Arsip Bulanan: Juli 2011
Istimewanya Shadaqah
Istimewanya Shadaqah
*Erny Ratnawati
Di dalam Al- Qur;an kata shadaqah setidaknya diulang sebanyak 43 kali dengan beberapa istilah berbeda yang menunjukkan makna serupa. Hal ini dapat diartikan bahwa perintah shadaqah bukanlah sekedar perintah beramal biasa. Bahkan, Allah menaruh perhatian yang besar pada perintah ini dalam kitab sucinya dengan berbagai macam penekanan. Mulai dari perintah bershadaqah (QS At-Taubah{9}:60), janji Allah (QS Al-Baqoroh{2}:274), hingga orang orang yang berhak menerima shadaqah (QS Al-Baqoroh{2}:215). Hal tersebut diatas menunjukkan bahwa shadaqah menempati posisi yang utama dan istimewa.
Disamping itu, Allah juga menggambarkan keutamaan pahala sedekah dengan perhitungan yang cerdas luar biasa. Dan termaktub dalam (QS Al-Baqoroh{2}:261). Dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa pahala shadaqah itu akan dilipatgandakan menjadi 700 kali. Hitungan itu tenyata tak sekedar berhitung ala matematis dunia. Menurut kebiasaan dari penggunaan kata tujuh yang terdapat dalam Alquran, kata 700 pada ayat tersebut bukanlah sekedar menunjukkan makna sebuah bilangan antara 699 dan 701. Melainkan menunjukkan ungkapan atas banyaknya balasan yang akan diperoleh bagi siapa saja yang gemar shadaqah.
Begitu dahsyatnya shadaqah, hingga Allah juga menggambarkan didalam Al-Qur’an bahwasanya kelak diyaumul hisab, akan muncul golongan orang orang yang merasakan penyesalan, dan memohon agar ditangguhkan ajalnya demi untuk bisa mengulurkan shadaqah di dunia (QS Al-Munafiqun{63}:10) .
Selain daripada itu, shadaqah ternyata menjadi salah satu sarana Allah menyelamatkan seorang hamba dari bencana, dan dari perihnya meregang nyawa. Seperti hadist nabi yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin malik.r.a, Rosulullah SAW bersabda ”Sesunngguhnya shadaqah itu meredam murka Allah dan menghindarkan mati dalam keadaaan buruk (su`ul khotimah )”
Sehingga tak mengherankan jika generasi generasi terbaik semasa Rosulullah, sangat bersemangat menggoreskan kisah kisah kedermawanan yang luar biasa. Rosululullah Muhammad SAW sendiripun menjadi teladan sosok paling dermawan sepanjang sejarah. Beliau selalu mendahulukan orang yang membutuhkan. Tidak ada seorangpun yang meminta kepada beliau, melainkan beliau pasti akan memberinya baik sedikit atau banyak. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya , suatu saat beliau bersegera beranjak dari tempat sholatnya, karena teringat sebatang emas yang masih tersimpan dirumahnya, dan belum dishadaqahkan. Sejarah juga mencatat kedermawanan para sahabat. Abu bakar As-sidiq rela menginfakkan seluruh hartanya tanpa sisa, Utsman membeli sebuah sumur untuk keperluan ratusan kaum muslimin, Ibnu Umar tidak bersedia makan, kecuali bersamanya ada anak anak yatim, Fatimah dan Ali terbiasa meninggalkan sesuatu yang disukainya untuk dishadaqahkan kepada orang lain dan juga sederet kedermawanan para sahabat agung yang lain. Mereka menjadikan tangannya begitu ringan terulur untuk berderma. Kisah mereka semoga menjadi inspirasi bagi kita untuk menjadi insan yang ringan untuk menyedekahkan harta kita di jalan-Nya.
Nyalakan Kembali Semangat Membaca.
Nyalakan Kembali Semangat Membaca
*Erny Ratnawati
Membaca adalah gerbang ilmu pengetahuan. Budaya membaca adalah salah
satu elemen terpenting dalam peradaban keilmuan. Sejarah mencatat tinta emas masa kegemilangan Islam berabad silam, tak lepas dari budaya membaca pada saat itu. Pada masa tersebut, Kaum muslim begitu bersemangat untuk membaca dan menelaah ilmu pengetahuan. Kumpulan kitab kitab yang berderet di perpustakaan juga begitu digandrungi untuk dipelajari.Kotakotakaum muslimin seakan menjadikotametropolitan dalam ilmu pengetahuan di segala bidang.
Tak mengherankan, dari sanalah kemudian peradaban Islam mulai merangkak menuju puncak kejayaan. Rahim peradaban cemerlang yang melahirkan para ilmuwan muslim terbaik dunia. Tidak hanya bersinar dilingkup kaum muslimin, namun prestasi para ilmuwan itu telah diakui di tingkat dunia, bahkan mendapat predikat terbaik. Seperti yang telah dikatakan oleh George Sarton bahwasanya sesungguhnya kaum Muslim telah mencapai tugas utama kemanusiaan yang sebenarnya.Yakni menjadi obor pengetahuan di segala bidang.Umat muslim telah mencatatkan goresan sejarah sebagai kontributor terbaik di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Lihat saja, Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang Muslim. Matematikawan terbaik, Abul Kamil dan Al-Khawarismi adalah Muslim. Bapak kedokteran dunia yaitu Ibnu Sina adalah seorang ulama Muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik, Al-Masudi adalah seorang Muslim. Dan Al-Tabari, ahli sejarah terbaik juga seorang Muslim. Sungguh prestasi yang membanggakan. Bahkan di masa kejayaan itu, bangsa Eropa banyak berbondong bondong belajar pada kaum muslimin hingga berabad lamanya.
Namun, jika kita menarik garis lurus dengan kondisi sekarang, kita seolah
merasa tertampar dengan kenyataan yang ada. Gaung kejayaan Islam berabad silam kian hari kian memudar, seiring menurunnya kualitas dan daya saing kaum muslim di kancah dunia dari waktu ke waktu. Salah satu indikator yang dijadikan acuan untuk mengukur tingkat daya saing tersebut, adalah kemajuan bidang ilmu pengetahuan. Harus kita akui memang saat ini peradaban keilmuan umat Islam jauh tertinggal dari peradaban barat. Kita mungkin tidak ingat kapan terakhir kalinya mendengar nama seorang muslim disebut sebagai pemenang nobel dalam bidang ilmu pengetahuan atau kedokteran, ataupun berapa banyak jumlah publikasi ilmiah dan paten teknologi yang ditelurkan dari tangan seorang muslim. Mungkin ada, namun yang pasti tidak banyak jumlahnya.
Kondisi ini tentu memprihatinkan, apalagi jika kita menilik bahwa Islam sendiri adalah agama yang sangat mendorong pemeluknya untuk belajar ilmu pengetahuan. Al- Qur’an sebagai kitab sakral umat Islam bahkan dikatakan sebagai ensikopledi ilmu pengetahuan yang luar biasa. Ayat ayat kauliyah Allah didalam Al- Qur’an banyak terbuktikan kebenarannya secara ilmiah. Al- Qur’an juga bahkan disebut sebut sebagai sumber inspirasi penemuan penemuan manusia di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Disamping itu, kaum muslim sebenarnya juga memilki harta karun berharga, yakni kitab kitab para ilmuwan besar muslim sebagai rujukan dan sumber ilmiah pengetahuan. Semisal kitab Qanun fi Thib, salah satu dari karya Ibnu Sina yang ditulis dalam bentuk ensiklopedis menyangkut pengobatan dan obat-obatan. Kitab ini dijadikan rujukan di dunia kedokteran selama berabad lamanya, atau karya Aljabar paling monumental berjudul al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah buah pikiran Al- Khawarizmi dan sederet karya luar biasa lainnya.
Namun sayangnya, hal hal tersebut nampaknya kurang begitu tergali dan termanfaatkan oleh kaum muslim. Yang lebih disayangkan lagi justru orang orang non-muslim (baca: barat) lah yang gencar untuk mengambil ilmu dari para ilmuwan tersebut. Walhasil, tak mengherankan jika dunia mungkin lebih banyak mengenal para ilmuwan Eropa dan Amerika sebagai tokoh ilmu pengetahuan yang mumpuni dibandingkan dengan deretan nama tokoh muslim. Kondisi ini terjadi, tidak lain tidak bukan, karena memang kaum muslim belum banyak mengambil peran disana. Kita seakan masih saja menjadi penonton di papan percaturan ilmu pengetahuan dunia. Hal ini membuat kredibilitas dan bargaining position kaum muslim di bidang ilmu pengetahuan kurang cukup diperhitungkan.
Kaum Muslim ‘Lupa’ Membaca
Jika mau untuk kembali merefleksi diri, Salah satu hal yang ditengarai menjadi titik kunci terjadinya degradasi tersebut diatas adalah fenomena Kaum Muslim‘Lupa’Membaca.
Fakta berbicara bahwa budaya baca bangsa-bangsa muslim ternyata berada jauh di bawah bangsa bangsa barat. Hal ini dapat dilihat dari budaya literasi bangsa muslim yang masih timpang. Sebuah publikasi yang baru saja diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengemukakan bahwa dunia Arab yang terdiri dari 22 negara muslim hanya mampu menerjemahkan sekitar 330 buku per tahun. Angka itu sangat menyedihkan karena hanya seperlima dari jumlah buku-buku yang mampu diterjemahkan oleh sebuah negara kecil seperti Yunani dalam setahunnya. Bahkan Spanyol mampu menerjemahkan rata-rata 100.000 buku setiap tahunnya(Mashudi Antoro,2010). Di Negara muslim lain seperti Indonesia yang berpredikat Negara berpenduduk muslim terbesar, jumlah buku baru yang terbit di negeri ini hanya berkisar 8000 judul/tahun, jumlah yang sangat minim jika dibandingkan dengan Vietnam dengan jumlah 45.000 judul/tahun dan Inggris yang menerbitkan 100.000 judul/tahun. Jumlah judul buku baru yang ditulis, dan diterbitkan, kemudian dibaca oleh sebuah masyarakat menunjukkan kapasitas mayoritas rakyat bangsa tersebut untuk melahirkan gagasan-gagasan baru yang didapat dari aktivitas membaca (Sudarwoto, 2009). Cukup memprihatinkan realita tersebut, apalagi jika mengingat perintah yang Allah pertama kali justru adalah perintah untuk membaca. Hal ini patut menjadi introspeksi bersama.
Jika ditelisik kembali dari urgensinya, membaca adalah aktivitas yang sangat bermanfaat karena membaca adalah pintu pertama dibukakannya ilmu pengetahuan. Tak heran,budaya membaca dikatakan selalu berbanding linier dengan kualitas kecerdasan dan peradaban suatu bangsa. Demikian juga salah satu faktor suatu bangsa dikatakan maju juga tak lepas diukur dari tingginya minat baca masyarakatnya.
Sedangkan ditinjau dari segi kebermanfaatan, dalam buku Mustika Ilmu dan Pengobatan Jiwa karya Mashudi Antoro disebutkan bahwa membaca dapat mendorong seseorang terstimulus untuk berinovasi dan produktif dengan banyak ide segar dan gagasan yang baru, selain juga dapat mematangkan mematangkan kemampuan seseorang dalam mencari atau memproses ilmu pengetahuan. Mengetahui apa saja yang belum ia ketahui secara detail, dan mampu digunakan untuk mempelajari bidang-bidang pengetahuan yang berbeda secara bersamaan. Bagi kaum muslim sendiri, membaca dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk kembali menggali dan menemukan warisan ilmu ulama yang merupakan tambang emas yang begitu berharga.
Akan tetapi sayang sekali, menilik data tentang realita budaya baca kaum muslim yang penulis paparkan di awal, kita memang patut untuk prihatin. Namun, jika berhenti di batas keprihatinan belaka, maka kondisi ini nampaknya akan terus berlarut saja. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa semangat membaca bagi kaum muslimin sudah seharusnya kembali dinyalakan. Semangat itu tentu pada awalnya harus tersematkan terlebih dahulu di masing masing muslim secara pribadi, karena inti perubahan sejati adalah dimulai dari diri sendiri. Dari kesadaran personal tersebut diharapkan akan tumbuh menuju kepada kesadaran kolektif. Ketika telah tercipta kesadaran secara berjamaah,kesadaran ini akan menggerakkan sebuah kebiasaan menjadi jamak dilakukan. Dari kebiasaan masyarakat yang sering dan berulang ulang dilakukan tersebut yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah budaya.
Budaya membaca bagi kaum muslim memang sudah selayaknya segera kembali
digalakkan. Karena darisanalah produktivitas karya akan banyak dilahirkan. Dari produktivitas itulah, kaum muslim dapat membuktikan di mata dunia, bahwa mereka mampu kembali membawa gemilang nama Islam melalui torehan karya dan prestasi yang luar biasa. Mengulang kembali sejarah, bukan hal yang mustahil kiranya jika umat muslim mau bangkit dari keterpurukan dan keterbelakangan. Dan semuanya itu dapat diawali dari satu langkah sederhana. Nyalakan kembali semangat membaca kaum muslim dunia.
Wawwllahu ‘alam bisshowab
Detak semangat mereka tak kenal kata mati
#1.Catatan inspirasi
Bismillahirrohmanirrohim
Detak semangat mereka tak kenal kata mati
Setengah jam membaca beberapa biografi singkat para imam besar dan ulama yang luar biasa itu memang terasa sangat menggetarkan hati. Saya selalu berdecak kagum dengan mereka yang seolah detak semangatnya tak pernah kenal kata mati
Meski harus terkungkung dengan kehidupan di dalam penjara yang pengab nan sesak, tak pernah menyurutkan mereka untuk menorehkan tinta tinta kebaikan. Mereka tetap membaca dan menulis,dan terus melakukannya bahkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan sekalipun. Dari tangan tangan mulia itulah kemudian lahir karya karya fenomenal yang mengguncang dunia.
Imam Ibnu Taimiyah – seorang ulama besar pengusung panji kebenaran dan ketakwaan itu mampu menyelesaikan beberapa karyanya di dalam penjara. Ketika penguasa dzalim menyingkirkan penanya, beliau tetap menulis walaupun dengan menggunakan arang. Kitab Majmu Fatawa yang sangat tebal itu, ternyata sebagian besar ditulis ketika beliau berada dalam penjara.
Sayyid Quthb mampu menuliskan karya terbesarnya, Tafsir Fizhilalil Quran, ketika dalam keadaan terhimpit penderitaan. Di siksa dalam penjara lantas dihukum mati. Di dalam penjara itu juga, beliau menulis sebuah buku kecil yang saat itu disebut sebut sebagai buku the best of best seller di Timur Tengah dan paling ditakuti pemerintahan otoriter, yaitu Ma’allim fith Thariq.
Prof. HAMKA, sosok ulama Nusantara yang senantiasa konsisten di jalan Allah itu, mampu menyelesaikan kitab tafsirnya yang paling fenomenal dan berjilid-jilid tebalnya, Tafsir al-Azhar, juga ketika beliau berada di dalam penjara.
Dr. Yusuf al-Qaradhawi – ulama terkemuka saat ini – dengan terpaksa harus berhijrah dari Mesir keQatarkarena pemerintah otoriter Mesir saat itu memburu para aktivis Islam dan menjebloskannya ke dalam penjara. Namun, disanabeliau mampu menyusun kitab Fiqh Zakat, yang menurut Abul A’la Maududi merupakan kitab yang paling bagus pada abad ke-20.
Dr. Aidh al-Qarni pernah di penjara pula karena pernyataan-pernyataan politik yang ditulisnya dalam sebuah syair. Namun disanabeliau menghabiskan waktu untuk membaca, merenung dan menulis hingga mampu menelurkan karya fenomenal. Karyanya La Tahzan, telah memukau jiwa dan mengguncang dunia. Buku itu kini telah dicetak lebih dari dua juta eksemplar di seantero dunia. Beliau juga dianugerahi penghargaan pemerintah Arab Saudi sebagai penulis paling produktif di Arab Saudi.
Saya hanya bisa geleng geleng saja, api semangat seolah berkobar lagi. Tak sabar menanti esok untuk kembali melanjutkan membaca kisah kisah lain yang tak kalah luar biasa.
Alhamdulillahirobbil ‘alamin.
SawahKarang, Senin(25/7/011) pukul 23.13 WIB
Ngobrol Asyik Bareng Penulis Muda FLP SOLO
Setelah sekian lama , saya sadar sekeping perjalanan iti terlalu asyik jika tidak didokumentasikan. Check it Out!
Ngobrol Asyik Bareng Penulis Muda FLP SOLO
Ahad,10 Juli 2011 hari yang begitu menggugah. Alhamdulillah saya
didaulat menjadi salah satu pembicara di acara Ngobrol Asyik dan Santai (NGOBRAS) bareng penulis muda FLP solo raya di Islamic Book Fair Goro Assalam. Ngobras kali ini saya taksendiri, saya ditemani tiga orang pembicara lain (mb.tiko, mb.nungma dan mbak dity) dipandu mbak ham ham dari FLP IAIN. Worskhop interaktif ini berjalan begitu seru. Suport teman teman FLP Solo yang datang menambah spirit kita untuk saling berbagi ilmu. Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh mbak ham ham yang gaul abiss, diantaranya tentang motivasi mengapa menulis, cara memanajemen waktu untuk menulis dan karya yang telah dihasilkan. Alhamdulillah tsumma alhamdullillah semua berjalan lancar hingga akhir acara. Saya sendiri merangkum beberapa catatan penting di note saya, memang saya telah berazzam untuk tak menyiakan setiap keping belajar entah darimana saja dan kapan saja. Sembari duduk didepan, saya mencatat berbagai macam inspirasi dan ilmu yang sungguh luar biasa yang saya dapatkan entah dari teman teman saya atau dari pertanyaan peserta. Diantaranya seperti menulis itu dapat dimotivasi dengan niatan ibadah. Karena itu visi terbesar hidup manusia. Selain itu menulis adalah meninggalkan jejak kebaikan, dan juga menjadikan tiap hurufnya menjadi dzarroh kebaikan, mendokumentasikan hidup serta bonusnya menulis itu membuat cerdas, sehat sekaligus kaya dan awet muda ( He He He)
Di akhir sessi, tiap pembicara mencoba memaparkan karya-karyanya dan manfaat yang telah dirasakan selama berproses gigih dari penulis pemula hingga tlah menghasilkan karya. Dari ada yang menyerahkan royalty buku pertama ke orang tua, sederetan buku yang dihasilkan, duet nulis bareng penulis ternama, karyanya yang sering nongol di media , bayar kuliah sendiri dengan honor menulis dan sebagainya.
Di acara itu, saya juga dipaksa untuk baca puisi. Puisi saya yang bertema ramadhan yang berjumlah tiga lembar setengah, tapi hanya satu lembar yang saya bacakan. Sebuah puisi berjudul “bisik Malaikat mengejakan ramdhan’ berisi sindiran tentang protes malaikat atas aktivitas di bulan ramadhn yang melenakan, justru disenangi banyak orang. Missal bangun bada subuh atau terlalu panjang tidur siang dan lain-lain. Itu menjadi pengingat bagi diri saya sendiri untuk kelak lebih produktif mengisi ramadhan.
Acara dilanjutkan Tanya jawab. peserta yang bertanya masing masing bertanya tentang proses kreatif non fiksi, dan menggairahkan minat menulis sejak dini. Jawabanya antara lain secara singkat; proses kreatif dimulai dari melihat sikon dan sasaran. Sedangkan untuk minat menulis dapat ditumbuhkan dengan fun activity dan motivasi .
Kemudian acara ini ditutup dan dilanjutkan foto foto bersama teman teman flp solo.
Saya melanjutkan keliling stand buku, seusai sholat magrib. Ada Kejadian unik; saat saya berputar stan. Tiba di indiva, seorang mbak mbak berjilbab dengan senyum manis plus merayu meminta kertas puisi saya. Sudah dech, kertas yang telah lecek terlipat lipat itu akhirnya saya kasihkan dengan senyuman juga. Semoga bermanfaat ya mbak.. he he
Sekian . thanks for Allah for this chance. Semoga akan bermanfaat
Menderet huruf huruf, mengukir jejak hidup, mendokumentasikan kepingan mozaik journey of my life
TERUS SEMANGAT BERPROSES MENGGORES KEPINGAN KEBAIKAN
Muslimah Prestatif dan Produktif
Muslimah Prestatif dan Produktif
Salah telak hipotesa kesetaraan gender versi feminis garis keras yang mengkambinghitamkan Islam menjadi agama yang menghalangi para perempuan untuk mampu produktif dan berkembang dengan seperangkat aturan bagi para penganutnya. Jika islam dituding sebagai agama yang mengekang, bahwa Islam menghilangkan hak-hak wanita dan memenjarakannya di dalam rumah bak burung dalam sangkar, maka sungguh sama sekali anggapan itu harus ditepiskan. Kembali membuka untaian kalam di Al- Qur’an, kita bisa dibuat terpana ketika menemukan fakta, bahwa justru Islamlah satu satunya agama yang menampilkan gambaran bahwa perempuan muslimah adalah kaum yang memiliki beragam hak istimewa.
Al- Qur’an menggambarkan bahwa perempuan muslimah memiliki hak untuk dapat berpacu menggapai beragam kemandirian. Kemandirian dalam bidang politik, kemandirian ekonomi ,kemandirian di dalam menentukan pilihan-pilihan pribadi, kemandirian dalam menyerukan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, kemandirian dalam belajar serta beragam kemandirian lain. Dari kemandirian kemandirian itulah diharapkan mampu mencetak kader muslimah yang produktif dan progress di bidangnya masing masing.
Gambaran ideal yang sedemikian tersebut diatas mungkin tidak akan ditemukan di dalam kitab-kitab suci lain. Tidaklah mengherankan jika pada masa Nabi ditemukan sejumlah perempuan yang luar biasa. Mereka merefleksikan beragam kemandirian yang idealnya mampu dicapai oleh para muslimah. Aturan islam bukanlah pagar betis yang menghalangi wanita untuk memiliki prestasi setara bahkan lebih dari kaum pria. Sejarah mencatat Khodijah adalah pebisnis wanita yang tangguh dan disegani di jamannya, Aisyah adalah wanita cendekiawan yang cerdas dan mumpuni, perowi ribuan hadist, serta tempat belajar para sahabat, setelah nabi wafat. Ummu Sulaim seorang da’i wanita yang dakwahnya menggelora, Asma binti Yazid pun juga tercatat wanita ahli ceramah dan diplomasi yang hebat.
Di Era sekarang, marilah sejenak melongok seraya mengacungkan jempol untuk para muslimah produktif ini. Bunda marwah Daud Ibrahim, sanggat banga dengan predikatnya sebagai muslim ketika meraih gelar Doktor di Washinton University, U.S dengan predicat distinction. Dahlia Mogahed karena kepiawainya menjadi satu satunya perempuan muslimah berjilbab yang diangkat bekerja di Gedung putih AS. Profesor Samira Ibrahim, dengan jilbab besarnya , tak menghalangi dia menjadi Duta International Organisasi Kesehatan Dunia. Professor Dr. Bina Shaheen menjadi salah satu pendiri Organisasai ilmuwan wanita dunia . Saamena Shah dengan sangat bangga akan kemuslimahannya berkarir dalam kegiatan Workshop on Machine Learning Canada, sebuah bengkel kerja berskala Internasional di Kanada Ia mengembangakn inovasi algoritma dalam proses belajar kognitif melalui komputerisasi. Prestasinya mengembangkan Global optimizer telah diakui dunia Internasional. Anousheh ansary, muslimah ini mengorbit ke angkasa raya bersama Soyuz – TMA 9 dari Baikonur Cosmodrome. Subhanallah dan masih banyak lagi
Mereka adalah bukti kasat mata bahwa wanita muslimah tetap memiliki kans untuk tetap bergumul dengan segudang prestasi dan produktivitas. Mempersiapkan para muslimah yang bersiap untuk menoreh progress dan menelurkan karya kerja produktif dalam lingkar dakwah dan kebaikan menjadi sebuah tantangan bagi kaum muslimah sendiri. Sebuah tangung jawab personal yang hendaknya menjadi kesadaran diri yang tersematkan di masing masing pribadi.
Muslimah adalah para ibu yang menjadi madrasah kunci perbaikan umat. Dari sanalah rahim rahim kejayaan Islam akan ditumbuhkan demi tegaknya kemuliaan diin-ini.. Untuk itu usaha perbaikan diri muslimah dengan konsistensi penuh dalam menegakkan kemuliaan Islam adalah sebuah cita cita abadi, dan tujuan yang mulia dari pilar pilar proyek perbaikan umat. Pilihan kita untuk mampu berusaha produktif sekaligus prestatif di bidang yang kita geluti tak lagi bisa ditawar tawar lagi. Dari produktivitas itulah akan muncul spirit untuk mampu membawa gemilang agama ini melalui karya dan prestasi yang kita telurkan untuk umat dan dunia.
ditulis oleh Erny ratnawati-
Solo.15 Juli 2011
Purifikasi Interpretasi Teror Vs Jihad
Purifikasi Interpretasi Teror Vs Jihad di Masyarakat Kita
*Erny Ratnawati
Lembaran sejarah kembali dibuka. Kata teror tengah bergaung kembali setelah ia muncul dan dikenal pertama kali di masa revolusi prancis, diakhir abad ke -19. Pada mulanya, kata terorisme sendiri yang bermuasal dari Prancis, adalah sebutan untuk kebrutalan rezim revolusi Prancis yang membabi buta, memenggal 40.000 orang yang dituduhkan anti pemerintah dan kemudian diwariskan juga untuk menyebut tindakan anarki anti pemerintahan di Rusia. Hal inilah yang melekat kemudian bahwa terorisme diidentikkan dengan kekerasan dan anarki perlawanan.
Namun, tiba tiba di awal millennium ketiga, kata terror itu dialamatkan kepada umat Muslim. Mengapa ? Tragedi black Tuesday 11 September 2001, menjadi awal tuduhan itu dilontarkan. Runtuh dan luluh lantaknya nya dua gedung kembar symbol kedigdayaan Amerika Serikat, yakni WTC dan pentagon, telah menghentakkankan dunia. Hal ini ternyata dijadikan momen kesempatan emas bagi Amerika Serikat untuk melaunchingkan senjata ampuhnya untuk menghancurkan salah satu agama terbesar dimuka bumi. Mereka memoncongkan tuduhan pelaku penghancuran terebut kepada ISLAM. Dengan arogan kemudian Amerika Serikat memberi gelar didada umat muslim dengan sebutan “TERORIS”.
Semenjak itulah aksi aksi selanjutnya semakin gencar dilakukan. Santernya stigma negatif terhadap muslim sebagai otak terror, telah menyebar seantero jagat bahkan hingga saat ini. Gembar gembor media di negeri paman sam itu telah menggiring opini dunia, bahwa muslim lah biang onar. Hal ini berbuntut aksi sweeping terhadap muslim beserta penindasan muslim dibeberapa negara menjadi kian marak. Tidak berhenti disitu, perang tersebut merambah di berbagai lini. Baik perang dalam urusan militer, invasi terhadap negara negara, dan Ghozwul fikri (perang pemikiran) yang menyeret umat muslim untuk menjauh dari agamany. Media AS semakin gencar menyebarkan informasi tentang gambaran dan stigma bahwa islam itu kejam, ajaran islam militant, radikal tidak toleran, mengajarkan kekerasan dan sebagainya.
Hal ini tak pelak pula, telah menyebabkan adanya gelombang phobia terhadap Islam semakin menjadi. Pun, terjadi di negeri ini. Rentetan kasus bom, aksi terror dan berbagai tindak radikal lainnya, tak henti hentinya dialamatkan kepada kaum muslimin. Seakan lekat kepada islam, sebagai agama pengusung terorisme. Kekhasan penampilan muslim kadang menjadi phobia tersendiri bagi masyarakat kita. Katakanlah sekelas jenggot, jubah panjang, sorban, dan performance yang sedikit menampilkan wujud “keekstriman” seakan mendapt justifikasi dari masyrakat luas bahwasanya tampilan tersebut adalah representative dari pelaku terror atau yang berkaitan dengannya. Pondok pesantren pun dianggap menjadi benih pesemaian teroris. Jihad dianggap sebuah makar dan teror. Padahal keduanya adalah dua kubu yang sungguh jauh berbeda.
Dengan kesalahan anggapan ini, tentu citra Islam semakin tersudutkan. Hal ini tentu menjadi fenomena yang memprihatinkan bagi umat Islam. Indahnya Jihad Kita yang Sebenarnya Adakah yang harusnya diluruskan? Ada jawabnya. Menurut Abdul Halim Mahmud, sebagaimana dikutip oleh KH Ali Yafie (1999), jihad bisa dikategorikan menjadi empat macam, yaitu jihad al-harb (jihad ke medan perang), jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu), jihad al-usrah (jihad dalam keluarga), dan jihad al-mujtama’ (jihad dalam masyarakat). Dari kategori ini, jihad bukanlah sekadar perang, bahkan lebih dari itu, jihad justru merupakan sebuah konsekuensi keimanan atau religiusitas. Namun, jihad ke medan perang dalam islam bukanlah hal yang sembarangan. Sang sahabat terdekat Rosulullah, Abu bakar as-Sidiq mengatakan bahwa diantara etika berperang dalam islam diantaranya, Islam hanya memerangi kebathilan kemunkaran dan kekufuran. Islam melarang membunuh wanita,anak anak, orang tua, hewan dan merusak pepohonan, tidak berlebihan dan lain lain. Begitu indahnya aturan Islam dibandingkan dengan tindakan brutal Amerika dan Israel di tanah Al-Quds palestina yang tanpa ampun membantai ribuan muslim palestina, memborbardir rumah sakit, melakukan pelecehan terhadap wanita menembaki anak anak dan orangtua, bahkan hingga petugas medis sekalipun. Daya rusaknya pun hingga meratakan tanah tanpa sisa. Lalu sebenarnya siapa yang lebih layak yang disebut biang teroris? Peperangan dalam islam pun juga memiliki kaidah sendiri. Perang dibenarkan hanya untuk 2 tujuan yaitu perlawanan terhadap agresi atau permusuhan dan membela dakwah dan kebebasan beragama (Muh,Jamaludin Ali Mahcfudz:1976). Hal ini diperkuat dengan salah satu firman Allah Telah diijinkan berperang bagi orang orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah diperangi karena sesunnguhnya mereka telah dianiaya.sesunnguhnya Allah benar benar benar maha kuasa menolong mereka itu.(Q.S. Al-Hajj :39) Lebih dari itu, Islam menetapkan aturan main untuk berjihad dalam arti perang berupa batasan untuk tidak memerangi anak-anak, wanita, dan orang jompo, sebab mereka adalah kaum lemah yang tidak pantas untuk menjadi korban, sehingga mereka harus dilindungi. Aturan yang sungguh mulia ini Allah tetapkan dalam (QS. Al-Baqarah/2: 190): “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas Kembali mengurai catatan sejarah peradaban islam yang dibangun dengan gemilang oleh generasi generasi terbaik yakni para sahabat rosul di awal awal hijrah akan mengingatkan kita pada betapa Islam adalah agama yang sangat santun dan islam adalah agama yang membawa perdamaian dan rahmat bagi semesta alam serta tidak pernah mengajarkan kebatilan dalam bentuk apapun Islam bahkan menggoreskan kisah spektakuler, lewat sahabat yang dijuluki gudang ilmu Ali bin Abi tholib, yang urung menghantamkan pedang bermata duanya keleher musuh hanya karena si musuh yang jatuh tersungkur meludah pada wajah Ali. Namun, Ali tidak membunuhnya karena takut niatnya melenceng bukan lagi karena Allah, tapi karena sekedar melampiaskan kemarahan sekejapnya saja. Kisah Muslim bin aqil pula patut disimak. Muslim bin aqil sebenarnya bisa saja membunuh ubaidillah bin ziyad, gubernur kuffah yang mengambil keputusan untuk membunuhi muslim, dan ketika sang gubernur zalim sedang terjebak di rumah pendukung imam husain, dan kesempatan untuk membunuh gubernur itu itu ada, tapi muslim bin aqil urung melakukannya karena ia teringat sabda nabi “Iman menghalangi pembunuhan yang licik dan mukmin tidak kan akan membunuh seseoorang dengan licik”.
Demikianlah gambaran begitu Islam sangat menjunjung nilai kemanusiaan dan perdamaian. Dan pada akhirnya mengembalikan lagi izzah umat islam, adalah sebuah amanah yang harus kita tunaikan. Menjadi tanggung jawab kita sebagai umat muslim yang mengakui akan mengikuti genderang cinta ini, cintanya para pejuang, cinta untuk Al-Islam, cinta yang telah dinisbatkan kepada Sang penggengam kehidupan. Cinta yang telah melahirkan ribuan jundi Palestina ber`intifadhoh` melempar batu di jalan jalan, yang mengobarkan semangat mujahidin afghan ditengah teriknya padang pasir dan bom bom berdentuman. Saatnya meluruskan kembali pemahaman rakyat negeri ini dengan sebenar benarnya, agar syak (prasangka) yang terjadi bahkan keraguan yang menggelayuti umat islam akan agamanya sendiri bisa ditepiskan jauh jauh. Menggaungkan kembali indahnya Islam yang begitu dan mulia menjadi salah satu carannya. Masyarakat kita terlanjur terset-up berfikiran buruk terhadap makna jihad dan Islam. Oleh karena itu, banyak yang perlu difahamkan akan kebenaran yang sesungguhnya. Dan itu adalah tanggung jawab kita bersama.
Dan katakanlah yang benar telah datang dan kebatilan telah lenyap, ”sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap”(Q.S Al-Israa`:81) Wawllahu `alam bisshowab
Meniti Proses di Jalan Sukses
Meniti Proses di Jalan Sukses
*Erny Ratnawati
Kebanyakan orang akan jenuh dengan kegagalan yang menimpanya. Gagal lagi, gagal lagi, kilahnya. Banyak mereka yang cenderung mengakhiri actionnya karena beranggapan ia telah gagal untuk selama selamanya. Demikian pula yang sering menimpa umumnya pada kita.
Tentang hal itu, marilah sejenak membuka lembaran sejarah. Merenung sejenak, ketika memutar putaran waktu berapa abad lalu dan kita berdiri di depan seorang Ilmuwan gigih bernama Thomas A Edison. Ketika pemuda tuli ini, memutuskan untuk tetap melanjutkan penelitiannya, dia tak hirau tentang apa celoteh kanan kirinya. Ratusan project nya gagal. Idenya pun dianggap gila. Berhentikah ia? Bisa kita bayangkan jika ia memutuskan berhenti dari percobaanya yang ke 999 sekian ratus tahun lalu itu, tentu penemuan dahsyat nya tentang bola lampu mungkin tak jadi tercipta. Karena ternyata percobaanya yang Ke 1000 lah yang menghantarkan temuan revolusioner sepanjang sejarah tersebut berhasil dicoba. Hal ini akan mengingatkan kita pula pada kisah sang pemecah batu. Sang pemecah batu, ternyata harus cukup memilin kesabaran ketika pukulan pukulannya diawal tak membuat batu yang sekeras baja itu terlihat bergeming. Pukulan demi pukulan tetap juga tak bergeming. Namun, ternyata dipukulan ke 100, batu itu akhirnya bisa pecah berkeping keping. Kekuatan dari pukulan pertama itu ternyata terakumulasi hingga pukulan ke 100, dan ternyata membuat batu akhirnya hancur lebur.
Demikian dari sanakita belajar. Bahwasanya memang kesuksesan berbanding linier dengan tingkat kegigihan dalam beproses hingga ke titik akhir. Sehingga dalam prose situ, kegagalan bukanlah lagi sebuah ancaman yang mengerikan. Karena kegagalan adalah bagian dari berproses. Kegigihan usahalah yang akan menjadi kunci pembuka menaiki tangga sukses berikutnya. Mereka yang gigih bertahan, bisa jadi sudah tak terasa ketika satu persatu impiannya terwujud. Peluhnya terbayar lunas dengan hasil yang terkadang unpredictable. Tak disangka, tak dikira. Begitulah Maha adil Allah telah menggoreskan sunatullahnya. Sebuah ketentuan bahwa mereka yang menanam mereka pula akan menuai. Usaha manusia tahap demi tahap yang berkesinambungan dengan penuh semangat tanpa patah arang tentu takkan tersiakan.
Mengecap ranum kesuksesan yang beroleh dari dari proses panjang nan berletih letih tentu akan sangat manis dirasa. Jalan sejati kesuksesan memang butuh itu nampaknya. Betapa banyak kita disadarkan, para pemburu kesuksesan versi shortcut ( jalan pintas-red) akan dibuat gigit jari karena masanya di puncak sukses terkadang hanya berkisar umur jagung. Ya, pendek sekali. Se pendek jangkauanya untuk merasai perjalanan menuju kesuksesan.
Betapa banyak pula mereka yang rajin mengikuti seminar menuju sukses, namun karena sibuk ingin bercepat cepat mendapat hasil, justru tersibukkan dengan panjangnya angan angan. Proses yang begitu tertera indah seringkali terlupakan. Seringkali pula langkah ke 99 ditinggalkan karena tak sabar mencapai tujuan. Padahal gerbang sukses kian mendekat rapat. Bukannya bayi yang baru lahir, tak langsung bisa berdiri? tapi ia harus belajar terlentang, tengkurap, merangkak dulu baru bisa berdiri? Demikian analogi yang akan mengingatkan kita bahwasanya di jejak jejak gemilang itu ada jalan panjang yang harus dilalui setapak demi setapak, sedepa semi sedepa dan sehasta demi sehasta.
Hingga saya mampu sedikit menyimpulkan bahwasanya sukses adalah formula yang diramu dari keyakinan dan ikhtiar yang pasti, kesabaran diri dan kesungguhan langkah tak kenal henti. Sukses adalah bonus dari proses rangkaian kegigihan nan kentara, peluhnya raga dan kuatnya doa yang terkolerasi secara maksimal.
Selain itu, bagi saya bagaimanapun juga kesuksesan adalah langkah yang disengaja. Ia bermula dari keinginan yang tercipta berkombinasi dengan ikhtiar yang nyata. Redup remang semangat memang kadangkala menghampiri. Namun, pancangan komitmen ’menyengaja untuk sukses ’ di awal akan membuat kita tetap terjaga. Hidup kita terlalu indah, jika kita tak menyengaja menjadi apa apa. Usaha manusia untuk mencapainya adalah sabar melalui tahap demi tahap yang berkesinambungan dengan penuh semangat tanpa patah arang. Mempercayai bawah kesuksesan adalah takdir yang dituliskan memang sah sah saja. Namun, bukankah Allah tidak mengubah nasib seseorang kecuali ia sendiri yang mengubahnya?
Adapun ketika cercahan kesuksesan sudah ditangan, hendaknya manusia sadar diri. Kesuksesan adalah ujian bagi penerimanya. Sebagian mereka yang merasa di ambang sukses, terkadang alfa dan terlupa. Bahwa setitik sukses yang diterima tak sadar sering memunculkan ego diri. Merasa bahwa rentetan kesuksesan adalah sekedar hasil payah dirinya sendiri. Melupakan tangan yang menakdirkan segala ketentuan. Tuhan. Begitu tabiat manusia, mengingati Tuhan ketika terdesak, namun melupakannya ketika senang.
Oleh karena itu, sepantasnya selaksa rasa syukur yang mendalam atas nikmatNya senantiasa kita gaungkan. Bukan justru kufur setelah limpahan nikmat sukses deras mengucur. Hendaknya setiap dari kita selalu mengingati diri akan limpahan nikmat dan karunia Nya.
Dan pada akhirnya, kesukesan adalah setera kata dalam catatan kehidupan manusia. Seperti layaknya manusia akan menera fitahnya ketika ia harus digilirkan pada dua roda kehidupan. Siklus senang dan sukar akan senantiasa istiqomah berjalan. Mereka datang untuk menguji tingkat keimanan seseorang. Kelak hingga sampai dimana ia mampu untuk bertahan berjalan. Demikian juga sukses pun adalah riak ujian itu. Kita akan diuji tentang sejauh mana kita mampu mensyukuri tiap kepingan kenikmatan yang telah Allah azza wa jalla anugrahkan.
Wawwlahu ‘alam bi sshowab
Menginspirasi Dunia dari Ujung Pena
Menginspirasi Dunia dari Ujung Pena
Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Demikian sepotong kalimat di film Laskar Pelangi yang inspiratif itu, selalu menggugahku untuk tak lelah merajut mimpi mimpiku. Seperti tak lelahnya Ikal untuk melanglang hingga ke Sorbonne untuk menera impian besarnya, aku juga tak penat menyimpan impian besarku pula. Impian yang kunyalakan sejak beberapa tahun lalu dan menjadi tulisan setia di barisan depan dreambook ku. Impian menjadi seorang penulis
Menulis bagiku adalah menebar bulir kemanfaatan dan menera keabadian. Seperti yang selalu membekas di memoriku saat seorang Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, batinku mengamini. Manusia takada yang abadi, suatu saat ia pasti akan mati. Jika seekor harimau mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gadingnya, apakah manusia mati tak meninggalkan apa apa? Untuk itu, bagiku selayaknya manusia meninggalkan tak sekedar nama, namun juga jejaknya. jejak kebaikan tentunya. Jejak itulah yang akan diikuti banyak orang, sebanyak aliran doa yang akan mengucur atas tapak kebaikannya yang menjadi teladan.
Dan aku adalah salah seorang anak manusia yang ingin mengukir jejakku lewat tulisan. Sebab aku percaya ; yang hanya diucap akan hilang, yang hanya diiingat juga cepat pergi, tapi yang ditulis akan tetap ada jejaknya.
Dari tulisan, ku ingin menebarkan secercah cahaya kemanfataan. Sebaik baik manusia adalah mereka yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Itulah yang aku yakini. Dari tulisan tulisan itu pulalah ku yakin akan mengalir inspirasi. Inspirasi yang terus akan digali oleh para penerusku nanti. Lewat itu ku bisa menularkan torehan semangatku. Semangat adalah sumbu. Layaknya lampu teplok di desaku, kala aku tak punya sumbu, maka matilah lampuku. Reduplah sekelilingku. Dan tentu gelaplah duniaku. Maka, ku ingin menyalakan sumbu itu dengan goresan tulisanku. Mengalirkan semangat kebaikan yang tersuntikkan lewat deretan huruf di ujung penaku.Aku ingin tulisanku mencerahkan banyak orang.
Akan kunikmati proses ini. Biarlah apa yang terjadi, Tujuan utama tetaplah untuk ku bisa menjadikan tiap goresanya adalah ibadah. Dan dari ujung pena juga aku bisa berbagi kemanfaatan dan inspirasi untuk dunia,





