Jalan Cinta Pejuang Pena Kebaikan
Jalan Cinta Pejuang Pena Kebaikan
–A Drop of Ink can Move a million people to think–
By : Erny Ratnawati
Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia. Demikian sepotong kalimat di film Laskar Pelangi yang inspiratif itu, selalu menggugahku
untuk tak lelah merajut mimpi mimpiku. Seperti tak lelahnya Ikal untuk melanglang hingga ke Sorbonne untuk menera impian besarnya, aku juga tak penat menyimpan impian besarku pula. Impian yang kunyalakan sejak beberapa tahun lalu dan menjadi tulisan setia di barisan depan dreambook ku. Impian menjadi seorang penulis. Demikian kiranya kata optongan wise word A Drop of Ink can Move a million people to think diatas mengatakan bahwa tinta dapat merubah fikiran jutaan orang. Selaras dengan imbalan dan harga tinggi yang dijanjikan dalam hadist masyhur yang disabdakan oleh titah nabiku. “setetes tinta para ulama lebih berat dibanding setetes darah para syuhada”. Demikian lebih menggebukan mimpiku untuk menjadi para pejuang pena kebaikan.
Menulis bagiku adalah menebar bulir kemanfaatan dan menera keabadian. Seperti yang selalu membekas di memoriku saat seorang Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian, batinku mengamini. Manusia takada yang abadi, suatu saat ia pasti akan mati. Jika seekor harimau mati meninggalkan belangnya, gajah mati meninggalkan gadingnya, apakah manusia mati tak meninggalkan apa apa? Untuk itu, bagiku selayaknya manusia meninggalkan tak sekedar nama, namun juga jejaknya. jejak kebaikan tentunya. Jejak itulah yang akan diikuti banyak orang, sebanyak aliran doa yang akan mengucur atas tapak kebaikannya yang menjadi teladan.
Dan aku adalah salah seorang anak manusia yang ingin mengukir jejakku lewat tulisan. Sebab aku percaya ; yang hanya diucap akan hilang, yang hanya diiingat juga cepat pergi, tapi yang ditulis akan tetap ada jejaknya.
Dari tulisan, aku ingin menebarkan secercah cahaya kemanfataan. Sebaik baik manusia adalah mereka yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Itulah yang aku yakini. Dari tulisan tulisan itu pulalah aku yakin akan mengalir inspirasi. Inspirasi yang terus akan digali oleh para penerusku nanti. Lewat itu aku bisa menularkan torehan semangatku. Semangat adalah sumbu. Layaknya lampu teplok di desaku, kala aku tak punya sumbu, maka matilah lampuku. Reduplah sekelilingku. Dan tentu gelaplah duniaku. Maka, ku ingin menyalakan sumbu itu dengan goresan tulisanku. Mengalirkan semangat kebaikan yang tersuntikkan lewat deretan huruf di ujung penaku. Aku ingin tulisanku mencerahkan banyak orang. Dan aku telah menemukan rumah untuk menuju deret mimpi mimpiku itu.
Ibarat rumah besar, Forum Lingkar Pena telah menjadi rumah besar itu bagiku. FLP begitu banyak menyediakan jendela yang dapat dibuka kapan saja dan dimana saja untuk mengetahui kran kran ilmu kepenulisan. Disanalah gerbang gerbang sukses menapak menjadi penulis menganga lebar. Kesempatan ini tidak bersifat eksklusif dan terbatas, karena FLP membuka diri untuk semua kalangan. Tua muda, kecil besar dan tidak memandang strata. Demikian aku menganggap FLP adalah karunia. Tak berlebihan pula jika seorang Maestro Sastrawan Indonesia, Taufik Ismail menyebut FLP sebagai hadiah Tuhan untuk Indonesia.
Sejak didirikan oleh Foundernya Mbak Helvi Tiana Rosa di tahun 1997, FLP berkembang menjadi rahim yang melahirkan ribuan para penulis muda. Gaungnya menginspirasi jutaan orang untuk menggerakkan penanya. FLP tumbuh dan berkembang sebagai rumah bernaung mereka yang ingin menggoreskan tinta tinta kebaikan. Selaras sejalan dengan visi besar FLP ‘menulis untuk mencerahkan’. Jalan kebaikan berjamaah ini jika dilakukan secara bersama-sama, nilai atau pengaruh dari sebuah kebaikan tersebut akan berlipat-lipat efektifitas dan efisiensinya. Adanya teman seperjuangan, seperjalanan, yang saling mengingatkan, memotivasi dan memberi inspirasi menjadi warna tersendiri, itulah selaksa rasa selama aku menjadi anggota FLP selama kurang lebih dua tahun ini.
Dan tentang belajar menulis di FP, aku yakin dan percaya bahwa Allah tak pernah ingkar akan janji-Nya. Bukankah DIA telah menjanjikan perubahan hanya akan datang kepada mereka yang yang
mau merubah diri mereka sendiri. Demikian aku memahami dengan menulis sekarang ini dan FLP menjadi komporku untuk tidak berhenti menyalakan api semangat. Empat buah kata berakhiran – at yakni SEMANGAT, KERINGAT, TEKAT dan BAKAT adalah kata kuat yang memiliki persen sendiri sendiri. Dan luar biasanya di FLP aku mendapatkan suntikan keempat empatnya.
Aku menyebut semangat adalah tali sumbu. Sumbu yang dibakar untuk menyalakan kobaran api di sebatang lilin tegak. Demikian, aku menyebut semangat belajar berjamaah di FLP begitu kuat perannya menggebukan diri untuk menulis layaknya tali sumbu lilin itu. Aku, yang dulunya adalah jamaah peserta workshop kepenulisan, yang jarang absent. Dimana ada training menulis, disitu pula aku ada. Berlari dari sana kesini, mencoba mencari setitik inspirasi dari para penulis yang tenar namanya. Namun apa yang kudapat. Ilmu tentu. Semangat? Iya tentu aku dapat. Namun lambat laun, kurasa semangat hanya sekejap , hanya bertahan maksimal sekitar 2x 24 jam pasca kakiku melangkahkan keluar dari acara itu. Selebihnya, semangat itu mulai luntur. Dan akhirnya kutersadar bahwa semangat terbesar itu akan datang dari diriku sendiri. Kapankah pena ku akan tergerak, jika semangatku dalam hati tak menyala. Jika aku sibuk mememolototi para penulis di seminar seminar kepenulisan, namun aku tak segera menulis. Ah, omong besar saja kukira. Layaknya sebaik apapun resep makanan tak bermanfaat jika aku tak mau memprosesnnya menjadi masakan. Materi itu hanya akan jadi penghias notes ku saja jika aku tak segera mengaplikasikannya. Pun segera ku bergegas, menulis apa saja. Ikut lomba menulis dimana mana. Sampai ku pada titik jenuh. Ketika taksatupun lomba kumenangi, tak satupun tulisanku diterima redaksi, dan ketika tulisanku jadi bahan tertawaan karena begitu anehnya. Hingga aku pernah ingin mengundurkan diri saja dari dunia kepenulisan. Aku resah dan gelisah. Aku seolah tak berjodoh dengan dunia tulis menulis. Aku mencari jawab. DAn lagi lagi di FLP aku menemukan jawabnya. Keeistiqomahan. Proses pembinaan berjenjang rutin di FLP telah menyadarkanku, bahwa belajar itu bertahap dan bukan serba instan. Bukannya bayi yang baru lahir, tak langsung bisa berdiri? tapi ia harus belajar terlentang, tengkurap, merangkak dulu baru bisa berdiri?. Demikian analogi yang akan mengingatkan kita bahwasanya di jejak jejak gemilang itu ada jalan panjang yang harus dilalui setapak demi setapak, sedepa semi sedepa dan sehasta demi sehasta.
FLPjuga telah membuka mataku tentang kawan kawan yang luar biasa gigihnya. Layaknya inspirasi seorang Tukang becak yang telah menulis hampir 500 karya, dan akhirnya karya ke lima ratuslah yang berhasil menghias media. Itulah Bang Joni Ariadinata. Di FLP saya menemukan sosok sosok inspiratif nan gigih itu juga. Seorang sahabat yang gigih menulis tulisannya dengan tangan, bukan dengan mesin ketik atau laptop ternyata tak kenal henti pula untuk berusaha. Tentang teman yang meminjam satu laptop dari satu teman ke teman lain bergantian, dari satu rental ke rental lain, demi dia bisa menulis. Sungguh aku malu kawan, dengan mereka yang tak pantang menyerah menera kata itu. Bahkan ketika fasilitas pun takada. Kufikir, adakah lagi alasan yang membuatku tak menulis sekarang juga dan memanfaatkan FLP sebagai karunia Allah untukku. Ah kukira memang terkadang aku pintar mencari sejuta alasan untuk tidak menulis. Hingga akhirnya,aku membuat azzam, menulislah apapun juga, sekarang juga. Dan FLP menjadi jalanku menuju kesana. Kawan kawan gigih saya seolah menjadi bara pembakar semangat saya untuk terus berkarya di jalan kebaikan. Teringat slogan Fastabiqul khoirot. Nah disinilah saya menemukan teman teman hebat untuk berlomba lomba itu.
Bahagia menjalani proses
Kedua. Ini tentang proses. Begitulah kiranya , yang ingin aku berbagi cerita luar biasanya pelajaran tentang proses yang kuterima di FLP. Kita tak sedang menabikkan hasil akhir. Kita hanya akan mencoba bicara mengecap rasa tentang indahnya proses di jalan ini. Agar tiap jejak kita akan selalu bermakna indah nanti saatnya tiba.
Menjalani proses pembinaan di FLP Berat?Bisa iya, bisa tidak. Bisa jadi di awal memang berat terasa proses itu bermula. Layaknya menarik tali timba yang penuh dengan air , uluran timba itu bisa membuat kita terkapar kelelahan. Namun perhatikan apa yang terjadi kemudian ketika air telah ditumpahkan di bejana. Kita ulurkan timba ke bawah lagi, ringan bukan? Demikianlah ketika sekarang aku di FLP. Aku tengah mengumpulkan puzzle puzzle ilmu yang terserak dimana mana. Belajar dari sang timba, kita akan belajar bersabar dalam menjalani prosesnya menaikkan dirinya sendiri keatas. Mengingati tentang kegigihan dalam berproses, kita layaknya perlu kembali memberikan empat jempol untuk Bang Joni ariadinata dengan gebu kegigihannya. Demikian para penulis lainnya. Tanyakan kepada mereka, kegigihan macam apa yang membuat mereka berhasil menjadikan tulisannnya kini punya harga. Dengarakn cerita jungkir balik mereka. Dan temukan jawabanya.
Di FLP saya terlatih menjadi orang orang yang diasah untuk memiliki kegigihan atas puluhan kegagalan. Kebanyakan orang akan jenuh dengan kegagalan yang menimpanya. Gagal lagi, gagal lagi, kilahnya. Banyak mereka yang cenderung mengakhiri actionnya karena beranggapan ia telah gagal untuk selama selamanya.Tentang hal itu, marilah sejenak membuka lembaran sejarah. Merenung sejenak, ketika memutar putaran waktu berapa abad lalu dan kita berdiri di depan seorang Ilmuwan gigih bernama Thomas A Edison. Ketika pemuda tuli ini, memutuskan untuk tetap melanjutkan penelitiannya, dia tak hirau tentang apa celoteh kanan kirinya. Ratusan project nya gagal. Idenya pun dianggap gila. Berhentikah ia? Bisa kita bayangkan jika ia memutuskan berhenti dari percobaanya yang ke 999 sekian ratus tahun lalu itu, tentu penemuan dahsyat nya tentang bola lampu mungkin tak jadi tercipta. Karena ternyata percobaanya yang Ke 1000 lah yang menghantarkan temuan revolusioner sepanjang sejarah tersebut berhasil dicoba. Hal ini akan mengingatkan kita pula pada kisah sang pemecah batu. Sang pemecah batu, ternyata harus cukup memilin kesabaran ketika pukulan pukulannya diawal tak membuat batu yang sekeras baja itu terlihat bergeming. Pukulan demi pukulan tetap juga tak bergeming. Namun, ternyata dipukulan ke 100, batu itu akhirnya bisa pecah berkeping keping. Kekuatan dari pukulan pertama itu ternyata tersayamulasi hingga pukulan ke 100, dan ternyata membuat batu akhirnya hancur lebur.
Demikian dari kisah inspirasi itu kita belajar. Bahwasanya memang kesuksesan berbanding linier dengan tingkat kegigihan dalam beproses
hingga ke titik akhir. Sehingga dalam proses itu, kegagalan bukanlah lagi sebuah ancaman yang mengerikan. Karena kegagalan adalah bagian dari berproses. Kegigihan usahalah yang akan menjadi kunci pembuka menaiki tangga sukses berikutnya. Mereka yang gigih bertahan, bisa jadi sudah tak terasa ketika satu persatu impiannya terwujud. Peluhnya terbayar lunas dengan hasil yang terkadang unpredictable. Tak disangka, tak dikira. Begitulah Maha adil Allah telah menggoreskan sunatullahnya. Sebuah ketentuan bahwa mereka yang menanam mereka pula akan menuai. Usaha manusia tahap demi tahap yang berkesinambungan dengan penuh semangat tanpa patah arang tentu takkan tersiakan. Sekian rangkaian hikmah yang saya dapatkan selama mengecap jejak di FLP. Kawan kawan seperjuangan, para mentor, senior, dan para pejuang pena kebaikan lainnya di FLP menginspirasi saya untuk memaknai pembelajaran menuju sukses ini. Mengecap ranum kesuksesan yang beroleh dari dari proses panjang nan berletih letih tentu akan sangat manis dirasa. Jalan sejati kesuksesan memang butuh itu nampaknya. Betapa banyak kita disadarkan, para pemburu kesuksesan versi shortcut ( jalan pintas-red) akan dibuat gigit jari karena masanya di puncak sukses terkadang hanya berkisar umur jagung. Ya, pendek sekali. Se pendek jangkauanya untuk merasai perjalanan menuju kesuksesan. FLP telah membuka mata saya tentang itu semua. Menjadi penulis yang gigih berproses, demikianlah kiranya aku menyimpulkan. Dan kesuksesan kelak adalah hak dari setiap mereka yang mau berusaha. Saya menuliskan 1 deret untaian kata tentang proses ini. Happy Ending is reward from a long and winding Journey.
Dari FLP saya juga kembali harus menganggukkan kepala. Mengakui bahwa menulis ternyata memang bisa dipelajari. Siapapaun dia. Gugatlah teori bahwa menjadi penulis adalah engkau harus bersimbah ilmu di fakultas sastra, di jurusan jurnalistik dan sebagainaya. Taufik Ismail, yang seorang dokter hewan, Mark Twain yang juru kemudi kapal, Bang Joni tukang becak akan membalikkan fakta itu. Jadi tak usah risau. Karena menulis diawal hanya butuh kemauan hingga akhirnya kemampuan lah yang akan datang sendiri menghampiri. Tentu bukan dengan berdiam, namun dengan selaksa kegigihan pasti. Lagi lagi FLP bagiku menjadi kompor yang selalu menjaga nyala api.
Dan sekarang aku sedang menimang diriku, mengukur sejauh apa kegigihanku. Aku tak ingin berangan menjadi seorang Habiburahman, Helvi tiana Rosa, Gola Gong, afifah afra dan penulis tenar namanya. Karena popularitas hanyalah bonus dari Allah belaka. Itu bukan tujuanku masuk di FLP. Aku ingin berproses. Berproses di jalan cinta para pejuang pena kebaikan.
Aku akan menikmati prosesnya sekarang. Aku ingin menera kata kata dengan rela dan bahagia bukan sejumput paksa. Biarlah Allah yang akan mengatur kemana kereta ku kan menuju. Aku yakin kelak aku akan sampai di penghujung sana. Aku berikhtiar untuk mempertemukan lingakran mimpi mimpiku dengan takdir Allah yang telah Allah gariskan di lauhul mahfudz. Tugasku hanya berdoa dan berusaha. Hasil akhir adalah hak prerogatif Tuhanku.
Dan aku ingin menjadikan jalan pena ini adalah jalan juang dan jihadku untuk menyampaikan agama Allah, serta mengangkat izzzah dan kemuliaan Diin-ku. Karena aku begitu meyakini bahwa mengembalikan lagi izzah umat islam, adalah sebuah amanah yang harus kita tunaikan sekarang ini dan selamanya nanti. Menjadi tanggung jawab kita sebagai umat muslim yang mengakui akan mengikuti genderang cinta ini, cintanya para pejuang, cinta untuk Al-Islam, cinta yang telah dinisbatkan kepada Sang penggengam Kehidupan. Cinta yang telah melahirkan ribuan jundi mungil Palestina dengan pekikan dan dentuman takbirnya ber`intifadhoh` melempar batu di jalan jalan, yang mengobarkan semangat mujahidin afghan ditengah teriknya padang pasir dan bom bom berdentuman ataukah para muslim Chechnya dengan gelora jihadnya.
Dan kini bersama pena aku berjihad layaknya mereka. Biar kelak jihad bil qolam ini akan menjadi saksi yang memberatkan timbangan di mizan nanti.
“Nuun. Demi Pena dan apa-apa yang mereka tuliskan”
* (Tulisan ini diikutkan dalam lomba menulis aku dan FLP yang diselenggarakan dalam rangka milad FLP PUSAT, penulis adalah divisi humas media FLP solo raya)
Meramu Gagasan Cerdas dan Kreatif dalam Pemanfatan Teknologi untuk Menumbuhkan Generasi Hi-Tech Cinta Budaya
Meramu Gagasan Cerdas dan Kreatif dalam Pemanfatan Teknologi untuk Menumbuhkan Generasi Hi-Tech Cinta Budaya
By : Erny Ratnawati
Budaya adalah kekayaan yang sungguh sangat bernilai harganya. Kebudayaan yang adiluhung adalah ruh dari Nusantara. Kearifan lokal dari Sabang sampai Merauke sungguh sangat beragam macamnya dan mempunyai corak masing masing. Hal ini sejatinya merupakan kekayaan potensial yang menjadi harta karun berharga bagi bangsa Indonesia. Maka dari itu sungguh sangat sayang apabila ditinggalkan. Akan tetapi fakta berbicara pada kenyataannya generasi muda kita kian mengalami degradasi budaya terbukti dengan banyaknya mereka yang kian hari kian acuh terhadap budaya. Oleh karena itu yang perlu kita bangun ke depan bagi bangsa ini adalah melakukan langkah langkah cerdas untuk turut serta menumbuhkan kesadaran bangsa khusunya generasi muda dalam mencintai budaya.
Salah satu usaha kreatif yang dapat dilakukan adalah dengan pemanfaatan
dunia teknologi. Penulis menggagas beberapa langkah konkret dan gagasan cerdas yang dapat diaplikasikan sebagai bentuk pemanfaatan dunia teknologi sebagai media menajamkan wawasan anak bangsa terhadap budaya sehingga kelak akan lahir dari rahim bangsa para generasi hi-tech yang mencintai budaya.
Langkah pertama adalah inventarisasi dan dokumentasi melalui portal budaya. Kementrian Budaya dan Pariwisata dapat menjadi fasilitator gagasan ini dibantu dengan kordinasi yang intensif antara pengelola situs budaya, PEMDA/PEMKOT,serta melibatkan kontribusi masyrakat untuk ikut mensukseskannya. Portal budaya dapat didesain sebagai website ensiklopedia digital dimana menyajikan berbagai rincian informasi lengkap mengenai budaya, pariwisata dan kesenian Indonesia. Materi dapat dipostkan selain dengan tulisan juga dengan audio visual, gambar, presentasi dan fitur atraktif lainnya sehingga portal ini mampu menjadi referensi dokumentasi budaya Indonesia yang memiliki performance dan substansi yang layak dan menarik untuk dikunjungi ribuan peselancar maya.
Langkah kedua adalah memasifkan sosialisasi budaya via teknologi informasi
dan komunikasi. Hal ini dapat dilakukan melalui jejaring dunia maya semisal lewat weblog,milis, Facebook, Twitter dan sejenisnya. Group, fanpage, forum, komunitas di jejaring social dapat diaromakan dengan atmosfer dan bumbu pencerdasan budaya. Pengenalan budaya melalui media publik tersebut akan memperluas objek sasaran sosialisasi. Karena akses jejaring social telah begitu dekat dan merambah kehidupan jutaan rakyat Indonesia.Hal tersebut, selain dapat berperan sebagai corong pengenalan dan booming info,dapat diintensifkan juga sebagai media menumbuhkan sense belonging (rasa memiliki) dan kebanggaan terhadap budaya sendiri.
Langkah ketiga dengan optimalisasi pengembangan fitur multimedia edukasi dan pembelajaran budaya. Piranti multimedia dengan beragam jenisnya dapat kita manfaatkan sebagai media mensosialisasikan budaya. Hal ini dapat berbentuk E-learning dalam paket software Encarta’s culture ataupun kamus elektronik budaya serta perangkat mendidik lainnya seperti pembuatan CD interaktif bertema budaya dengan varatif tema mulai dari level anak anak hingga umum sebagai stimulant bercover audio visual untuk pengenalan budaya lebih intens
Langkah keempat adalah culture innovation. Dengan melakukan inovasi yang ditunjang dengan kemajuan teknologi ICT (Internet, Computer & Telekomunikasi), tentunya dapat dijadikan sebagai asset budaya dan seni Indonesia lebih berkembang cemerlang. Seperti melakukan modifikasi game menjadi game edukasi budaya semisal permainan angklung sunda menjadi game angklung digital atau bamboo beat yang mendapat apresiasi internasional, dolanan online dan contoh produk inovasi lainnya. Dengan meluaskan jaringan atau networking melalui akses teknologi yang ada menjadi support kekuatan bagi pengembangan budaya kita
Merangkai Jejak Kaum Intelektual Muda untuk Memperkuat Basis IPTEK di Perguruan Tinggi
Merangkai Jejak Kaum Intelektual Muda untuk Memperkuat
Basis IPTEK di Perguruan Tinggi
*Erny Ratnawati
Semarak millennium ketiga telah diramaikan manusia dengan hentakan hentakan menuju babak sebuah peradaban baru. Perdaban serba canggih dengan sentuhan teknologi yang melesat pesat. Sebuah langkah maju bukti keberhasilan manusia menapak tangga kemajuan ilmu pengetahuan yang selalu dinamis di sepanjang sejarah peradaban
Seperti yang diungkapkan pengamat teknologi dunia, Chellin Cheeri, bahwa dunia tengah dilanda adanya ledakan ( explosion) besar besaran. Arus lalu lintas informasi telah berlipat ganda secara geometrik, dan berkonsekuensi dengan jumlah kontak komunikasi global yang membludak menjadi salah satu pemicu lahirnya Globall village. Globall village sendiri adalah fenomena yang merupakan konsekuensi dari era informasi global yang semakin meluas, dimana negara negara akan masuk berada dalam lingkup satu lingkar dunia, dan tapal batas antar negara telah menembus dimensi ruang dan waktu . Hal ini telah mendorong sebuah diksi bernama ‘globalisasi’ menjadi semakin muncul di permukaan.
Melihat kondisi lapangan berdasarkan berbagai tinjauan yang terjadi dalam perjalanan dunia dalam era global ini, beberapa pakar melihat bahwasanya dunia dalam kungkungan globalisasi sejatinya digerakkan oleh dua kekuatan utama yaitu teknologi dan perdagangan. Oleh karena itu, maka daya saing itu akan sangat bergantung pada (1) kemampuan kita untukmenguasai teknologi dengan basis ilmu pengetahuan yang kuat, dan (2) kemampuan kita dalam membangun kelembagaan ekonomi yang efisien.
Kedua hal tersebut secara imperatif menjadi faktor yang menentukan dalam usaha memenangkan kompetisi global. Dengan demikian, upaya untuk menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) merupakan agenda pembangunan di masa depan, yang teramat penting dan mendesak untuk mendapatkan prioritas. Dalam GBHN dinyatakan dengan tegas mengenai pentingnya peran iptek dalam pembangunan nasional. IPTEK ditempatkan sebagai salah satu asas penting dalam pembangunan.
Namun, Perkembangan IPTEK di berbagai bidang di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat semestinya diiringi dengan adanya peningkatan kualitas SDM. Sebab, kualitas sumber daya manusia merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan dan kemajuan suatu bangsa. Negara-negara Asia
seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura membuktikan kebenaran hal tersebut. Kelima negara yang disebut sebagai actor yang menandakan “Kebangkitan Ekonomi Asia” itu, telah berhasil mendorong kemajuan ekonomi mereka secara spektakuler dan mengagumkan. Tumpuan kemajuan mereka bukanlah kekayaan alam yang melimpah, melainkan pada kualitas sumber daya manusianya. Lompatan ekonomi itu digambarkan oleh Bank Dunia sebagai the East Asian Miracle -keajaiban negara-negara Asia Timur. Pertumbuhan ekonomi yang berlangsung secara amat mengesankan di negara-negara yang disebut “Macan Asia” itu, justru dikarenakan mereka berhasil dalam investasi human capital-nya.
Oleh karena itu, perhatian yang sungguh-sungguh selayaknya diberikan dengan salah satu focus perhatian penyiapan SDM untuk memuluskan agenda pembangunan IPTEK itu sendiri.
Mempersiapkan SDM Pembangun IPTEK dari Pojok Perguruan Tinggi
Socrates beranggapan bahwa dunia pendidikan khususnya perguruan tinggi terus-menerus mencetuskan permasalahan-permasalan baru yang tidak ada kunjung habisnya . Anggpan itu selayaknya dipatahkan, tidak sekedar perkataan, namun juga perbuatan. Saatnya untuk kembali menunjukkan taring taring perguruan tinggi. Salah satunya, sebagai gudang akademisi, maka pengembangan IPTEK berdaya guna menjadi ranah strategis disana untuk dapat digalakkan kembali oleh kampus dan para civitas akademika didalamnya
Mengingat bahwa pada dasarnya sebuah Perguruan Tinggi sesuai pasal 7 ayat (1) dan (2) memang dibentuk dengan fungsi membentuk SDM ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Oleh karena itu, guna menjalankan fungsi tersebut, perguruan tinggi diamanatkan untuk bertanggung jawab dalam meningkatkan kemampuan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengabdian pada masyarakat sesuai dengan kemajuan iptek. Hal tersebut tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menekankan sinergisitas kampus sebagai institut pendidik, penelitian sekaligus pengabdian kepada masyarakat.
Kebijakan nasional dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sebagaimana tertuang dalam Undang-undang No. 18 Tahun 2002, tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek telah menempatkan perguruan tinggi sebagai salah satu unsur kelembagaan iptek selain lembaga litbang, badan usaha, dan lembaga penunjang, berarti hal tersebut praktis menempatkan mahasiswa sebagai komponen utama kampus turut serta menjadi bahan bakar motor perkembangan IPTEK bangsa.
Mahasiswa Mengambil Peran dalam Kontribusi Mengembangkan IPTEK di Kampus
Mahasiswa, dalam kemafhuman bahasanya, dimana menyandang atas predikat `maha ` yang bertengger di kata depan sebelum “siswa” yang mana tentu memiliki implikasi makna tersendiri. Mahasiswa disebut sebut sebagai jenjang teratas dari siswa- (kaum terpelajar red). Stigma mahasiswa yang lekat dengan sebutan sebagai kaum intelektual muda pun sudah tak lagi menjadi sebuah diksi yang asing di telinga. Mahasiswa memang selalu dikenal dan identik dengan intelektualitas. Sehingga mahasiswa juga digadang gadang menjadi aktor perubahan. Mahasiswa dengan slogan klasiknya, agent of change dan iron stock selalu diharapkan dapat menjadi tumpuan masyrakat untuk berperan sebagai kontributor vital dalam menapak perjalanan bangsa dalam pembangunan nasional di segala bidang.
Ada tiga ciri utama yang melekat erat pada pemuda dan mahasiswa yang dapat digunakan sebagai bahan bakar penggerak pembangunan. Pemuda dan mahasiswa memiliki idealisme, semangat tinggi dan mampu berpikir bebas. Kekuatan ini selayaknya menjadi bekal yang dapat dipakai untuk melandasi buah pemikiran yang terinternalisasi dalam usaha riil terjun ke lapangan untuk mengatasi berbagai persoalan krusial bangsa.
Untuk itu, kembali dalam perannya sebagai komponen utama kampus untuk turut serta menjadi bahan bakar motor perkembangan IPTEK bangsa, mahasiswa sudah selayaknya berperan untuk mengambil bagian untuk meramaikan kehidupan kampus dalam suasana kondusif kampus dalam iklim keilmiahan dan ilmu pengetahuan. Berperan aktif dalam menyemarakkan kampus dengan aktivitas yang sekaligus menjadi sarana pengembangan diri mahasiswa ke arah perluasan wawasan, profesi, integritas kepribadian, sikap ilmiah dalam rangka untuk menumbuhkan iklim akademis menyuburkan perkembangan IPTEK di pojok pojok kampus. Pengembangan diri mahasiswa unggul dapat diwujudkan dengan berperan aktif dalam berbagai macam kegiatan antara lain pelatihan, seminar , dan berbagai kegiatan sofskill lainnya.
Selain itu, dalam tataran aplikasi mahasiswa sudah sepantasnya
pula berperan aktif dan kreatif dalam menyarikan perannya sebagai iron stock dimana mempunyai peran yang sangat besar terhadap perkembangan sebuah bangsa. Karena, melalui tangan tangan intelektual muda ini, dihasilkanlah karya-karya miniatur perkembangan kemajuan bangsa. Sebagai generasi intelektual bangsa, mahasiswa mempunyai peluang yang sangat besar untuk melakukan inovasi terutama di bidang ilmu pengetahuan, riset dan teknologi.
Mahasiswa merupakan cikal bakal harapan bangsa yang paling diharapkan untuk bisa berperan aktif dalam proses pembangunan yang berbasis keilmuan. Oleh karena adanya motivasi motivasi untuk tumbuh melakukan inovasi inovasi mahasiswa di bidang penelitian dan IPTEK sejatinya menjadi self awareness bagi personal mahasiswa tidak hanya dari rumpun science saja namun juga rumpun yang lain. Karena masing masing memiliki lahan garapan yang saling berkolerasi dan bersimbiosis.
Selain hal tersebut, hendaknya mahasiswa juga bergiat lebih intens
dalam fokus disiplin ilmu yang ditekuni dengan tetap memperhatikan permasalahan yang timbul dan kebutuhan nyata masyarakat. Dalam UUD 1945 mengamanatkan pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Perkembangan iptek yang semakin mendalam membutuhkan para peneliti peneliti yang secara kontinu mengembangkannya. Disini mahasiswa hendaknya bersiap menjadi generasi muda peneliti yang memulai untuk dapat melakukan penelitian atau riset terpadu berdasar disiplin ilmu di kampus masing masing, sehinga hasil risetnya dapat digunakan sebagai bekal untuk mengembangakan khasanah ilmu pengetahuan yang mana secara berkelanjutan akan me jadi starting point solusi strategis rekonstruksi permasalahan di masyarakat
Sekali lagi, mahasiswa sebagai generasi intelektual akan dihargai eksistensinya dengan kualitas intelektualnya pula. Bangsa ini tengah menanti solusi- solusi dan gagasan brilian dari anak bangsanya Sebagai kaum yang bercover highly educated dan dianggap memiliki daya nalar kekritisan yang tinggi tentu mahasiswa memiliki bargaining power yang cukup kuat untuk menyumbangkan pemikiran yang rekonstruktif dan solutif terhadap permasalahan seputar bangsa.
Salah satu langkahnya adalah mengambil peran untuk memajukan
IPTEK melalui media perguruan tinggi yang memang di set up sebagai gudang keilmuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dengan ini Mahasiswa akan menjadi sosok yang dapat memberikan sumbangsih masyrakat kelak baik dari segi pemikiran maupun actionnya. Sehingga niscaya peran mahasiswa akan menjadi lebih nyata dan bermakna.
Menera Kembali Makna Belajar Mahasiswa dalam Perannya sebagai Kawah Candradimuka Menuju Real Success
Penghargaan tertinggi untuk sebuah kerja keras menuju sukses seseorang bukanlah sekedar apa yang ia hasilkan, tetapi bagaimana ia melesat dan berkembang karenanya (John Ruskin)
By : Erny Ratnawati
Ibarat sebuah rumah besar, kampus sebagai rumah bernaung mahasiswa,
begitu banyak menyediakan jendela yang dapat dibuka mahasiswa kapan saja dan dimana saja. Disanalah gerbang gerbang sukses menganga lebar. Kesempatan yang terkadang bersifat eksklusif dan terbatas, karena hanya diperuntukkan untuk mereka yang menyandangstatus mahasiswa saja. Kampus menyajikan beragam sediaan kebutuhan mahasiswa. Selain mendapat asupan ilmu setiap hari, peluang berkarir berbekal pengakuan sarjana berwujud lembaran ijazah berstrata sarjana menjadikan lulusan kampus memiliki daya tawar yang lebih tinggi, meskipun hal tersebut diakui tidak bersifat mutlak. Namun, setidaknya dengan title tersebut, dunia lebih serasa menghargai mereka. Adanya Career Development Center di Perguruan Tinggi juga sedikit banyak ikut berkontribusi membantu para alumni kampus untuk mengakses lowongan lapangan pekerjaan. Demikian juga koneksi horizontal kampus, dengan kata lain jaringan dan networking juga termasuk salah satu fasilitas kampus kepada mahasiswa untuk membantu memuluskan langkah cita citanya. Di ranah internal, kampus memfasilitasi mahasiswa dengan pemenuhan kebutuhan mahasiswa dengan menyediakan pilihan pengembangan softskill organisasi berwujud unit Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Beragam pilihan bidang yang menjadi passion dari tiap tiap UKM tersebut, mulai dari yang berkecimpung di ranah seni hingga lembaga mahasiswa yang bernafaskan religi.
Menilik paparan tersebut diatas, penulis berpendapat bahwa secara timbangan
ideal,dengan begitu banyak input yang diberikan, kampus benar benar menjadi lahan subur memupuk para mahasiswanya menjadi pribadi paripurna setelah keluar pasca kampusnya. Oleh karena itu, menjalani masa mahasiswa dalam waktu yang relative singkat dengan beragam fasilitas yang diberikan, tentu sungguh disayangkan ketika hanya berbuah pada kesia siaan belaka. Bagaimana tidak? sia sia karena uang melayang puluhan juta, sedangkan disisi lain, secara pengetahuan belum mampu menujukkan kematangan, sedangkan secara praktik masih banyak yang perlu dipertanyakan, skill masih belum cukup terasah, pengalaman minim, dan mental mudah mlempem . Bagaimana ingin menapak sukses?
Namun, ironinya, hal demikian banyak terjadi dengan mahasiswa. Syndrom kekagetan menyeruak paska gelar mahasiswa itu dicabut dan berganti dengan lulusan Perguruan Tinggi. Kerasnya dunia kerja yang belum banyak dijamah tangan tangan mahasiswa semasa kuliah tersebut telah menghadirkan histeria histeria tersendiri. Profil mahasiwa kagetan ini juga banyak dijumpai terutama bagi mereka yang belum pernah mencoba keluar melihat di luar atap kampus. Dunia yang tak lagi berhiaskan serak sorai geguyonan, dan aktivitas hura hura. Bukan lagi pula, berkawan tidur dengan tumpukan buku dan diktat bertebal ratusan halaman atau segudang idealisme dalam bentangan spanduk spanduk panjang. Seiring dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, mau tidak mau menuntut adanya keseimbangan resources material yang ada dengan kualitas sumber daya manusianya. Proses mengejar keseimbangan ini tentu mensyaratkan bahwa personal di dunia kerja setidaknya harus terakreditasi dengan layak. Sekedar mengandalkan nilai saja, terbukti tidaklah cukup. Harus diimbangi dengan penguasaan dan ketrampilan lain yang mumpuni, hingga dapat membantu terbentuknya pribadi pribadi yang professional dan kompeten, sebagai supporting personal power dalam peta kesuksesan kehidupan dan karir seseorang.
Sarjana selalu SUKSES?
Sejatinya kesuksesan bukanlah suatu kewajiban yang tersurat dalam gelar sarjana. Tidak adasatupun aturan yang bertitah demikian. Namun, bagaimanapun juga kita tak mau memangkiri bahwa minsdset public telah terlanjur terset-up bahwa gelar sarjana selalu menjadi jalan lebar bagi penyandangnya ke rumah kesuksesan. Dengan predikat sarjana yang tersematkan, status sosial seorang di masyarakat menjadi terangkat ke posisi yang lebih tinggi. Kultur masyrakat kita juga masih memposisikan predikat ini menjadi sekian dari golongan kaum terpandang distratanya.
Namun sayangnya, kita seolah tertampar dengan statement sentilan seorang
filosof Yunani Socrates ketika dengan lugas menyatakan bahwa sekolah- termasuk dalam hal ini didalamnya sekolah adalah bangku kuliah, hanya menjadi sekian dari sumber lahirnya masalah masalah. Ironisnya, statement tersebut semakin dimfhumi banyak orang, terlebih karena tak sedikit lontaran Socrates tersembul dipermukaan kenyataan sedikit demi sedikit. Di lapangan kita sering tak bisa mengelak melihat fenomena memprihatinkan ini. Seiring ribuan wisudawan yang melangkahkan kaki keluar dari aula Unversitas mereka saat diwisuda tiap tahunnya itu seiring pula bayang deretan calon calon pengangguran intelektual menjadi ancaman didepan mata. Ribuan jajar ijazah berstempel bahkan dari Universitas ternama, takselalu cukup menggemingkan dunia kerja yang begitu pekik dan hiruk pikuk. Ledakan populasi dunia yang mencapai ambang angka 7 milyar tak dinyana terasa begitu sesak, seperti itu pula laiknya yang dirasakan para fresh graduated atau bahkan old graduated yang turut berdesakan bersaing bergulat mencari lahan sesuap nasi. Lebih memprihatinkan, ketika realita terungkap bahwa pengangguran dari lingkaran sarjana terdidik ternyata mencatut jumlah yang mencengangkan. Kita jua tak mampu menutup mata dengan fakta yang berbicara bahwa angka pengangguran tinggi telah melahirkan beragam problema sosial. Dan yang lebih ironis, ketika kita menyadari bahwa lulusan perguruan tinggi yang diamanatkan sebagai agent pembaharu dalam masyarakat, ternyata turut menyumbang sebagian jumlah tersebut disana.
Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Hal tersebut diantaranya ditengarai karena adanya banyak ketimpangan. Salah satunya adalah begitu banyak mahasiswa tak bisa “purna belajar” meski purna kuliah mereka. Mereka dianggap gagal untuk menyelesaikan proses belajar di perguruan Tinggi. Bukan karena Indeks prestasi yang tak mencapai batas normal ataupun masa studi yang terlampau lama. Tapi karena gagal menerjemahkan proses belajar yang sesungguhnya. Dalam teori Experiental learning, belajar dimanapun berada sejatinya adalah kegiatan yang terformulasi untuk meningatkan lima hal, yakni Knowledge, Skill, Technique, Attitude, Experience (KSTAE) (Pengetahuan, Keterampilan, Teknik, Sikap dan Pengalaman). Belajar dalam arti yang sesungguhnya seperti yang dituturkan oleh Raka Joni bahwa belajar berarti mengubah pengetahuan dan pemahaman secara terus menerus yang dilakukan siswa melalui proses pemberian makna terhadap pengalamannya.
Dapat disimpulkan bahwa belajar itu pada hakekatnya merupakan suatu proses yang bermakna, dimana siswa dapat secara langsung mengembangkan pengetahuannaya Menurut D.A Benton yang telah mensurvei para CEO (Chief Executives Officers) dari berbagai bidang industri, belajar merupakan salah satu kebiasaan penting para CEO sukses. Pemimpin perusahaan yang efektif senantiasa mengembangkan diri dengan belajar, karena mereka banyak mendapatkan manfaat dari kebiasaan sukses ini. Survei yang dilakukan terhadap orang-orang yang sudah mencapai posisi puncak membuktikan bahwa mereka juga memiliki kebiasaan ”belajar”. Pertanyaan selanjutnya: Bagaimana mereka bisa memiliki waktu belajar di tengah kesibukan mereka? Ternyata mereka bisa belajar kapan saja, dimana saja, dan dari siapa saja.
Pemaknaan proses belajar yang unik ini selayaknya kemudian menjadi inspirasi para pemburu kesuksesan. Bahwa ”belajar” tak cukup dengan selalu bergelut tumpukan buku. Belajar tak cukup hanya menghafal materi sebelum ujian atau kepuasan ketika mendapat nilai A di setiap quiz yang diberikan dosen. Lebih dari itu. Seperti telah tertera dalam Exprimental Learning , konsep Knowledge, Skill, Technique, Attitude, Experience (KSTAE) harus selayaknya menjadi target pembelajaran setiap personal mahasiswa yang menyadari akan kebutuhan atas kesuksesan yang ingin diperoleh kelak paska kuliah.
Meski tidak terinclude dalam kurikulum formal kuliah, sudah selayakna masing masing mahasiswa mampu menginternalisasikan dengan pemikiran dan perbuatannya di masa belajarnya. Dengan meneladani sikap ini, diharapkan mahasiswa juga benar benar tersiapkan menjadi orang sukses bahkan semenjak sebelum lulus kuliah.
Success is Truly Our Right
Belajar dari kawah keramat di dunia pewayangan- Kawah Candaradimuka, kita belajat tentang makna sebuah proses penggodokan.. Kawah candradimuka telah bersejarah menggodok seorang tokoh kondang di belantara pewayangan, Gatotkaca menjadi sosok ksatriya kekar urat kawat tulang besi. Tentu bukan serta merta ia keluar dari bibir kawah dengan sekejap mata. Gatotkaca membutuhkan ratusan warsa untuk menerima ilmu ilmu kanuragan, hingga kemudian proses dalam kawah itu membuatnya gagah perkasa. Sang kepompong juga harus rela berproses menjadi ulat yang menjijikkan sebelum bermetamorfosa menjadi kupu kupu cantik. Begitu juga tiram, benda asing yang masuk ke cangkangnya, telah membuatnya begitu menderita. Namun tiram begitu sabar, mendekami cangkangnya sekian lama dan kemudian ia telah membalutnya menjadi suatu perhiasan yang ditaksir harganya mampu menembus angka ratusan juta. Mutiara.
Sedemikian sempurna Tuhan telah mengajarkan kepada manusia dengan
sentuhan kreasi ciptaanNya di alam semesta. Seolah memberikan pelajaran kepada kita bahwa produk produk brilian tidak lahir dari sekedar proses yang instan. Kesuksesan bukanlah hasil yang diperoleh tanpa kerjakeras dan pengorbanan, Mencari hasil tanpa aksi seperti mencari lubang jarum di tumpukan jerami. Sejatinya hukum alam akan berlaku sepanjang masa, bahwa takkkan ada reaksi tanpa ada aksi. Begitupula hal tersebut yang menjadi inspirasi pengetahuan seorang ilmuwan Albert Einsten ketika menemukan teori termasyhur sepanjang sejarah peradaban manusia. Teori relativitas. Bahwa Energi senantiasa akan selalu berbanding lurus dengan massa. Hasil akhir sejatinya akan senantiasa berbanding seiring dengan ikhtiar dan usaha.
Memahami sukses bagi mahasiwa, adalah sejatinya menanamkan motivasi pada diri bahwa sukses adalah formula yang diramu dari doa, keyakinan dan ikhtiar yang pasti, kesabaran diri dan kesungguhan langkah tak kenal henti. Untuk itu, sangat penting untuk menggugah kembali semangat mahasiswa untuk mampu memaknai masa kuliahnya sebagai kawah candradimuka untuk belajar menuju puncak sukses. Meminjam prinsip Kaizen-prinsip brilian masyarakat Jepang untuk memburu kesuksean yakni tentang belajar perbaikan dan peningkatan kecil, meski tampak tak berarti, namun berkesinambungan tanpa henti. Terakhir, sebagai penutup, penulis mencoba menilik kembali sekelumit paparan diawal, tentang beragam fasilitas yang sejatinya dapat dioptimalkan oleh mahasiswa di rumah belajarnya, yakni kampus, untuk mememuluskan jalan citanya. Sejatinya hal tersebut sekaligus telah mengajak kita untuk kembali melihat jalan mengambil peluang peluang sukses itu. Peluang mereguk emas telah tersedia, tinggal langkah siapa yang paling sigap dan tegap untuk menyambutnya. Everyone has a right to success! I, You and All of Us…..
Jihad ala Netter Intelektual Muda Muslim di Dunia Digital
Jihad ala Netter Intelektual Muda Muslim di Dunia Digital
* By Erny Ratnawati
Semarak millennium ketiga telah diramaikan manusia dengan hentakan hentakan menuju babak sebuah peradaban baru. Sebuah langkah maju bukti keberhasilan manusia menapak tangga kemajuan ilmu pengetahuan yang selalu dinamis di sepanjang sejarah peradaban. Salah satu yang terlihat kentara dan kasat mata adalah perkembangan pesat dunia teknologi informasi. Merunut data yang dilansir oleh majalah info computer, dicatat bahwa pertumbuhan dunia teknologi informasi berkisar sekitar 18,75 persen pertahun. Prosentasi yang mengejutkan mengingat bahwa dunia ini tergolong pendatang baru di beberapa dekade terakhir.
Dunia tersebut kian hari kian melesat berkembang seiring hausnya manusia akan asupan informasi disetiap waktu. Supporting tool teknologi informasi mengalami perkembangan mengiringi semakin dibutuhkannya media untuk mempermudah akses transfer informasi yang seolah bak aliran darah di tubuh manusia. Telepon genggam yang pada awalnya hanya digunakan untuk mengirim seraya menerima pesan, kini telah berkembang kian canggih. Di era ini, ponsel tak sekedar menjadi alat komunikasi. Handphone makin memanjakan penggunanya dengan aneka fitur dan media informasi dan komunikasi . Facebook dan Twitter sebagai media sosial juga telah diaplikasikan ke dalam telepon genggam. Selain itu kecanggihan gadget dunia informatika juga merasuk ke bilik bilik rumah tangga. Amazon Instant Video, Netflix serta Vudu sebagai televisi Internet dengan kecepatan koneksi Internet dengan teknologi Wi-MAX atau Long Term Evolution yang begitu membludak diminati publik seperti menambah sederet opini bahwa kian lama masyarakat kita kian terikat sebagai komunitas digital dimana media komunikasi dan informasi bak menjadi santapan tiap hari bahkan di tiap detiknya.
Perkawinan teknologi transmisi mutakhir dengan computer telah melahirkan new age di perjalanan peradaban manusia. Dunia informasi digital bak piranti layar sentuh ini membuat sedemikian mudah manusia dapat tersambung dengan mitranya di seluruh belahan dunia dengan sekali klik saja. Dunia teknologi informasi ini menawarkan segala kemudahan, tanpa tersulitkan dengan kendala jarak dan waktu.
Lingkaran Hitam Putih bagi Muslim di Era Informatika
Informasi menjadi kebutuhan di setiap jengkal manusia berada. Era informatika telah melingkupi seluruh belahan dunia. Salah satunya wahana informan raksasa sekarang adalah media internet. Media ini yang tengah menjadi teman familiar bagi manusia seantero dunia. Ketergantungan manusia dengan kemunculan produk ini memang mendarah daging. Internet telah dianggap menjadi sekian dari key password aktivitas manusia. Jaringan dunia maya seolah menjadi dunia kedua yang belum bisa terpisahkan dari kehidupan manusia. Begitupula dengan kaum muslimin. Sebagai salah satu komponen penduduk dunia, kaum muslimin mau tak mau juga akan terkena dampak dari melejitnya era informatika yang mendunia.
Meninjau dampaknya dari segi putih dan hitam bagi kaum muslim, keduannya tentulah pasti ada. Mencoba untuk mengurai benang putih kemanfaatan yang dapat diambil dari melesatnya media informasi dan komunikasi ini bagi kaum muslimin,yakni media ini dapat dimanfaatkan untuk mempermudah kaum muslim menyerap informasi dan memperoleh akses komunikasi di dunia yang luas. Namun disisi yang lain, dunia teknologi informasi ini juga menjadi tantangan dan ancaman yang cukup diperhitungkan bagi kaum muslimin. Dunia ‘klik ‘ ini terkadang menjadimedanyang sulit dan ujian yang tajam bagi kaum muslimin sekaligus juga berpotensi menjebak kaum muslim untuk terpeleset ke jalan yang tidak dibenarkan
Seperti yang diungkapkan pengamat dunia informasi, Chellin Cheeri, bahwa
perkembangan teknologi komunikasi yang cepat telah mengakibatkan adanya ledakan ( explosion) besar besaran. Arus lalu lintas informasi telah berlipat ganda secara geometrik, dan berkonsekuensi dengan jumlah kontak komunikasi global yang membludak menjadi salah satu pemicu lahirnya Globall village. Globall village sendiri adalah fenomena yang merupakan konsekuensi dari era informasi global yang semakin meluas, dimana negara negara akan masuk berada dalam lingkup satu lingkar dunia, dan tapal batas antar negara telah menembus dimensi ruang dan waktu sehingga tak ayal dikatakan bahwa sekat antar negara menjadi kabur.
Hal tersebut berdampak dengan ancaman adanya penetrasi budaya secara besar besaran. Ekspansi budaya, pemikiran, lifestyle dan produk pemikiran impor dari Barat yang sarat nuansa hedonisme, feodal dan liberal taksadar telah merasuk ke fitur fitur hiburan di layar layar kaca dan media digital kaum muslim. Selain itu pergeseran norma dan budaya yang berkembang. Standar etika dan norma sudah tak cukup diperhitungkan dalam ukuran untuk menakar pertimbangan sebuah tindakan. Belum lagi tentang sebaran virus model gayahidup yang ditawarkan yang mengkiblatkan diri pada life style kebarat baratan. Legalisasi hal hal terlarang juga begitu diumbar sembarangan di pojok pojok situs hitam yang bertebaran. Kondisi tersebut telah berpengaruh terhadap kontrol moral yang kian menipis. Dunia di balik bilik ini memang dunia tak kasat mata dan tersembunyi, namun sejatinya memiliki efek ledak yang bahkan jauh lebih menyeramkan daripada di dunia nyata.
Jihad ala Netter Intelektual Muda Muslim di Dunia Digital
Mahasiswa selalu identik dengan intelektualitas. Kemafhuman atas predikat “maha” yang bertengger di kata depan sebelum “siswa” tentu membuat stigma mahasiswa sebagai kaum intelektual, tak lagi menjadi diksi yang asing di telinga. Mahasiswa juga digadang gadang menjadi aktor perubahan. Mahasiswa dengan slogan klasiknya, agent of change dan iron stock menjadi tumpuan masyrakat untuk mampu berperan sebagai kontributor vital dalam menapak perjalanan bangsa.
Tidak sekedar huruf berjajajar, slogan slogan diatas ternyata telah mampu dibuktikan karya nyatanya oleh mahasiswa muslim. Merunut kembali layar sejarah, Mahasiswa muslim ternyata menjadi salah satu komponen inisiator perkembangan media teknologi informasi di Indonesia. Di awal perkembanganya, kemunculan Isnet (the Islamic Network), milis yang dibuat mahasiswa Muslim Indonesia yang berkuliah di Amerika Serikat, menjadi salah satu pioneer dialog agama di dunia maya. Adanya langkah inovatif mahasiswa ini, tentu akan lebih menguatkan sebuah stigma, bahwa sejak puluhan tahun lalu pun, meski tetaplah sosok mahasiswa dengan segudang pemikiran dan idealismennya, namun mereka mampu menginisiasi awal sebuah perkembangan dunia dibalik ‘jendela’, dunia global dan maha luas, yang masih begitu asing di telinga rakyat Indonesia kala itu. Mahasiswa muslim mampu membuka mata publik bahwa mereka bisa selangkah lebih maju
Oleh karena itu, dalam menanggapi adanya efek dari lingkaran hitam dan putih bagi umat muslim di era digital yang tersebut diatas, mahasiswa muslim selaku salah satu golongan dengan prosentasi besar, yakni masuk dalam kategori muda dan remaja dimana menempati sekitar 65% dari total sekian juta user wahana teknologi informasi, diharapkan di malang melintang dunia digital ini dengan berbagai cerita dan fenomenanya, mereka dapat mengambil langkah cerdas dan bijak dalam merumuskan strategi untuk mampu mengambil sari atas mutiara kebaikan –kebaikannya sekaligus menjadi pagar betis dari garis garis hitamnya. Kaum intelektual muslim muda ini, telah ditunggu tunggu untuk menjadi persemaian harapan bagi umat muslim. Mahasiswa muslim diharapkan mampu menjadi garda terdepan untuk mampu memanfaatkan peluang kebaikan di era digital ini.
Salah satu strategi ala mahasiswa muslim yang dapat dilakukan adalah melalui Jihad versi digital. Jihad bukan berarti selalu identik dengan peperangan. Dalam Islam, seperti yang ditulis oleh KH Ali Yafie (1999), jihad bisa dikategorikan menjadi empat macam, yaitu jihad al-harb (jihad ke medan perang), jihad al-nafs (jihad melawan hawa nafsu), jihad al-usrah (jihad dalam keluarga), dan jihad al-mujtama’ (jihad dalam masyarakat). Dalam pemaknaan yang lebih implisit jihad adalah adalah bentuk dari sebuah konsekuensi keimanan atau religiositas.
Dalam kaitannya dengan mengais peluang kebaikan di dunia kabel kabel informasi, penulis berpendapat bahwa setidaknya ada dua macam jihad yang hendaknya para mahasiswa muslim lakukan. Yakni aksi bagian dari Jihad untuk masyarakat atau khalayak luas yang termaktub dalam kategori jihad al-mujtama’ dan aksi upaya pertahanan diri para netter (sebutan untuk para peselancar dunia maya) muslim untuk mengendalikan hawa nafsunya menghadapi terjangan godaan di dunia ketika berselancar maya yang termasuk dalam jihad al-nafs
Dalam upaya jihad al-mujtama’ untuk men’sholihkan’ masyarakat, seorang mahasiswa muslim sepantasnya mengoptimalkan aksi dakwah di sisi kebaikan untuk menjadi salah satu peluang. Karena lewat dakwahlah, pesan ajaran Islam mampu tersampaikan kepada objeknya. Adanya kemudahan dan fleksibilitas dari dunia teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam penyebaran dakwah islamiyah Dakwah di dunia digital melalui media internet dan jejaring komunikasi yang lainnya untuk menyebarkan kebenaran ajaran Islam keseluruh penjuru dunia, dianggap sebagai sebuah inovasi yang menguntungkan bagi perkembangan syiar islam. Seperti yang kita tahu bahwa era kemajuan infomasi telah menciptakan ribuan server yang dapat membreakdown informasi dalam tempo edar yang kian pendek dan cakupan yang luas. Hal ini dapat menjadi kans besar bagi dakwah islam, untuk lebih berkembang tidak sekedar berkutat di alam konvensional namun juga merasuk ke dunia yang lebih lebar lagi hingga syi’ar dakwah akan dapat tersasar pada objek yang lebih besar dengan cakupan area dakwah yang semakin mendunia. Dengan karunia berupa kekuatan, kreasi serta ide ide yang masih segar, tentu akan muncul banyak inisiasi kreatif yang bisa dimunculkan oleh netter mahasiswa muslim untuk mampu menggemilangkan peluang emas ini
Bertebarannya situs muslim dan berbagai macam bentuk media muslim yang menyajikan menu informasi berbasis keislaman yang positif baik kepada internal umat Islam sendiri maupun kalangan diluar islam menjadi suatu action yang seharusnya senantiasa diupayakan kaum muslim untuk tetap bisa eksis dan bertumbuhkembang setiap saat. Mahasiswa muslim dengan berbekal daya nalar tinggi dan intelektualitasnya bisa mengambil peluang untuk berperan aktif disana.
Keberhasilan salah satu situs Islam di sebuah tempat di luar negeri yang mampu mengislamkan ratusan para jamaah mayanya dari berbagai bangsa serta fenomena Moslem Booming di AS paska Black Tuesday 11 september yang menjadi efek dari semakin gencarnya muslim menyuarakan kebenaran di ranah media informasi menjadi salah satu bukti bahwa keberadaan media kaum muslim yang mendunia di era ini memang selayaknya dibutuhkan. Sediaan informasi yang bersumber dari pusat yang shohih ini akan mampu menjadi corong umat Islam untuk berbicara dari satu personal computer ke personel computer lainnya yang terhubung di seantero dunia. Kabel kabel informasi ini dapat mengalirkan pesan pesan kebaikan Islam secara utuh dan menyeluruh, bukan sekedar spekulasi atau syak (prasangka) belaka yang kerap menghinggapi kalangan di luar umat muslim.
Selain dakwah via digital tersebut, Netter muslim selayaknya juga sigap menangkis banyaknya flood information ( banjir informasi) yang menyerbu masyarakat, karena aroma provokasi memecah belah umat kerap kali berhembus di dunia maya dan dimana hal tersebut juga sering menimbulkan perselisihan. Mahasiswa muslim hendaknya tidak mudah terpengaruh dengan setiap informasi yang datang, sepantasnya mereka juga turut menjadi corong bagi umat untuk menyebarkan informasi yang benar dan melakukan tabayayyun serta checking pada informasi yang datang dan tersebar di wahana komunikasi dan informasi. Setiap informasi memang sudah seharusnya untuk diteliti asal muasal dan kebenaranyya.
Hal tersebut mengingat bahwa kaum muslim sekarang tengah dihantui media raksasa dunia yang dikuasai negara sekutu Barat yang bergentayangan dengan opini kebathilan. Dan yang sekarang dapat kita baca adalah upaya Barat untuk lebih jauh menguasai kabel kabel informasi dunia. Dunia informasi digital dan media menjadi lahan empuk yang dimanfaatkan Barat untuk menodai citra Islam dan menjatuhkannya lewat edaran informasi yang penuh intrik dan kedustaan. Untuk itu media Islam sangat diperlukan sebagai counter atau perlawanan terhadap opini bernuansa bathil yang dilancarkan. Hal ini juga menjadi salah satu upaya untuk mengangkat harga diri kaum muslimin.
Sedangkan yang terkait dengan jihad al nafs, penulis memaparkan beberapa gagasan dan pandangan yang sekiranya mampu untuk di kejawentahkan dalam nilai nilai moral di tataran aplikasi secara personal.
Pertama adalah memegang kendali niat. Mahasiswa Netter muslim seharusnya mengendalikan niat pada posisi utama. Sebagaimana para ulama mengatakan bahwa niatan adalah poros perbuatan. Memancang niat di awal, untuk beramal sholih dan meraih serta menebar kebaikan sebanyak banyaknya lewat media ini harus menjadi prioritas pertama sebelum niat yang lainnya. Apabila niatan kebaikan di awal sudah terlupakan, maka yang banyak terjadi adalah keterlenaan. Dunia maya begitu menggoda, hingga bahkan manusia tidak tersadar telah terperdaya. Oleh karena itu, hendaknya setiap diri harus menanamkan ini pada masing masing pribadi sebagai komitmen personal. Mahasiswa muslim sepantasnya untuk menepis niatan yang tidak sesuai atau justru menyimpang dari koridor syariat.
Hal kedua adalah mengatur batas waktu. Tanpa adanya komitmen untuk membatasi waktu sejak awal, waktu para netter akan mudah terbuang pada hal yang bersifat ghulluw ( kesia siaan ) dan ifrath (berlebihan) ketika berselancar di dunia maya. Aktivitas nongkrong di internet berlama lama hanya untuk sekedar ber facebook atau twitter ria atau aktivitas game online chatting, koprol, dan sebagainya secara berlebihan akan menurunkan daya produktivitas dan keterjagaan terhadap waktu waktu ibadah. Waktu hanya akan terbuang sia sia tanpa ada hasil produktif yang nyata dan progress ibadah yang gradual. Maka, dari itu Netter harus mampu cerdas mengatur interaksinya dengan dunia ini di batas kewajaran dan kebutuhan secara rasional dan mengendalikan hasratnya untuk berlama lama melanglang wahana online
Ketiga, Netter muslim sudah seharusnya tetap menjaga akhlak dan rasa malu ketika berselancar di dunia maya. Sebagaimana umat islam mengenal konsep ihsan sebagai salah satu pilar setelah islam dan iman, maka sudah seharusnya nilai nilai ihsan harus masing ditanamakan sebagai akhlak masing masing personal. Merasa bahwa betapa luasnya dunia yang dikunjungi dan apapun bentuk yang dilihat pasti takkan luput dari pengawasan Allah azza wa jalla. Sehingga hal ini menjadi filter di garda terdepan pertahanan untuk menghadapi dunia yang begitu luas ini. Bagaimanapun juga self controlling adalah kontrol paling efektif untuk memagari diri sekaligus sebagai imunitas jiwa dari hal-hal yang tidak benar sehingga hal yang tidak baik yang diperoleh tidak akan berpengaruh atau bahkan merubah akhlak dan kepribadian.
Pada akhirnya sebagai penutup, penulis menyimpulkan bahwa bagaimanapaun juga, tak bisa disangkal lagi, mahasiswa muslim mewakili komponen kaum muslim pada umumnya memang sudah selayaknya bersegera untuk dapat mengoptimalkan kemajuan media teknologi informasi dunia demi kebaikan dan kepentingan diinul haqq ini. Mengutup pernyataan Prof. Dr. Ichlasul Amal, Komite Dewan Pers Nasional bahwa segenap kaum muslim sejatinya memiliki kewajiban bersama untuk dapat mendukung perkembangan media informasi yang membawa misi keislaman. Dengan melakukan hal tersebut, setidaknya kita telah selangkah lebih maju berkontribusi menghadapi gempuran perang pemikiran yang mengancam umat.
Wawwlahu’alam bisshowab
Mbolang Ilmu Sampai ke Malang
Alhamdulilah, 16-20 agustus lalu , saya berkesempatan untuk ikut menimba ilmu bersama teman teman Ikatan Lembaga Penalaran dan Penelitian Mahasiswa Indonesia (ILP2MI) di Universitas Muhammadiyah Malang 
Hari pertama 16 Agustus 2011, dilaksanakan opening ceremony yang mana dibuka langsung oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Malang bertempat di Aula AUB kampus UMM. Acara pembukaan dilanjutkan dengan pelaksanaan Seminar Nasional dengan tema Pengenalan Technopreneur sebagai upaya pembentukan karakter bangsa berbasis kearifan local , menghadirkan dua orang pembicara yakni Arman Hakim Nasution (Praktisi Technopreneur Nasional ) dan Ahmad Rizal Jamhari (Country Manager for Indonesia from ASEANpreneure). Seminar Nasional berlangsung dua sessi. Sessi pertama tentang seluk beluk technopreneur sebagai upaya mendongkrak kemajuan bangsa dan sessi kedua tentang peran strategis mahasiswa dalam upaya mengembangkan riset berbasis technopreneur. Acara Seminar Nasional berlangsung hingga pukul 13.00 WIB
pukul 15.00 WIB, acara dilanjutkan dengan sholat ashar dan kemudian peserta kembali ke Aula UMM untuk mengikuti Up-Grading Organisasi; guna mengupgrade kemampuan peserta tentang managerial keorganisasian dan leadership serta teamwork building.
Hari kedua yaitu Rabu, 17 Agustus 2011, bertepatan dengan HUT kemerdekaan Republik Indonesia, para delegasi ILP2MI mengikuti upacara hari kemerdekaan di lapangan utama Universitas Muhammadiyah Malang beserta stakeholder Universitas. Seusai mengikuti upacara, para peserta kembali ke hall aula utama penyelenggaran Rakernas. Pembukaan rapat kerja dimulai pukul 09.30 WIB dengan memulai persidangan untuk menentukan manual acara dan pembahasan tata tertib. Selanjutnya dilaksankan pembagian sidang komisi per departemen. Di dalam sidang komisi ini, masing masing departemen mematangkan kembali rumusan program kerja yang akan dibawa di forum besar Rakernas. Sidang komisi berakhir pukul 15.00 WIB. Selanjutnya, pukul 16.00 WIB, sidang pleno yang diagendakan digelar seusai sidang komisi untuk sementara dipending karena para delegasi menghadiri undangan pertemuan dengan jajaran Birokrat serta fungsionaris lembaga intra UMM di aula AR. Fachrudin.
Rabu 17 Agustus 2011, pukul 20.30 selepas tarawih, agenda dilanjutkan kembali dengan menggelar sidang pleno dari departemen pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Sidang pleno pertama digelar oleh departemen pengabdian masyarakat. Agenda sidang dilanjutkan kembali esok harinya, Kamis, 18 Agustus 2011 dimulai pukul 08.00 WIB. Sidang Pleno ditutup pada hari Kamis 18 Agustus 2011, pukul 15.00 WIB dilanjutkan dengan penetapan dan pengesahan program kerja. Pleno yang berlangsung selama dua hari berhasil menghasilkan berbagai macam program kerja yang disepakati bersama diantaranya penelitian berskala nasional dengan model bonding research, International Seminar and Call for Paper, Pengabdian Masyarakat, Penerrbitan Jurnal Ilmiah Mahasiswa Nasional, Buku ILP2MI, Website dan beberapa program kerja lainnya. Setelah agenda sidang pleno ditutup, agenda kembali dilanjutkan dengan sosialisasi Kongres ke III ILP2MI di UNTAN Pontianak Kalimantan Timur tahun 2012 oleh perwakilan dari Universitas Tanjungpura. Acara berlanjut dengan sharing dan rapat fungsionaris Pengurus Besar (PB) ILP2MI 2011/2012 serta pelaporan dari para kordinator regional dari lima daerah regional se Indonesia. Delegasi dari Universitas Sebelas Maret Surakarta sendiri dipercaya sebagai salah satu pengurus yang menggawangi Departemen Pendidikan ILP2MI periode 2011/2012.
Rapat kerja Nasional ditutup secara resmi pada Kamis malam pukul 20.00 bertempat di hall utama rakernas. Penutupan dilakukan oleh Pembantu Rektor III UMM, yang diwakili Pembina bidang penalaran UMM dan fungsionaris lembaga Forum Diskusi Ilmiah (FDI) Universitas Muhammadiyah Malang. Acara penutupan ini berakhir hingga pukul 22.00 WIB.
Acara selanjutnya pun ditutup dengan Fieldtrip di Jatim park. ada pengalaman serunya. waktu itu kan pas bulan puasa, perut kita dikocok kocok karena naik permainan tornado dan kawan kawan. he heee.
yang lucunya lagi. tempat wisatany bener sepi ya i yalah puasa gitu…cuma ada rombongan kit doank h ehee . sehabis dari jatim park, kita meluncur pulang sendiri sendiri ke kampung halaman masing masing
Istimewanya Shadaqah
Istimewanya Shadaqah
*Erny Ratnawati
Di dalam Al- Qur;an kata shadaqah setidaknya diulang sebanyak 43 kali dengan beberapa istilah berbeda yang menunjukkan makna serupa. Hal ini dapat diartikan bahwa perintah shadaqah bukanlah sekedar perintah beramal biasa. Bahkan, Allah menaruh perhatian yang besar pada perintah ini dalam kitab sucinya dengan berbagai macam penekanan. Mulai dari perintah bershadaqah (QS At-Taubah{9}:60), janji Allah (QS Al-Baqoroh{2}:274), hingga orang orang yang berhak menerima shadaqah (QS Al-Baqoroh{2}:215). Hal tersebut diatas menunjukkan bahwa shadaqah menempati posisi yang utama dan istimewa.
Disamping itu, Allah juga menggambarkan keutamaan pahala sedekah dengan perhitungan yang cerdas luar biasa. Dan termaktub dalam (QS Al-Baqoroh{2}:261). Dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwa pahala shadaqah itu akan dilipatgandakan menjadi 700 kali. Hitungan itu tenyata tak sekedar berhitung ala matematis dunia. Menurut kebiasaan dari penggunaan kata tujuh yang terdapat dalam Alquran, kata 700 pada ayat tersebut bukanlah sekedar menunjukkan makna sebuah bilangan antara 699 dan 701. Melainkan menunjukkan ungkapan atas banyaknya balasan yang akan diperoleh bagi siapa saja yang gemar shadaqah.
Begitu dahsyatnya shadaqah, hingga Allah juga menggambarkan didalam Al-Qur’an bahwasanya kelak diyaumul hisab, akan muncul golongan orang orang yang merasakan penyesalan, dan memohon agar ditangguhkan ajalnya demi untuk bisa mengulurkan shadaqah di dunia (QS Al-Munafiqun{63}:10) .
Selain daripada itu, shadaqah ternyata menjadi salah satu sarana Allah menyelamatkan seorang hamba dari bencana, dan dari perihnya meregang nyawa. Seperti hadist nabi yang diriwayatkan dari sahabat Anas bin malik.r.a, Rosulullah SAW bersabda ”Sesunngguhnya shadaqah itu meredam murka Allah dan menghindarkan mati dalam keadaaan buruk (su`ul khotimah )”
Sehingga tak mengherankan jika generasi generasi terbaik semasa Rosulullah, sangat bersemangat menggoreskan kisah kisah kedermawanan yang luar biasa. Rosululullah Muhammad SAW sendiripun menjadi teladan sosok paling dermawan sepanjang sejarah. Beliau selalu mendahulukan orang yang membutuhkan. Tidak ada seorangpun yang meminta kepada beliau, melainkan beliau pasti akan memberinya baik sedikit atau banyak. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwasanya , suatu saat beliau bersegera beranjak dari tempat sholatnya, karena teringat sebatang emas yang masih tersimpan dirumahnya, dan belum dishadaqahkan. Sejarah juga mencatat kedermawanan para sahabat. Abu bakar As-sidiq rela menginfakkan seluruh hartanya tanpa sisa, Utsman membeli sebuah sumur untuk keperluan ratusan kaum muslimin, Ibnu Umar tidak bersedia makan, kecuali bersamanya ada anak anak yatim, Fatimah dan Ali terbiasa meninggalkan sesuatu yang disukainya untuk dishadaqahkan kepada orang lain dan juga sederet kedermawanan para sahabat agung yang lain. Mereka menjadikan tangannya begitu ringan terulur untuk berderma. Kisah mereka semoga menjadi inspirasi bagi kita untuk menjadi insan yang ringan untuk menyedekahkan harta kita di jalan-Nya.
Nyalakan Kembali Semangat Membaca.
Nyalakan Kembali Semangat Membaca
*Erny Ratnawati
Membaca adalah gerbang ilmu pengetahuan. Budaya membaca adalah salah
satu elemen terpenting dalam peradaban keilmuan. Sejarah mencatat tinta emas masa kegemilangan Islam berabad silam, tak lepas dari budaya membaca pada saat itu. Pada masa tersebut, Kaum muslim begitu bersemangat untuk membaca dan menelaah ilmu pengetahuan. Kumpulan kitab kitab yang berderet di perpustakaan juga begitu digandrungi untuk dipelajari.Kotakotakaum muslimin seakan menjadikotametropolitan dalam ilmu pengetahuan di segala bidang.
Tak mengherankan, dari sanalah kemudian peradaban Islam mulai merangkak menuju puncak kejayaan. Rahim peradaban cemerlang yang melahirkan para ilmuwan muslim terbaik dunia. Tidak hanya bersinar dilingkup kaum muslimin, namun prestasi para ilmuwan itu telah diakui di tingkat dunia, bahkan mendapat predikat terbaik. Seperti yang telah dikatakan oleh George Sarton bahwasanya sesungguhnya kaum Muslim telah mencapai tugas utama kemanusiaan yang sebenarnya.Yakni menjadi obor pengetahuan di segala bidang.Umat muslim telah mencatatkan goresan sejarah sebagai kontributor terbaik di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Lihat saja, Filosof terbaik, Al-Farabi adalah seorang Muslim. Matematikawan terbaik, Abul Kamil dan Al-Khawarismi adalah Muslim. Bapak kedokteran dunia yaitu Ibnu Sina adalah seorang ulama Muslim. Ahli geography (Ilmu Bumi) dan ensklopedia terbaik, Al-Masudi adalah seorang Muslim. Dan Al-Tabari, ahli sejarah terbaik juga seorang Muslim. Sungguh prestasi yang membanggakan. Bahkan di masa kejayaan itu, bangsa Eropa banyak berbondong bondong belajar pada kaum muslimin hingga berabad lamanya.
Namun, jika kita menarik garis lurus dengan kondisi sekarang, kita seolah
merasa tertampar dengan kenyataan yang ada. Gaung kejayaan Islam berabad silam kian hari kian memudar, seiring menurunnya kualitas dan daya saing kaum muslim di kancah dunia dari waktu ke waktu. Salah satu indikator yang dijadikan acuan untuk mengukur tingkat daya saing tersebut, adalah kemajuan bidang ilmu pengetahuan. Harus kita akui memang saat ini peradaban keilmuan umat Islam jauh tertinggal dari peradaban barat. Kita mungkin tidak ingat kapan terakhir kalinya mendengar nama seorang muslim disebut sebagai pemenang nobel dalam bidang ilmu pengetahuan atau kedokteran, ataupun berapa banyak jumlah publikasi ilmiah dan paten teknologi yang ditelurkan dari tangan seorang muslim. Mungkin ada, namun yang pasti tidak banyak jumlahnya.
Kondisi ini tentu memprihatinkan, apalagi jika kita menilik bahwa Islam sendiri adalah agama yang sangat mendorong pemeluknya untuk belajar ilmu pengetahuan. Al- Qur’an sebagai kitab sakral umat Islam bahkan dikatakan sebagai ensikopledi ilmu pengetahuan yang luar biasa. Ayat ayat kauliyah Allah didalam Al- Qur’an banyak terbuktikan kebenarannya secara ilmiah. Al- Qur’an juga bahkan disebut sebut sebagai sumber inspirasi penemuan penemuan manusia di berbagai bidang ilmu pengetahuan. Disamping itu, kaum muslim sebenarnya juga memilki harta karun berharga, yakni kitab kitab para ilmuwan besar muslim sebagai rujukan dan sumber ilmiah pengetahuan. Semisal kitab Qanun fi Thib, salah satu dari karya Ibnu Sina yang ditulis dalam bentuk ensiklopedis menyangkut pengobatan dan obat-obatan. Kitab ini dijadikan rujukan di dunia kedokteran selama berabad lamanya, atau karya Aljabar paling monumental berjudul al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah buah pikiran Al- Khawarizmi dan sederet karya luar biasa lainnya.
Namun sayangnya, hal hal tersebut nampaknya kurang begitu tergali dan termanfaatkan oleh kaum muslim. Yang lebih disayangkan lagi justru orang orang non-muslim (baca: barat) lah yang gencar untuk mengambil ilmu dari para ilmuwan tersebut. Walhasil, tak mengherankan jika dunia mungkin lebih banyak mengenal para ilmuwan Eropa dan Amerika sebagai tokoh ilmu pengetahuan yang mumpuni dibandingkan dengan deretan nama tokoh muslim. Kondisi ini terjadi, tidak lain tidak bukan, karena memang kaum muslim belum banyak mengambil peran disana. Kita seakan masih saja menjadi penonton di papan percaturan ilmu pengetahuan dunia. Hal ini membuat kredibilitas dan bargaining position kaum muslim di bidang ilmu pengetahuan kurang cukup diperhitungkan.
Kaum Muslim ‘Lupa’ Membaca
Jika mau untuk kembali merefleksi diri, Salah satu hal yang ditengarai menjadi titik kunci terjadinya degradasi tersebut diatas adalah fenomena Kaum Muslim‘Lupa’Membaca.
Fakta berbicara bahwa budaya baca bangsa-bangsa muslim ternyata berada jauh di bawah bangsa bangsa barat. Hal ini dapat dilihat dari budaya literasi bangsa muslim yang masih timpang. Sebuah publikasi yang baru saja diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengemukakan bahwa dunia Arab yang terdiri dari 22 negara muslim hanya mampu menerjemahkan sekitar 330 buku per tahun. Angka itu sangat menyedihkan karena hanya seperlima dari jumlah buku-buku yang mampu diterjemahkan oleh sebuah negara kecil seperti Yunani dalam setahunnya. Bahkan Spanyol mampu menerjemahkan rata-rata 100.000 buku setiap tahunnya(Mashudi Antoro,2010). Di Negara muslim lain seperti Indonesia yang berpredikat Negara berpenduduk muslim terbesar, jumlah buku baru yang terbit di negeri ini hanya berkisar 8000 judul/tahun, jumlah yang sangat minim jika dibandingkan dengan Vietnam dengan jumlah 45.000 judul/tahun dan Inggris yang menerbitkan 100.000 judul/tahun. Jumlah judul buku baru yang ditulis, dan diterbitkan, kemudian dibaca oleh sebuah masyarakat menunjukkan kapasitas mayoritas rakyat bangsa tersebut untuk melahirkan gagasan-gagasan baru yang didapat dari aktivitas membaca (Sudarwoto, 2009). Cukup memprihatinkan realita tersebut, apalagi jika mengingat perintah yang Allah pertama kali justru adalah perintah untuk membaca. Hal ini patut menjadi introspeksi bersama.
Jika ditelisik kembali dari urgensinya, membaca adalah aktivitas yang sangat bermanfaat karena membaca adalah pintu pertama dibukakannya ilmu pengetahuan. Tak heran,budaya membaca dikatakan selalu berbanding linier dengan kualitas kecerdasan dan peradaban suatu bangsa. Demikian juga salah satu faktor suatu bangsa dikatakan maju juga tak lepas diukur dari tingginya minat baca masyarakatnya.
Sedangkan ditinjau dari segi kebermanfaatan, dalam buku Mustika Ilmu dan Pengobatan Jiwa karya Mashudi Antoro disebutkan bahwa membaca dapat mendorong seseorang terstimulus untuk berinovasi dan produktif dengan banyak ide segar dan gagasan yang baru, selain juga dapat mematangkan mematangkan kemampuan seseorang dalam mencari atau memproses ilmu pengetahuan. Mengetahui apa saja yang belum ia ketahui secara detail, dan mampu digunakan untuk mempelajari bidang-bidang pengetahuan yang berbeda secara bersamaan. Bagi kaum muslim sendiri, membaca dapat digunakan sebagai salah satu upaya untuk kembali menggali dan menemukan warisan ilmu ulama yang merupakan tambang emas yang begitu berharga.
Akan tetapi sayang sekali, menilik data tentang realita budaya baca kaum muslim yang penulis paparkan di awal, kita memang patut untuk prihatin. Namun, jika berhenti di batas keprihatinan belaka, maka kondisi ini nampaknya akan terus berlarut saja. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa semangat membaca bagi kaum muslimin sudah seharusnya kembali dinyalakan. Semangat itu tentu pada awalnya harus tersematkan terlebih dahulu di masing masing muslim secara pribadi, karena inti perubahan sejati adalah dimulai dari diri sendiri. Dari kesadaran personal tersebut diharapkan akan tumbuh menuju kepada kesadaran kolektif. Ketika telah tercipta kesadaran secara berjamaah,kesadaran ini akan menggerakkan sebuah kebiasaan menjadi jamak dilakukan. Dari kebiasaan masyarakat yang sering dan berulang ulang dilakukan tersebut yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah budaya.
Budaya membaca bagi kaum muslim memang sudah selayaknya segera kembali
digalakkan. Karena darisanalah produktivitas karya akan banyak dilahirkan. Dari produktivitas itulah, kaum muslim dapat membuktikan di mata dunia, bahwa mereka mampu kembali membawa gemilang nama Islam melalui torehan karya dan prestasi yang luar biasa. Mengulang kembali sejarah, bukan hal yang mustahil kiranya jika umat muslim mau bangkit dari keterpurukan dan keterbelakangan. Dan semuanya itu dapat diawali dari satu langkah sederhana. Nyalakan kembali semangat membaca kaum muslim dunia.
Wawwllahu ‘alam bisshowab
Detak semangat mereka tak kenal kata mati
#1.Catatan inspirasi
Bismillahirrohmanirrohim
Detak semangat mereka tak kenal kata mati
Setengah jam membaca beberapa biografi singkat para imam besar dan ulama yang luar biasa itu memang terasa sangat menggetarkan hati. Saya selalu berdecak kagum dengan mereka yang seolah detak semangatnya tak pernah kenal kata mati
Meski harus terkungkung dengan kehidupan di dalam penjara yang pengab nan sesak, tak pernah menyurutkan mereka untuk menorehkan tinta tinta kebaikan. Mereka tetap membaca dan menulis,dan terus melakukannya bahkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan sekalipun. Dari tangan tangan mulia itulah kemudian lahir karya karya fenomenal yang mengguncang dunia.
Imam Ibnu Taimiyah – seorang ulama besar pengusung panji kebenaran dan ketakwaan itu mampu menyelesaikan beberapa karyanya di dalam penjara. Ketika penguasa dzalim menyingkirkan penanya, beliau tetap menulis walaupun dengan menggunakan arang. Kitab Majmu Fatawa yang sangat tebal itu, ternyata sebagian besar ditulis ketika beliau berada dalam penjara.
Sayyid Quthb mampu menuliskan karya terbesarnya, Tafsir Fizhilalil Quran, ketika dalam keadaan terhimpit penderitaan. Di siksa dalam penjara lantas dihukum mati. Di dalam penjara itu juga, beliau menulis sebuah buku kecil yang saat itu disebut sebut sebagai buku the best of best seller di Timur Tengah dan paling ditakuti pemerintahan otoriter, yaitu Ma’allim fith Thariq.
Prof. HAMKA, sosok ulama Nusantara yang senantiasa konsisten di jalan Allah itu, mampu menyelesaikan kitab tafsirnya yang paling fenomenal dan berjilid-jilid tebalnya, Tafsir al-Azhar, juga ketika beliau berada di dalam penjara.
Dr. Yusuf al-Qaradhawi – ulama terkemuka saat ini – dengan terpaksa harus berhijrah dari Mesir keQatarkarena pemerintah otoriter Mesir saat itu memburu para aktivis Islam dan menjebloskannya ke dalam penjara. Namun, disanabeliau mampu menyusun kitab Fiqh Zakat, yang menurut Abul A’la Maududi merupakan kitab yang paling bagus pada abad ke-20.
Dr. Aidh al-Qarni pernah di penjara pula karena pernyataan-pernyataan politik yang ditulisnya dalam sebuah syair. Namun disanabeliau menghabiskan waktu untuk membaca, merenung dan menulis hingga mampu menelurkan karya fenomenal. Karyanya La Tahzan, telah memukau jiwa dan mengguncang dunia. Buku itu kini telah dicetak lebih dari dua juta eksemplar di seantero dunia. Beliau juga dianugerahi penghargaan pemerintah Arab Saudi sebagai penulis paling produktif di Arab Saudi.
Saya hanya bisa geleng geleng saja, api semangat seolah berkobar lagi. Tak sabar menanti esok untuk kembali melanjutkan membaca kisah kisah lain yang tak kalah luar biasa.
Alhamdulillahirobbil ‘alamin.
SawahKarang, Senin(25/7/011) pukul 23.13 WIB
Ngobrol Asyik Bareng Penulis Muda FLP SOLO
Setelah sekian lama , saya sadar sekeping perjalanan iti terlalu asyik jika tidak didokumentasikan. Check it Out!
Ngobrol Asyik Bareng Penulis Muda FLP SOLO
Ahad,10 Juli 2011 hari yang begitu menggugah. Alhamdulillah saya
didaulat menjadi salah satu pembicara di acara Ngobrol Asyik dan Santai (NGOBRAS) bareng penulis muda FLP solo raya di Islamic Book Fair Goro Assalam. Ngobras kali ini saya taksendiri, saya ditemani tiga orang pembicara lain (mb.tiko, mb.nungma dan mbak dity) dipandu mbak ham ham dari FLP IAIN. Worskhop interaktif ini berjalan begitu seru. Suport teman teman FLP Solo yang datang menambah spirit kita untuk saling berbagi ilmu. Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh mbak ham ham yang gaul abiss, diantaranya tentang motivasi mengapa menulis, cara memanajemen waktu untuk menulis dan karya yang telah dihasilkan. Alhamdulillah tsumma alhamdullillah semua berjalan lancar hingga akhir acara. Saya sendiri merangkum beberapa catatan penting di note saya, memang saya telah berazzam untuk tak menyiakan setiap keping belajar entah darimana saja dan kapan saja. Sembari duduk didepan, saya mencatat berbagai macam inspirasi dan ilmu yang sungguh luar biasa yang saya dapatkan entah dari teman teman saya atau dari pertanyaan peserta. Diantaranya seperti menulis itu dapat dimotivasi dengan niatan ibadah. Karena itu visi terbesar hidup manusia. Selain itu menulis adalah meninggalkan jejak kebaikan, dan juga menjadikan tiap hurufnya menjadi dzarroh kebaikan, mendokumentasikan hidup serta bonusnya menulis itu membuat cerdas, sehat sekaligus kaya dan awet muda ( He He He)
Di akhir sessi, tiap pembicara mencoba memaparkan karya-karyanya dan manfaat yang telah dirasakan selama berproses gigih dari penulis pemula hingga tlah menghasilkan karya. Dari ada yang menyerahkan royalty buku pertama ke orang tua, sederetan buku yang dihasilkan, duet nulis bareng penulis ternama, karyanya yang sering nongol di media , bayar kuliah sendiri dengan honor menulis dan sebagainya.
Di acara itu, saya juga dipaksa untuk baca puisi. Puisi saya yang bertema ramadhan yang berjumlah tiga lembar setengah, tapi hanya satu lembar yang saya bacakan. Sebuah puisi berjudul “bisik Malaikat mengejakan ramdhan’ berisi sindiran tentang protes malaikat atas aktivitas di bulan ramadhn yang melenakan, justru disenangi banyak orang. Missal bangun bada subuh atau terlalu panjang tidur siang dan lain-lain. Itu menjadi pengingat bagi diri saya sendiri untuk kelak lebih produktif mengisi ramadhan.
Acara dilanjutkan Tanya jawab. peserta yang bertanya masing masing bertanya tentang proses kreatif non fiksi, dan menggairahkan minat menulis sejak dini. Jawabanya antara lain secara singkat; proses kreatif dimulai dari melihat sikon dan sasaran. Sedangkan untuk minat menulis dapat ditumbuhkan dengan fun activity dan motivasi .
Kemudian acara ini ditutup dan dilanjutkan foto foto bersama teman teman flp solo.
Saya melanjutkan keliling stand buku, seusai sholat magrib. Ada Kejadian unik; saat saya berputar stan. Tiba di indiva, seorang mbak mbak berjilbab dengan senyum manis plus merayu meminta kertas puisi saya. Sudah dech, kertas yang telah lecek terlipat lipat itu akhirnya saya kasihkan dengan senyuman juga. Semoga bermanfaat ya mbak.. he he
Sekian . thanks for Allah for this chance. Semoga akan bermanfaat
Menderet huruf huruf, mengukir jejak hidup, mendokumentasikan kepingan mozaik journey of my life
TERUS SEMANGAT BERPROSES MENGGORES KEPINGAN KEBAIKAN

