Arsip Bulanan: Februari 2012
Jalan Cinta Pejuang Pena Kebaikan
Jalan Cinta Pejuang Pena Kebaikan
–A Drop of Ink can Move a million people to think–
By : Erny Ratnawati
Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Demikian sepotong kalimat di film Laskar Pelangi yang inspiratif itu, selalu menggugahku
untuk tak lelah merajut mimpi mimpiku. Seperti tak lelahnya Ikal untuk melanglang hingga ke Sorbonne untuk menera impian besarnya, aku juga tak penat menyimpan impian besarku pula. Impian yang kunyalakan sejak beberapa tahun lalu dan menjadi tulisan setia di barisan depan dreambook ku. Impian menjadi seorang penulis. Demikian kiranya kata optongan wise word A Drop of Ink can Move a million people to think diatas mengatakan bahwa tinta dapat merubah fikiran jutaan orang. Selaras dengan imbalan dan harga tinggi yang dijanjikan dalam hadist masyhur yang disabdakan oleh titah nabiku. “setetes tinta para ulama lebih berat dibanding setetes darah para syuhada”. Demikian lebih menggebukan mimpiku untuk menjadi para pejuang pena kebaikan.
Menulis bagiku adalah menebar bulir kemanfaatan dan menera keabadian. Seperti yang selalu membekas di memoriku saat seorang Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, batinku mengamini. Manusia takada yang abadi, suatu saat ia pasti akan mati. Jika seekor harimau mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gadingnya, apakah manusia mati tak meninggalkan apa apa? Untuk itu, bagiku selayaknya manusia meninggalkan tak sekedar nama, namun juga jejaknya. jejak kebaikan tentunya. Jejak itulah yang akan diikuti banyak orang, sebanyak aliran doa yang akan mengucur atas tapak kebaikannya yang menjadi teladan.
Dan aku adalah salah seorang anak manusia yang ingin mengukir jejakku lewat tulisan. Sebab aku percaya ; yang hanya diucap akan hilang, yang hanya diiingat juga cepat pergi, tapi yang ditulis akan tetap ada jejaknya.
Dari tulisan, aku ingin menebarkan secercah cahaya kemanfataan. Sebaik baik manusia adalah mereka yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Itulah yang aku yakini. Dari tulisan tulisan itu pulalah aku yakin akan mengalir inspirasi. Inspirasi yang terus akan digali oleh para penerusku nanti. Lewat itu aku bisa menularkan torehan semangatku. Semangat adalah sumbu. Layaknya lampu teplok di desaku, kala aku tak punya sumbu, maka matilah lampuku. Reduplah sekelilingku. Dan tentu gelaplah duniaku. Maka, ku ingin menyalakan sumbu itu dengan goresan tulisanku. Mengalirkan semangat kebaikan yang tersuntikkan lewat deretan huruf di ujung penaku. Aku ingin tulisanku mencerahkan banyak orang.
Dan tentang belajar menulis aku yakin dan percaya bahwa Allah tak pernah ingkar akan janji-Nya. Bukankah DIA telah menjanjikan perubahan hanya akan datang kepada mereka yang yang
mau merubah diri mereka sendiri. Demikian aku memahami dengan menulis sekarang ini dan itu menjadi komporku untuk tidak berhenti menyalakan api semangat. Empat buah kata berakhiran – at yakni SEMANGAT, KERINGAT, TEKAT dan BAKAT adalah kata kuat yang memiliki persen sendiri sendiri.
Aku menyebut semangat adalah tali sumbu. Sumbu yang dibakar untuk menyalakan kobaran api di sebatang lilin tegak. Demikian, aku menyebut semangat belajar begitu kuat perannya menggebukan diri untuk menulis layaknya tali sumbu lilin itu. Aku, yang dulunya adalah jamaah peserta workshop kepenulisan, yang jarang absent. Dimana ada training menulis, disitu pula aku ada. Berlari dari sana kesini, mencoba mencari setitik inspirasi dari para penulis yang tenar namanya. Namun apa yang kudapat. Ilmu tentu. Semangat? Iya tentu aku dapat. Namun lambat laun, kurasa semangat hanya sekejap , hanya bertahan maksimal sekitar 2x 24 jam pasca kakiku melangkahkan keluar dari acara itu. Selebihnya, semangat itu mulai luntur. Dan akhirnya kutersadar bahwa semangat terbesar itu akan datang dari diriku sendiri. Kapankah pena ku akan tergerak, jika semangatku dalam hati tak menyala. Jika aku sibuk mememolototi para penulis di seminar seminar kepenulisan, namun aku tak segera menulis. Ah, omong besar saja kukira. Layaknya sebaik apapun resep makanan tak bermanfaat jika aku tak mau memprosesnnya menjadi masakan. Materi itu hanya akan jadi penghias notes ku saja jika aku tak segera mengaplikasikannya. Pun segera ku bergegas, menulis apa saja. Ikut lomba menulis dimana mana. Sampai ku pada titik jenuh. Ketika taksatupun lomba kumenangi, tak satupun tulisanku diterima redaksi, dan ketika tulisanku jadi bahan tertawaan karena begitu anehnya. Hingga aku pernah ingin mengundurkan diri saja dari dunia kepenulisan. Aku resah dan gelisah. Aku seolah tak berjodoh dengan dunia tulis menulis. Aku mencari jawab. Keeistiqomahan sebenarnyalah jawabannya. Berbagai macam cerita pada akhirnya menyadarkanku bahwa belajar itu bertahap dan bukan serba instan. Bukannya bayi yang baru lahir, tak langsung bisa berdiri? tapi ia harus belajar terlentang, tengkurap, merangkak dulu baru bisa berdiri?. Demikian analogi yang akan mengingatkan kita bahwasanya di jejak jejak gemilang itu ada jalan panjang yang harus dilalui setapak demi setapak, sedepa semi sedepa dan sehasta demi sehasta.
mataku kian terbuka tentang cerita dari kawan kawan yang luar biasa gigihnya. Layaknya inspirasi seorang Tukang becak yang telah menulis hampir 500 karya, dan akhirnya karya ke lima ratuslah yang berhasil menghias media. Itulah Bang Joni Ariadinata. dan saya pun juga menemukan sosok sosok inspiratif nan gigih itu juga. Seorang sahabat yang gigih menulis tulisannya dengan tangan, bukan dengan mesin ketik atau laptop ternyata tak kenal henti pula untuk berusaha. Tentang teman yang meminjam satu laptop dari satu teman ke teman lain bergantian, dari satu rental ke rental lain, demi dia bisa menulis. Sungguh aku malu kawan, dengan mereka yang tak pantang menyerah menera kata itu. Bahkan ketika fasilitas pun takada. Kufikir, adakah lagi alasan yang membuatku tak menulis sekarang juga dan memanfaatkan segala fasilitas dan kemudahan sebagai karunia Allah untukku. Ah kukira memang terkadang aku pintar mencari sejuta alasan untuk tidak menulis. Hingga akhirnya,aku membuat azzam, menulislah apapun juga, sekarang juga. Dan temapt temapt saya belajar seperti komunitas kepenulisan seperti FLP, SIM dan lain lainya menjadi jalanku menuju kesana. Kawan kawan gigih saya seolah menjadi bara pembakar semangat saya untuk terus berkarya di jalan kebaikan. Teringat slogan Fastabiqul khoirot. Nah disanalah saya menemukan teman teman hebat untuk berlomba lomba itu.
Bahagia menjalani proses
Kedua. Ini tentang proses. Begitulah kiranya , yang ingin aku berbagi cerita luar biasanya pelajaran tentang proses yang tealh kuecap Kita tak sedang menabikkan hasil akhir. Kita hanya akan mencoba bicara mengecap rasa tentang indahnya proses di jalan ini. Agar tiap jejak kita akan selalu bermakna indah nanti saatnya tiba.
Menjalani proses menjadi penulis Berat?Bisa iya, bisa tidak. Bisa jadi di awal memang berat terasa proses itu bermula. Layaknya menarik tali timba yang penuh dengan air , uluran timba itu bisa membuat kita terkapar kelelahan. Namun perhatikan apa yang terjadi kemudian ketika air telah ditumpahkan di bejana. Kita ulurkan timba ke bawah lagi, ringan bukan? Demikianlah ketika sekarang. namun, aku percaya, aku tengah mengumpulkan puzzle puzzle ilmu yang terserak dimana mana. Belajar dari sang timba, kita akan belajar bersabar dalam menjalani prosesnya menaikkan dirinya sendiri keatas. Mengingati tentang kegigihan dalam berproses, kita layaknya perlu kembali memberikan empat jempol untuk Bang Joni ariadinata dengan gebu kegigihannya. Demikian para penulis lainnya. Tanyakan kepada mereka, kegigihan macam apa yang membuat mereka berhasil menjadikan tulisannnya kini punya harga. Dengarakn cerita jungkir balik mereka. Dan temukan jawabanya.
Kian hari, saya terlatih menjadi orang orang yang diasah untuk memiliki kegigihan atas puluhan kegagalan. Kebanyakan orang akan jenuh dengan kegagalan yang menimpanya. Gagal lagi, gagal lagi, kilahnya. Banyak mereka yang cenderung mengakhiri actionnya karena beranggapan ia telah gagal untuk selama selamanya.Tentang hal itu, marilah sejenak membuka lembaran sejarah. Merenung sejenak, ketika memutar putaran waktu berapa abad lalu dan kita berdiri di depan seorang Ilmuwan gigih bernama Thomas A Edison. Ketika pemuda tuli ini, memutuskan untuk tetap melanjutkan penelitiannya, dia tak hirau tentang apa celoteh kanan kirinya. Ratusan project nya gagal. Idenya pun dianggap gila. Berhentikah ia? Bisa kita bayangkan jika ia memutuskan berhenti dari percobaanya yang ke 999 sekian ratus tahun lalu itu, tentu penemuan dahsyat nya tentang bola lampu mungkin tak jadi tercipta. Karena ternyata percobaanya yang Ke 1000 lah yang menghantarkan temuan revolusioner sepanjang sejarah tersebut berhasil dicoba. Hal ini akan mengingatkan kita pula pada kisah sang pemecah batu. Sang pemecah batu, ternyata harus cukup memilin kesabaran ketika pukulan pukulannya diawal tak membuat batu yang sekeras baja itu terlihat bergeming. Pukulan demi pukulan tetap juga tak bergeming. Namun, ternyata dipukulan ke 100, batu itu akhirnya bisa pecah berkeping keping. Kekuatan dari pukulan pertama itu ternyata tersayamulasi hingga pukulan ke 100, dan ternyata membuat batu akhirnya hancur lebur.
Demikian dari kisah inspirasi itu kita belajar. Bahwasanya memang kesuksesan berbanding linier dengan tingkat kegigihan dalam beproses
hingga ke titik akhir. Sehingga dalam proses itu, kegagalan bukanlah lagi sebuah ancaman yang mengerikan. Karena kegagalan adalah bagian dari berproses. Kegigihan usahalah yang akan menjadi kunci pembuka menaiki tangga sukses berikutnya. Mereka yang gigih bertahan, bisa jadi sudah tak terasa ketika satu persatu impiannya terwujud. Peluhnya terbayar lunas dengan hasil yang terkadang unpredictable. Tak disangka, tak dikira. Begitulah Maha adil Allah telah menggoreskan sunatullahnya. Sebuah ketentuan bahwa mereka yang menanam mereka pula akan menuai. Usaha manusia tahap demi tahap yang berkesinambungan dengan penuh semangat tanpa patah arang tentu takkan tersiakan. Mengecap ranum kesuksesan yang beroleh dari dari proses panjang nan berletih letih tentu akan sangat manis dirasa. Jalan sejati kesuksesan memang butuh itu nampaknya. Betapa banyak kita disadarkan, para pemburu kesuksesan versi shortcut ( jalan pintas-red) akan dibuat gigit jari karena masanya di puncak sukses terkadang hanya berkisar umur jagung. Ya, pendek sekali. Se pendek jangkauanya untuk merasai perjalanan menuju kesuksesan. Dan sekolah kehidupan telah membuka mata saya tentang itu semua. Menjadi penulis yang gigih berproses, demikianlah kiranya aku menyimpulkan. Dan kesuksesan kelak adalah hak dari setiap mereka yang mau berusaha. Saya menuliskan 1 deret untaian kata tentang proses ini. Happy Ending is reward from a long and winding Journey.
Saya juga kian sadar, menulis ternyata memang bisa dipelajari. Siapapaun dia. Gugatlah teori bahwa menjadi penulis adalah engkau harus bersimbah ilmu di fakultas sastra, di jurusan jurnalistik dan sebagainaya. Taufik Ismail, yang seorang dokter hewan, Mark Twain yang juru kemudi kapal, Bang Joni tukang becak akan membalikkan fakta itu. Jadi tak usah risau. Karena menulis diawal hanya butuh kemauan hingga akhirnya kemampuan lah yang akan datang sendiri menghampiri. Tentu bukan dengan berdiam, namun dengan selaksa kegigihan pasti. azzam kuat dan semangat menjadi kompor yang selalu menjaga nyala api.
Dan sekarang aku sedang menimang diriku, mengukur sejauh apa kegigihanku. Aku tak ingin berangan menjadi seorang Habiburahman, Helvi tiana Rosa, Gola Gong, afifah afra dan penulis tenar namanya. Karena popularitas hanyalah bonus dari Allah belaka. Itu bukan tujuanku menulis Aku ingin berproses. Berproses di jalan cinta para pejuang pena kebaikan.
Aku akan menikmati prosesnya sekarang. Aku ingin menera kata kata dengan rela dan bahagia bukan sejumput paksa. Biarlah Allah yang akan mengatur kemana kereta ku kan menuju. Aku yakin kelak aku akan sampai di penghujung sana. Aku berikhtiar untuk mempertemukan lingakran mimpi mimpiku dengan takdir Allah yang telah Allah gariskan di lauhul mahfudz. Tugasku hanya berdoa dan berusaha. Hasil akhir adalah hak prerogatif Tuhanku.
Dan aku ingin menjadikan jalan pena ini adalah jalan juang dan jihadku untuk menyampaikan agama Allah, serta mengangkat izzzah dan kemuliaan Diin-ku. Karena aku begitu meyakini bahwa mengembalikan lagi izzah umat islam, adalah sebuah amanah yang harus kita tunaikan sekarang ini dan selamanya nanti. Menjadi tanggung jawab kita sebagai umat muslim yang mengakui akan mengikuti genderang cinta ini, cintanya para pejuang, cinta untuk Al-Islam, cinta yang telah dinisbatkan kepada Sang penggengam Kehidupan. Cinta yang telah melahirkan ribuan jundi mungil Palestina dengan pekikan dan dentuman takbirnya ber`intifadhoh` melempar batu di jalan jalan, yang mengobarkan semangat mujahidin afghan ditengah teriknya padang pasir dan bom bom berdentuman ataukah para muslim Chechnya dengan gelora jihadnya.
Dan kini bersama pena aku berjihad layaknya mereka. Biar kelak jihad bil qolam ini akan menjadi saksi yang memberatkan timbangan di mizan nanti.
“Nuun. Demi Pena dan apa-apa yang mereka tuliskan”
