari garis garis hitamnya. Kaum intelektual muslim muda ini, telah ditunggu tunggu untuk menjadi persemaian harapan bagi umat muslim. Mahasiswa muslim diharapkan mampu menjadi garda terdepan untuk mampu memanfaatkan peluang kebaikan di era digital ini.
Salah satu strategi ala mahasiswa muslim yang dapat dilakukan adalah melalui Jihad versi digital. Jihad bukan berarti selalu identik dengan peperangan. Dalam Islam, seperti yang ditulis oleh KH Ali Yafie (1999), jihad bisa dikategorikan menjadi empat macam, yaitu jihad al-harb (jihad ke medan perang), jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu), jihad al-usrah (jihad dalam keluarga), dan jihad al-mujtama’ (jihad dalam masyarakat). Dalam pemaknaan yang lebih implisit jihad adalah adalah bentuk dari sebuah konsekuensi keimanan atau religiositas.
Dalam kaitannya dengan mengais peluang kebaikan di dunia kabel kabel informasi, penulis berpendapat bahwa setidaknya ada dua macam jihad yang hendaknya para mahasiswa muslim lakukan. Yakni aksi bagian dari Jihad untuk masyarakat atau khalayak luas yang termaktub dalam kategori jihad al-mujtama’ dan aksi upaya pertahanan diri para netter (sebutan untuk para peselancar dunia maya) muslim untuk mengendalikan hawa nafsunya menghadapi terjangan godaan di dunia ketika berselancar maya yang termasuk dalam jihad al-nafs
Dalam upaya jihad al-mujtama’ untuk men’sholihkan’ masyarakat, seorang mahasiswa muslim sepantasnya mengoptimalkan aksi dakwah di sisi kebaikan untuk menjadi salah satu peluang. Karena lewat dakwahlah, pesan ajaran Islam mampu tersampaikan kepada objeknya. Adanya kemudahan dan fleksibilitas dari dunia teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam penyebaran dakwah islamiyah Dakwah di dunia digital melalui media internet dan jejaring komunikasi yang lainnya untuk menyebarkan kebenaran ajaran Islam keseluruh penjuru dunia, dianggap sebagai sebuah inovasi yang menguntungkan bagi perkembangan syiar islam. Seperti yang kita tahu bahwa era kemajuan infomasi telah menciptakan ribuan server yang dapat membreakdown informasi dalam tempo edar yang kian pendek dan cakupan yang luas. Hal ini dapat menjadi kans besar bagi dakwah islam, untuk lebih berkembang tidak sekedar berkutat di alam konvensional namun juga merasuk ke dunia yang lebih lebar lagi hingga syi’ar dakwah akan dapat tersasar pada objek yang lebih besar dengan cakupan area dakwah yang semakin mendunia. Dengan karunia berupa kekuatan, kreasi serta ide ide yang masih segar, tentu akan muncul banyak inisiasi kreatif yang bisa dimunculkan oleh netter mahasiswa muslim untuk mampu menggemilangkan peluang emas ini
Bertebarannya situs muslim dan berbagai macam bentuk media muslim yang menyajikan menu informasi berbasis keislaman yang positif baik kepada internal umat Islam sendiri maupun kalangan diluar islam menjadi suatu action yang seharusnya senantiasa diupayakan kaum muslim untuk tetap bisa eksis dan bertumbuhkembang setiap saat. Mahasiswa muslim dengan berbekal daya nalar tinggi dan intelektualitasnya bisa mengambil peluang untuk berperan aktif disana.
Keberhasilan salah satu situs Islam di sebuah tempat di luar negeri yang mampu mengislamkan ratusan para jamaah mayanya dari berbagai bangsa serta fenomena Moslem Booming di AS paska Black Tuesday 11 september yang menjadi efek dari semakin gencarnya muslim menyuarakan kebenaran di ranah media informasi menjadi salah satu bukti bahwa keberadaan media kaum muslim yang mendunia di era ini memang selayaknya dibutuhkan. Sediaan informasi yang bersumber dari pusat yang shohih ini akan mampu menjadi corong umat Islam untuk berbicara dari satu personal computer ke personel computer lainnya yang terhubung di seantero dunia. Kabel kabel informasi ini dapat mengalirkan pesan pesan kebaikan Islam secara utuh dan menyeluruh, bukan sekedar spekulasi atau syak (prasangka) belaka yang kerap menghinggapi kalangan di luar umat muslim.
Selain dakwah via digital tersebut, Netter muslim selayaknya juga sigap menangkis banyaknya flood information ( banjir informasi) yang menyerbu masyarakat, karena aroma provokasi memecah belah umat kerap kali berhembus di dunia maya dan dimana hal tersebut juga sering menimbulkan perselisihan. Mahasiswa muslim hendaknya tidak mudah terpengaruh dengan setiap informasi yang datang, sepantasnya mereka juga turut menjadi corong bagi umat untuk menyebarkan informasi yang benar dan melakukan tabayayyun serta checking pada informasi yang datang dan tersebar di wahana komunikasi dan informasi. Setiap informasi memang sudah seharusnya untuk diteliti asal muasal dan kebenaranyya.
Hal tersebut mengingat bahwa kaum muslim sekarang tengah dihantui media raksasa dunia yang dikuasai negara sekutu Barat yang bergentayangan dengan opini kebathilan. Dan yang sekarang dapat kita baca adalah upaya Barat untuk lebih jauh menguasai kabel kabel informasi dunia. Dunia informasi digital dan media menjadi lahan empuk yang dimanfaatkan Barat untuk menodai citra Islam dan menjatuhkannya lewat edaran informasi yang penuh intrik dan kedustaan. Untuk itu media Islam sangat diperlukan sebagai counter atau perlawanan terhadap opini bernuansa bathil yang dilancarkan. Hal ini juga menjadi salah satu upaya untuk mengangkat harga diri kaum muslimin.
Sedangkan yang terkait dengan jihad al nafs, penulis memaparkan beberapa gagasan dan pandangan yang sekiranya mampu untuk di kejawentahkan dalam nilai nilai moral di tataran aplikasi secara personal.
Pertama adalah memegang kendali niat. Mahasiswa Netter muslim seharusnya mengendalikan niat pada posisi utama. Sebagaimana para ulama mengatakan bahwa niatan adalah poros perbuatan. Memancang niat di awal, untuk beramal sholih dan meraih serta menebar kebaikan sebanyak banyaknya lewat media ini harus menjadi prioritas pertama sebelum niat yang lainnya. Apabila niatan kebaikan di awal sudah terlupakan, maka yang banyak terjadi adalah keterlenaan. Dunia maya begitu menggoda, hingga bahkan manusia tidak tersadar telah terperdaya. Oleh karena itu, hendaknya setiap diri harus menanamkan ini pada masing masing pribadi sebagai komitmen personal. Mahasiswa muslim sepantasnya untuk menepis niatan yang tidak sesuai atau justru menyimpang dari koridor syariat.
Hal kedua adalah mengatur batas waktu. Tanpa adanya komitmen untuk membatasi waktu sejak awal, waktu para netter akan mudah terbuang pada hal yang bersifat ghulluw ( kesia siaan ) dan ifrath (berlebihan) ketika berselancar di dunia maya. Aktivitas nongkrong di internet berlama lama hanya untuk sekedar ber facebook atau twitter ria atau aktivitas game online chatting, koprol, dan sebagainya secara berlebihan akan menurunkan daya produktivitas dan keterjagaan terhadap waktu waktu ibadah. Waktu hanya akan terbuang sia sia tanpa ada hasil produktif yang nyata dan progress ibadah yang gradual. Maka, dari itu Netter harus mampu cerdas mengatur interaksinya dengan dunia ini di batas kewajaran dan kebutuhan secara rasional dan mengendalikan hasratnya untuk berlama lama melanglang wahana online
Ketiga, Netter muslim sudah seharusnya tetap menjaga akhlak dan rasa malu ketika berselancar di dunia maya. Sebagaimana umat islam mengenal konsep ihsan sebagai salah satu pilar setelah islam dan iman, maka sudah seharusnya nilai nilai ihsan harus masing ditanamakan sebagai akhlak masing masing personal. Merasa bahwa betapa luasnya dunia yang dikunjungi dan apapun bentuk yang dilihat pasti takkan luput dari pengawasan Allah azza wa jalla. Sehingga hal ini menjadi filter di garda terdepan pertahanan untuk menghadapi dunia yang begitu luas ini. Bagaimanapun juga self controlling adalah kontrol paling efektif untuk memagari diri sekaligus sebagai imunitas jiwa dari hal-hal yang tidak benar sehingga hal yang tidak baik yang diperoleh tidak akan berpengaruh atau bahkan merubah akhlak dan kepribadian.
Pada akhirnya sebagai penutup, penulis menyimpulkan bahwa bagaimanapaun juga, tak bisa disangkal lagi, mahasiswa muslim mewakili komponen kaum muslim pada umumnya memang sudah selayaknya bersegera untuk dapat mengoptimalkan kemajuan media teknologi informasi dunia demi kebaikan dan kepentingan diinul haqq ini. Mengutup pernyataan Prof. Dr. Ichlasul Amal, Komite Dewan Pers Nasional bahwa segenap kaum muslim sejatinya memiliki kewajiban bersama untuk dapat mendukung perkembangan media informasi yang membawa misi keislaman. Dengan melakukan hal tersebut, setidaknya kita telah selangkah lebih maju berkontribusi menghadapi gempuran perang pemikiran yang mengancam umat.
Wawwlahu’alam bisshowab
Istimewanya Shadaqah
Istimewanya Shadaqah
*Erny Ratnawati
Di dalam Al- Qur;an kata shadaqah setidaknya diulang sebanyak 43 kali dengan beberapa istilah berbeda yang menunjukkan makna serupa. Hal ini dapat diartikan bahwa perintah shadaqah bukanlah sekedar perintah beramal biasa. Bahkan, Allah menaruh perhatian yang besar pada perintah ini dalam kitab sucinya dengan berbagai macam penekanan. Mulai dari perintah bershadaqah (QS At-Taubah{9}:60), janji Allah (QS Al-Baqoroh{2}:274), hingga orang orang yang berhak menerima shadaqah (QS Al-Baqoroh{2}:215). Hal tersebut diatas menunjukkan bahwa shadaqah menempati posisi yang utama dan istimewa.
Disamping itu, Allah juga menggambarkan keutamaan pahala sedekah dengan perhitungan yang cerdas luar biasa. Dan termaktub dalam (QS Al-Baqoroh{2}:261). Dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa pahala shadaqah itu akan dilipatgandakan menjadi 700 kali. Hitungan itu tenyata tak sekedar berhitung ala matematis dunia. Menurut kebiasaan dari penggunaan kata tujuh yang terdapat dalam Alquran, kata 700 pada ayat tersebut bukanlah sekedar menunjukkan makna sebuah bilangan antara 699 dan 701. Melainkan menunjukkan ungkapan atas banyaknya balasan yang akan diperoleh bagi siapa saja yang gemar shadaqah.
Begitu dahsyatnya shadaqah, hingga Allah juga menggambarkan didalam Al-Qur’an bahwasanya kelak diyaumul hisab, akan muncul golongan orang orang yang merasakan penyesalan, dan memohon agar ditangguhkan ajalnya demi untuk bisa mengulurkan shadaqah di dunia (QS Al-Munafiqun{63}:10) .
Selain daripada itu, shadaqah ternyata menjadi salah satu sarana Allah menyelamatkan seorang hamba dari bencana, dan dari perihnya meregang nyawa. Seperti hadist nabi yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin malik.r.a, Rosulullah SAW bersabda ”Sesunngguhnya shadaqah itu meredam murka Allah dan menghindarkan mati dalam keadaaan buruk (su`ul khotimah )”
Sehingga tak mengherankan jika generasi generasi terbaik semasa Rosulullah, sangat bersemangat menggoreskan kisah kisah kedermawanan yang luar biasa. Rosululullah Muhammad SAW sendiripun menjadi teladan sosok paling dermawan sepanjang sejarah. Beliau selalu mendahulukan orang yang membutuhkan. Tidak ada seorangpun yang meminta kepada beliau, melainkan beliau pasti akan memberinya baik sedikit atau banyak. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya , suatu saat beliau bersegera beranjak dari tempat sholatnya, karena teringat sebatang emas yang masih tersimpan dirumahnya, dan belum dishadaqahkan. Sejarah juga mencatat kedermawanan para sahabat. Abu bakar As-sidiq rela menginfakkan seluruh hartanya tanpa sisa, Utsman membeli sebuah sumur untuk keperluan ratusan kaum muslimin, Ibnu Umar tidak bersedia makan, kecuali bersamanya ada anak anak yatim, Fatimah dan Ali terbiasa meninggalkan sesuatu yang disukainya untuk dishadaqahkan kepada orang lain dan juga sederet kedermawanan para sahabat agung yang lain. Mereka menjadikan tangannya begitu ringan terulur untuk berderma. Kisah mereka semoga menjadi inspirasi bagi kita untuk menjadi insan yang ringan untuk menyedekahkan harta kita di jalan-Nya.
Nyalakan Kembali Semangat Membaca.
Nyalakan Kembali Semangat Membaca
*Erny Ratnawati
Membaca adalah gerbang ilmu pengetahuan. Budaya membaca adalah salah
satu elemen terpenting dalam peradaban keilmuan. Sejarah mencatat tinta emas masa kegemilangan Islam berabad silam, tak lepas dari budaya membaca pada saat itu. Pada masa tersebut, Kaum muslim begitu bersemangat untuk membaca dan menelaah ilmu pengetahuan. Kumpulan kitab kitab yang berderet di perpustakaan juga begitu digandrungi untuk dipelajari.Kotakotakaum muslimin seakan menjadikotametropolitan dalam ilmu pengetahuan di segala bidang.
Tak mengherankan, dari sanalah kemudian peradaban Islam mulai merangkak menuju puncak kejayaan. Rahim peradaban cemerlang yang melahirkan para ilmuwan muslim terbaik dunia. Tidak hanya bersinar dilingkup kaum muslimin, namun prestasi para ilmuwan itu telah diakui di tingkat dunia, bahkan mendapat predikat terbaik. Seperti yang telah dikatakan oleh George Sarton bahwasanya sesungguhnya kaum Muslim telah mencapai tugas utama kemanusiaan yang sebenarnya.Yakni menjadi obor pengetahuan di segala bidang.Umat muslim telah mencatatkan goresan sejarah sebagai kontributor terbaik di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Lihat saja, Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang Muslim. Matematikawan terbaik, Abul Kamil dan Al-Khawarismi adalah Muslim. Bapak kedokteran dunia yaitu Ibnu Sina adalah seorang ulama Muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik, Al-Masudi adalah seorang Muslim. Dan Al-Tabari, ahli sejarah terbaik juga seorang Muslim. Sungguh prestasi yang membanggakan. Bahkan di masa kejayaan itu, bangsa Eropa banyak berbondong bondong belajar pada kaum muslimin hingga berabad lamanya.
Namun, jika kita menarik garis lurus dengan kondisi sekarang, kita seolah
merasa tertampar dengan kenyataan yang ada. Gaung kejayaan Islam berabad silam kian hari kian memudar, seiring menurunnya kualitas dan daya saing kaum muslim di kancah dunia dari waktu ke waktu. Salah satu indikator yang dijadikan acuan untuk mengukur tingkat daya saing tersebut, adalah kemajuan bidang ilmu pengetahuan. Harus kita akui memang saat ini peradaban keilmuan umat Islam jauh tertinggal dari peradaban barat. Kita mungkin tidak ingat kapan terakhir kalinya mendengar nama seorang muslim disebut sebagai pemenang nobel dalam bidang ilmu pengetahuan atau kedokteran, ataupun berapa banyak jumlah publikasi ilmiah dan paten teknologi yang ditelurkan dari tangan seorang muslim. Mungkin ada, namun yang pasti tidak banyak jumlahnya.
Kondisi ini tentu memprihatinkan, apalagi jika kita menilik bahwa Islam sendiri adalah agama yang sangat mendorong pemeluknya untuk belajar ilmu pengetahuan. Al- Qur’an sebagai kitab sakral umat Islam bahkan dikatakan sebagai ensikopledi ilmu pengetahuan yang luar biasa. Ayat ayat kauliyah Allah didalam Al- Qur’an banyak terbuktikan kebenarannya secara ilmiah. Al- Qur’an juga bahkan disebut sebut sebagai sumber inspirasi penemuan penemuan manusia di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Disamping itu, kaum muslim sebenarnya juga memilki harta karun berharga, yakni kitab kitab para ilmuwan besar muslim sebagai rujukan dan sumber ilmiah pengetahuan. Semisal kitab Qanun fi Thib, salah satu dari karya Ibnu Sina yang ditulis dalam bentuk ensiklopedis menyangkut pengobatan dan obat-obatan. Kitab ini dijadikan rujukan di dunia kedokteran selama berabad lamanya, atau karya Aljabar paling monumental berjudul al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah buah pikiran Al- Khawarizmi dan sederet karya luar biasa lainnya.
Namun sayangnya, hal hal tersebut nampaknya kurang begitu tergali dan termanfaatkan oleh kaum muslim. Yang lebih disayangkan lagi justru orang orang non-muslim (baca: barat) lah yang gencar untuk mengambil ilmu dari para ilmuwan tersebut. Walhasil, tak mengherankan jika dunia mungkin lebih banyak mengenal para ilmuwan Eropa dan Amerika sebagai tokoh ilmu pengetahuan yang mumpuni dibandingkan dengan deretan nama tokoh muslim. Kondisi ini terjadi, tidak lain tidak bukan, karena memang kaum muslim belum banyak mengambil peran disana. Kita seakan masih saja menjadi penonton di papan percaturan ilmu pengetahuan dunia. Hal ini membuat kredibilitas dan bargaining position kaum muslim di bidang ilmu pengetahuan kurang cukup diperhitungkan.
Kaum Muslim ‘Lupa’ Membaca
Jika mau untuk kembali merefleksi diri, Salah satu hal yang ditengarai menjadi titik kunci terjadinya degradasi tersebut diatas adalah fenomena Kaum Muslim‘Lupa’Membaca.
Fakta berbicara bahwa budaya baca bangsa-bangsa muslim ternyata berada jauh di bawah bangsa bangsa barat. Hal ini dapat dilihat dari budaya literasi bangsa muslim yang masih timpang. Sebuah publikasi yang baru saja diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengemukakan bahwa dunia Arab yang terdiri dari 22 negara muslim hanya mampu menerjemahkan sekitar 330 buku per tahun. Angka itu sangat menyedihkan karena hanya seperlima dari jumlah buku-buku yang mampu diterjemahkan oleh sebuah negara kecil seperti Yunani dalam setahunnya. Bahkan Spanyol mampu menerjemahkan rata-rata 100.000 buku setiap tahunnya(Mashudi Antoro,2010). Di Negara muslim lain seperti Indonesia yang berpredikat Negara berpenduduk muslim terbesar, jumlah buku baru yang terbit di negeri ini hanya berkisar 8000 judul/tahun, jumlah yang sangat minim jika dibandingkan dengan Vietnam dengan jumlah 45.000 judul/tahun dan Inggris yang menerbitkan 100.000 judul/tahun. Jumlah judul buku baru yang ditulis, dan diterbitkan, kemudian dibaca oleh sebuah masyarakat menunjukkan kapasitas mayoritas rakyat bangsa tersebut untuk melahirkan gagasan-gagasan baru yang didapat dari aktivitas membaca (Sudarwoto, 2009). Cukup memprihatinkan realita tersebut, apalagi jika mengingat perintah yang Allah pertama kali justru adalah perintah untuk membaca. Hal ini patut menjadi introspeksi bersama.
Jika ditelisik kembali dari urgensinya, membaca adalah aktivitas yang sangat bermanfaat karena membaca adalah pintu pertama dibukakannya ilmu pengetahuan. Tak heran,budaya membaca dikatakan selalu berbanding linier dengan kualitas kecerdasan dan peradaban suatu bangsa. Demikian juga salah satu faktor suatu bangsa dikatakan maju juga tak lepas diukur dari tingginya minat baca masyarakatnya.
Sedangkan ditinjau dari segi kebermanfaatan, dalam buku Mustika Ilmu dan Pengobatan Jiwa karya Mashudi Antoro disebutkan bahwa membaca dapat mendorong seseorang terstimulus untuk berinovasi dan produktif dengan banyak ide segar dan gagasan yang baru, selain juga dapat mematangkan mematangkan kemampuan seseorang dalam mencari atau memproses ilmu pengetahuan. Mengetahui apa saja yang belum ia ketahui secara detail, dan mampu digunakan untuk mempelajari bidang-bidang pengetahuan yang berbeda secara bersamaan. Bagi kaum muslim sendiri, membaca dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk kembali menggali dan menemukan warisan ilmu ulama yang merupakan tambang emas yang begitu berharga.
Akan tetapi sayang sekali, menilik data tentang realita budaya baca kaum muslim yang penulis paparkan di awal, kita memang patut untuk prihatin. Namun, jika berhenti di batas keprihatinan belaka, maka kondisi ini nampaknya akan terus berlarut saja. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa semangat membaca bagi kaum muslimin sudah seharusnya kembali dinyalakan. Semangat itu tentu pada awalnya harus tersematkan terlebih dahulu di masing masing muslim secara pribadi, karena inti perubahan sejati adalah dimulai dari diri sendiri. Dari kesadaran personal tersebut diharapkan akan tumbuh menuju kepada kesadaran kolektif. Ketika telah tercipta kesadaran secara berjamaah,kesadaran ini akan menggerakkan sebuah kebiasaan menjadi jamak dilakukan. Dari kebiasaan masyarakat yang sering dan berulang ulang dilakukan tersebut yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah budaya.
Budaya membaca bagi kaum muslim memang sudah selayaknya segera kembali
digalakkan. Karena darisanalah produktivitas karya akan banyak dilahirkan. Dari produktivitas itulah, kaum muslim dapat membuktikan di mata dunia, bahwa mereka mampu kembali membawa gemilang nama Islam melalui torehan karya dan prestasi yang luar biasa. Mengulang kembali sejarah, bukan hal yang mustahil kiranya jika umat muslim mau bangkit dari keterpurukan dan keterbelakangan. Dan semuanya itu dapat diawali dari satu langkah sederhana. Nyalakan kembali semangat membaca kaum muslim dunia.
Wawwllahu ‘alam bisshowab
Muslimah Prestatif dan Produktif
Muslimah Prestatif dan Produktif
Salah telak hipotesa kesetaraan gender versi feminis garis keras yang mengkambinghitamkan Islam menjadi agama yang menghalangi para perempuan untuk mampu produktif dan berkembang dengan seperangkat aturan bagi para penganutnya. Jika islam dituding sebagai agama yang mengekang, bahwa Islam menghilangkan hak-hak wanita dan memenjarakannya di dalam rumah bak burung dalam sangkar, maka sungguh sama sekali anggapan itu harus ditepiskan. Kembali membuka untaian kalam di Al- Qur’an, kita bisa dibuat terpana ketika menemukan fakta, bahwa justru Islamlah satu satunya agama yang menampilkan gambaran bahwa perempuan muslimah adalah kaum yang memiliki beragam hak istimewa.
Al- Qur’an menggambarkan bahwa perempuan muslimah memiliki hak untuk dapat berpacu menggapai beragam kemandirian. Kemandirian dalam bidang politik, kemandirian ekonomi ,kemandirian di dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi, kemandirian dalam menyerukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, kemandirian dalam belajar serta beragam kemandirian lain. Dari kemandirian kemandirian itulah diharapkan mampu mencetak kader muslimah yang produktif dan progress di bidangnya masing masing.
Gambaran ideal yang sedemikian tersebut diatas mungkin tidak akan ditemukan di dalam kitab-kitab suci lain. Tidaklah mengherankan jika pada masa Nabi ditemukan sejumlah perempuan yang luar biasa. Mereka merefleksikan beragam kemandirian yang idealnya mampu dicapai oleh para muslimah. Aturan islam bukanlah pagar betis yang menghalangi wanita untuk memiliki prestasi setara bahkan lebih dari kaum pria. Sejarah mencatat Khodijah adalah pebisnis wanita yang tangguh dan disegani di jamannya, Aisyah adalah wanita cendekiawan yang cerdas dan mumpuni, perowi ribuan hadist, serta tempat belajar para sahabat, setelah nabi wafat. Ummu Sulaim seorang da’i wanita yang dakwahnya menggelora, Asma binti Yazid pun juga tercatat wanita ahli ceramah dan diplomasi yang hebat.
Di Era sekarang, marilah sejenak melongok seraya mengacungkan jempol untuk para muslimah produktif ini. Bunda marwah Daud Ibrahim, sanggat banga dengan predikatnya sebagai muslim ketika meraih gelar Doktor di Washinton University, U.S dengan predicat distinction. Dahlia Mogahed karena kepiawainya menjadi satu satunya perempuan muslimah berjilbab yang diangkat bekerja di Gedung putih AS. Profesor Samira Ibrahim, dengan jilbab besarnya , tak menghalangi dia menjadi Duta International Organisasi Kesehatan Dunia. Professor Dr. Bina Shaheen menjadi salah satu pendiri Organisasai ilmuwan wanita dunia . Saamena Shah dengan sangat bangga akan kemuslimahannya berkarir dalam kegiatan Workshop on Machine Learning Canada, sebuah bengkel kerja berskala Internasional di Kanada Ia mengembangakn inovasi algoritma dalam proses belajar kognitif melalui komputerisasi. Prestasinya mengembangkan Global optimizer telah diakui dunia Internasional. Anousheh ansary, muslimah ini mengorbit ke angkasa raya bersama Soyuz – TMA 9 dari Baikonur Cosmodrome. Subhanallah dan masih banyak lagi
Mereka adalah bukti kasat mata bahwa wanita muslimah tetap memiliki kans untuk tetap bergumul dengan segudang prestasi dan produktivitas. Mempersiapkan para muslimah yang bersiap untuk menoreh progress dan menelurkan karya kerja produktif dalam lingkar dakwah dan kebaikan menjadi sebuah tantangan bagi kaum muslimah sendiri. Sebuah tangung jawab personal yang hendaknya menjadi kesadaran diri yang tersematkan di masing masing pribadi.
Muslimah adalah para ibu yang menjadi madrasah kunci perbaikan umat. Dari sanalah rahim rahim kejayaan Islam akan ditumbuhkan demi tegaknya kemuliaan diin-ini.. Untuk itu usaha perbaikan diri muslimah dengan konsistensi penuh dalam menegakkan kemuliaan Islam adalah sebuah cita cita abadi, dan tujuan yang mulia dari pilar pilar proyek perbaikan umat. Pilihan kita untuk mampu berusaha produktif sekaligus prestatif di bidang yang kita geluti tak lagi bisa ditawar tawar lagi. Dari produktivitas itulah akan muncul spirit untuk mampu membawa gemilang agama ini melalui karya dan prestasi yang kita telurkan untuk umat dan dunia.
ditulis oleh Erny ratnawati-
Solo.15 Juli 2011
Purifikasi Interpretasi Teror Vs Jihad
Purifikasi Interpretasi Teror Vs Jihad di Masyarakat Kita
*Erny Ratnawati
Lembaran sejarah kembali dibuka. Kata teror tengah bergaung kembali setelah ia muncul dan dikenal pertama kali di masa revolusi prancis, diakhir abad ke -19. Pada mulanya, kata terorisme sendiri yang bermuasal dari Prancis, adalah sebutan untuk kebrutalan rezim revolusi Prancis yang membabi buta, memenggal 40.000 orang yang dituduhkan anti pemerintah dan kemudian diwariskan juga untuk menyebut tindakan anarki anti pemerintahan di Rusia. Hal inilah yang melekat kemudian bahwa terorisme diidentikkan dengan kekerasan dan anarki perlawanan.
Namun, tiba tiba di awal millennium ketiga, kata terror itu dialamatkan kepada umat Muslim. Mengapa ? Tragedi black Tuesday 11 September 2001, menjadi awal tuduhan itu dilontarkan. Runtuh dan luluh lantaknya nya dua gedung kembar symbol kedigdayaan Amerika Serikat, yakni WTC dan pentagon, telah menghentakkankan dunia. Hal ini ternyata dijadikan momen kesempatan emas bagi Amerika Serikat untuk melaunchingkan senjata ampuhnya untuk menghancurkan salah satu agama terbesar dimuka bumi. Mereka memoncongkan tuduhan pelaku penghancuran terebut kepada ISLAM. Dengan arogan kemudian Amerika Serikat memberi gelar didada umat muslim dengan sebutan “TERORIS”.
Semenjak itulah aksi aksi selanjutnya semakin gencar dilakukan. Santernya stigma negatif terhadap muslim sebagai otak terror, telah menyebar seantero jagat bahkan hingga saat ini. Gembar gembor media di negeri paman sam itu telah menggiring opini dunia, bahwa muslim lah biang onar. Hal ini berbuntut aksi sweeping terhadap muslim beserta penindasan muslim dibeberapa negara menjadi kian marak. Tidak berhenti disitu, perang tersebut merambah di berbagai lini. Baik perang dalam urusan militer, invasi terhadap negara negara, dan Ghozwul fikri (perang pemikiran) yang menyeret umat muslim untuk menjauh dari agamany. Media AS semakin gencar menyebarkan informasi tentang gambaran dan stigma bahwa islam itu kejam, ajaran islam militant, radikal tidak toleran, mengajarkan kekerasan dan sebagainya.
Hal ini tak pelak pula, telah menyebabkan adanya gelombang phobia terhadap Islam semakin menjadi. Pun, terjadi di negeri ini. Rentetan kasus bom, aksi terror dan berbagai tindak radikal lainnya, tak henti hentinya dialamatkan kepada kaum muslimin. Seakan lekat kepada islam, sebagai agama pengusung terorisme. Kekhasan penampilan muslim kadang menjadi phobia tersendiri bagi masyarakat kita. Katakanlah sekelas jenggot, jubah panjang, sorban, dan performance yang sedikit menampilkan wujud “keekstriman” seakan mendapt justifikasi dari masyrakat luas bahwasanya tampilan tersebut adalah representative dari pelaku terror atau yang berkaitan dengannya. Pondok pesantren pun dianggap menjadi benih pesemaian teroris. Jihad dianggap sebuah makar dan teror. Padahal keduanya adalah dua kubu yang sungguh jauh berbeda.
Dengan kesalahan anggapan ini, tentu citra Islam semakin tersudutkan. Hal ini tentu menjadi fenomena yang memprihatinkan bagi umat Islam. Indahnya Jihad Kita yang Sebenarnya Adakah yang harusnya diluruskan? Ada jawabnya. Menurut Abdul Halim Mahmud, sebagaimana dikutip oleh KH Ali Yafie (1999), jihad bisa dikategorikan menjadi empat macam, yaitu jihad al-harb (jihad ke medan perang), jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu), jihad al-usrah (jihad dalam keluarga), dan jihad al-mujtama’ (jihad dalam masyarakat). Dari kategori ini, jihad bukanlah sekadar perang, bahkan lebih dari itu, jihad justru merupakan sebuah konsekuensi keimanan atau religiusitas. Namun, jihad ke medan perang dalam islam bukanlah hal yang sembarangan. Sang sahabat terdekat Rosulullah, Abu bakar as-Sidiq mengatakan bahwa diantara etika berperang dalam islam diantaranya, Islam hanya memerangi kebathilan kemunkaran dan kekufuran. Islam melarang membunuh wanita,anak anak, orang tua, hewan dan merusak pepohonan, tidak berlebihan dan lain lain. Begitu indahnya aturan Islam dibandingkan dengan tindakan brutal Amerika dan Israel di tanah Al-Quds palestina yang tanpa ampun membantai ribuan muslim palestina, memborbardir rumah sakit, melakukan pelecehan terhadap wanita menembaki anak anak dan orangtua, bahkan hingga petugas medis sekalipun. Daya rusaknya pun hingga meratakan tanah tanpa sisa. Lalu sebenarnya siapa yang lebih layak yang disebut biang teroris? Peperangan dalam islam pun juga memiliki kaidah sendiri. Perang dibenarkan hanya untuk 2 tujuan yaitu perlawanan terhadap agresi atau permusuhan dan membela dakwah dan kebebasan beragama (Muh,Jamaludin Ali Mahcfudz:1976). Hal ini diperkuat dengan salah satu firman Allah Telah diijinkan berperang bagi orang orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah diperangi karena sesunnguhnya mereka telah dianiaya.sesunnguhnya Allah benar benar benar maha kuasa menolong mereka itu.(Q.S. Al-Hajj :39) Lebih dari itu, Islam menetapkan aturan main untuk berjihad dalam arti perang berupa batasan untuk tidak memerangi anak-anak, wanita, dan orang jompo, sebab mereka adalah kaum lemah yang tidak pantas untuk menjadi korban, sehingga mereka harus dilindungi. Aturan yang sungguh mulia ini Allah tetapkan dalam (QS. Al-Baqarah/2: 190): “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas Kembali mengurai catatan sejarah peradaban islam yang dibangun dengan gemilang oleh generasi generasi terbaik yakni para sahabat rosul di awal awal hijrah akan mengingatkan kita pada betapa Islam adalah agama yang sangat santun dan islam adalah agama yang membawa perdamaian dan rahmat bagi semesta alam serta tidak pernah mengajarkan kebatilan dalam bentuk apapun Islam bahkan menggoreskan kisah spektakuler, lewat sahabat yang dijuluki gudang ilmu Ali bin Abi tholib, yang urung menghantamkan pedang bermata duanya keleher musuh hanya karena si musuh yang jatuh tersungkur meludah pada wajah Ali. Namun, Ali tidak membunuhnya karena takut niatnya melenceng bukan lagi karena Allah, tapi karena sekedar melampiaskan kemarahan sekejapnya saja. Kisah Muslim bin aqil pula patut disimak. Muslim bin aqil sebenarnya bisa saja membunuh ubaidillah bin ziyad, gubernur kuffah yang mengambil keputusan untuk membunuhi muslim, dan ketika sang gubernur zalim sedang terjebak di rumah pendukung imam husain, dan kesempatan untuk membunuh gubernur itu itu ada, tapi muslim bin aqil urung melakukannya karena ia teringat sabda nabi “Iman menghalangi pembunuhan yang licik dan mukmin tidak kan akan membunuh seseoorang dengan licik”.
Demikianlah gambaran begitu Islam sangat menjunjung nilai kemanusiaan dan perdamaian. Dan pada akhirnya mengembalikan lagi izzah umat islam, adalah sebuah amanah yang harus kita tunaikan. Menjadi tanggung jawab kita sebagai umat muslim yang mengakui akan mengikuti genderang cinta ini, cintanya para pejuang, cinta untuk Al-Islam, cinta yang telah dinisbatkan kepada Sang penggengam kehidupan. Cinta yang telah melahirkan ribuan jundi Palestina ber`intifadhoh` melempar batu di jalan jalan, yang mengobarkan semangat mujahidin afghan ditengah teriknya padang pasir dan bom bom berdentuman. Saatnya meluruskan kembali pemahaman rakyat negeri ini dengan sebenar benarnya, agar syak (prasangka) yang terjadi bahkan keraguan yang menggelayuti umat islam akan agamanya sendiri bisa ditepiskan jauh jauh. Menggaungkan kembali indahnya Islam yang begitu dan mulia menjadi salah satu carannya. Masyarakat kita terlanjur terset-up berfikiran buruk terhadap makna jihad dan Islam. Oleh karena itu, banyak yang perlu difahamkan akan kebenaran yang sesungguhnya. Dan itu adalah tanggung jawab kita bersama.
Dan katakanlah yang benar telah datang dan kebatilan telah lenyap, ”sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap”(Q.S Al-Israa`:81) Wawllahu `alam bisshowab
SEDEKAH MEMANG DAHSYAT
Aku tidak tahu biji yang timbangannya sebanding gunung di dunia kecuali sedekah
(Yahya Bin Muadz *)
Sedekah adalah Plihan tak biasa
Sedekah, mengamalkannya adalah pilihan. Bukan zakat yang diwajibkan andai harta sudah mencapai nishobnya. Bukan pula kafarat. Bukan wajib, atau paksaan. Ia mengalir dari hati, berkekuatan ikhlas untuk memberi, tanpa meminta kembali. Karena Sungguh Allah lah sebaik baik Sang pemberi balasan yang takkan pernah menyia-nyiakan amalan hamba-hambaNya
Namun pilihan ini tak biasa, begitu juga Pahala Sunah yang diganjarkan atasnya tak juga biasa. Berlipat ganda kiranya, karena begitulah Allah telah menjanjikan bahwa ditiap bulirnya, Akan Allah gandakan bahkan lebih beratus ratus kali lipatnya.




